Home » , » Asuhan keperawatan pada pasien Fraktur

Asuhan keperawatan pada pasien Fraktur


BAB I
KONSEP DASAR
A.    Konsep Dasar Medis

1.   Definisi
    Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. (Sylvia A Prince, 1994)
Fraktur adalah hilangnya / terputusnya kontinuitas jaringan tulang. (Brunner & Sudarth, 1996)
Fraktur adalah terputusnya tulang. Istilah-istilah yang yang digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis fraktur antara lain adalah
a.    Fraktur Komplit yaitu fraktur yang mengenai suatu tulang secara keseluruhan.
b.    Fraktur Inkomplit yaitu fraktur yang meluas secara parsial pada suatu tulang.
c.    Fraktur Sederhana (tertutup) yaitu fraktur yang  tidak menyebabkan robeknya kulit.
d.    Fraktur Compaind (terbuka) yaitu fraktur yang menyebabkan robeknya kulit. (Corwin S Elisabeth, 2000).

2.   Etiologi
    Penyebab fraktur dapat dipakai untuk menjelaskan istilah yang berkaitan dengan fraktur / patah tulang,diantaranya :
a.    Trauma, terutama pada anak-anak dan dewasa muda.
b.    Patologis,sering dijumpai pada orang tua yang mengidap osteoporosis, tumor, infeksi dan penyakit lainnya.
c.    Kelelahan / peningkatan dratis tingkat latihan pada seorang atlet / pada permulaan aktifitas fisik baru. (Sylvia A Prince, 1994).

3.   Patofisiologi
    Fraktur  / patah tulang disebabkan oleh trauma / tenaga fisik,factor patologis ataupun kelelahan. Kekuatan dan sudut dari trauma akan berpengaruh pada seberapa berat dan ringannya fraktur itu sendiri.
Pada saat terjadi patah tulang,sel-sel tulang menjadi mati. Perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patah tulang dan dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak akan mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai  Di tempat fraktur akan terbentuk bekuan fibrin (hematom fraktur) dan berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel baru.
    Aktifitas osteoblas segera terangsang dan terbentuk tulang baru yang imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin direabsorpsi dan sel-sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati.Tulang sejati menggantikan kalus dan secara berelahan mengalami kalsifikasi.
    Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan (pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat terganggu atau terlambat apabila hematom fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk atau apabila sel-sel tulang baru rusak selama proses kalsifikasi dan pengerasan.

4.   Pathway






                                     


        
           



     


                          















4.    Manifestasi Klinis
a.    Nyeri.
Patah tulang traumatic dan cidera jaringan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah patah tulang dapat timbul spasme otot yang menambah rasa nyeri.
Pada fraktur stress nyeri biasanya timbul pada waktu aktifitas dan hilang saat istirahat.
Fraktur patologis mungkin tidak disertai nyeri.
b.    Perubahan posisi / dislokasi.
Tampak jelas posisi tulang atau ekstremitas yang tidak alami.
c.    Bengkak
Pembengkakan di sekitar fraktur sebagai reaksi  proses peradangan.
d.    Gangguan sensasi atau rasa kesemutan.
Gangguan sensasi / rasa kesemutan mengisyaratkan adanya kerusakan saraf. Denyut nadi di bagian distal fraktur harus utuh atau setara dengan bagian non fraktur. Hilangnya denyutan nadi di sebelah distal mungkin mengisyaratkan syok kompartemen.
e.    Krepitus.
Krepitus / suara gemeretak dapat terdengan sewaktu tulang digerakan akibat pergeseran ujung tulang patahan dari tulang yang satu dengan tulang yang lain.

5.    Pemeriksaan Penunjang.
a.    Pemeriksaan sinar X dapat membuktikan adanya fraktur.
b.    Scan tulang dapat membuktikan adanya fraktur stress.

6.     Penatalaksanaan / Terapi
Penanganan Patah tulang meliputi :
a.    Imobilisasi agar hematom fraktur dapat terbentuk dan untuk memperkecil kerusakan.
b.    Penyambungan kembali tulang (reduksi) agar posisi dan rentang gerak normal / pulih.
Sebagian besar reduksi dapat dilakukan tanpa intervensi bedah (reduksi tertutup). Apabila diperlukan tindakan bedah untuk fiksasi (reduksi terbuka) dapat dipasang pen atau sekrup untuk mempertahankan sambungan. Mungkin diperlukan traksi untuk mempertahankan reduksi dan merangsang penyembuhan.
c.    Imobilisasi jangka panjang setelah reduksi agar kalus dan tulang baru dapat terbentuk. Imobilisasi jangka panjang biasanya dilakukan dengan gips atau penggunaan pelat / pen.

B.    Konsep Dasar Keperawatan

1.     Pengkajian
a . Riwayat Trauma
1). Kekuatan dan sudut trauma terhadap tempat paparan.
2). Lokasi trauma / fraktur.
3). Jenis / bentuk fraktur (terbuka atau tertutup).
b . Riwayat Patologis.
     Adanya tumor primer / tulang atau tumor metastase.
c . Pola Nutrisi
Kekurangan kalsium dan Vitamin D dapat mempermudah terjadinya patah tulang.
d .  Pola Aktifitas.
Aktifitas yang berlebihan tanpa diawali dengan pemanasan dapat  menyebabkan fraktur stress.
e .  Pengetahuan klien.
      Pengetahuan klien terkait dengan :
1).   Proses penyembuhan patah tulang.
2). Imobilisasi dan mobilitas dalam proses penyembuhan / pemulihan.
3).   Mengatasi komplikasi akibat imobilisasi jangka panjang.
f .   Pemeriksaan Fisik
1).   Anamnesa :  adanya nyeri di lokasi terjadinya trauma / fraktur.
2).   Inspeksi :  bengkak,pergeseran / perubahan bentuk / lokasi pada daerah trauma / fraktur.
3).    Palpasi :  adanya pembengkakan dan nyeri tekan.
    Denyut nadi di bagian distal fraktur harus utuh dan setara     dengan bagian non fraktur.

 2.        Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa yang mungkin muncul adalah sbb:
a.    Nyeri akut berhubungan dengan pergerakan fragmen tulang dan peradangan ( fraktur )
b.    Gangguan perfusi berhubungan dengan kurangnya aliran darah akibat adanya trauma jaringan / tulang.
c.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka fraktur terbuka.
d.    Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Kematian sel - sel tulang.
e.    Kurang pengetahuan tentang pembatasan aktifitas dan perawatan luka berhubungan dengan kurangnya informasi.


3.       Fokus Intervensi

NO    DIAGNOSIS KEPERAWATAN    TUJUAN/KRITERIA    RENCANA TINDAKAN

1.   
Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan geseran / pergerakan fragmen tulang.

Data penunjang:
-    Nyeri saat digunakan.
-    Bengkak pada lokasi fraktur.
-    Spasme otot.

     
Gangguan rasa nyaman dapat diatasi.

Kriteria:
-    Pasien tidak mengeluh nyeri.
-    Pembengkakan hilang / berkurang.
-    Otot relaksasi.
   
-    Kaji keadaan nyeri  yang meliputi lokasi, intensitas, lama nyeri dll.
-    Batasi pergerakan pada daerah fraktur, pasien harus bed rest.
-    Tinggikan dan sokong ekstremitas yang mengalami fraktur
-    Hindarkan penggunaan sprei plastik atau laken karet, bantal karet dibawah ekstrimitas / lokasi pemasangan gips
-    Observasi perubahan tanda vital
-    Berikan alternatif perubahan posisi secara periodik
-    Ajarkan pasien teknik relaksasi nafas dalam dan teknik distraksi untuk mengurangi rasa sakit
-    Berikan penjelasan pada pasien setiap prosedur yang akan dilakukan
-    Kerjasama dengan tim kesehatan
•    Pemberian obat analgetik

2.    Gangguan perfusi perifer berhubungan dengan berkurangnya aliran darah akibat
adanya trauma jaringan / tulang

Data penunjang:
-    Daerah perifer pucat / sianosis
-    Pengisian kapiler daerah yang trauma > 5 detik
-    Daerah perifer dingin
      Perfusi perifer dapat dipertahankan


Kriteria:
-    HR 60-100 X permenit
-    Kulit hangat sensori normal
-    Sistolik 100-140 mmHg
-    Diastolik 60-90 mmHg
-    RR 16-24 x per menit
-    Urine output 30-50 cc perjam
-    Pengisian kapiler 3-5 detik
    -    Lepaskan perhiasan yang ada pada tungkai dan lengan yang dapat menghambat suplai darah.
-   
-    Observasi ada / tidak kualitas nadi perifer dan bandingkan dengan pulses normal.
-    Observasi pengisian kapiler, warna kulit dan kehangatannya pada bagian distal daerah yang fraktur
-    Kaji adanya gangguan perubahan motorik / sensorik. Anjurkan pasien untuk mengatakan adanya rasa sakit / tidak nyaman
-    Observasi posisi dan lokasi bidai
-    Observasi traksi jangan sampai terlalu menekan syaraf dan pembuluh darah
-    Pertahankan posisi daerah yang fraktur lebih tinggi kecuali bila ada  kontra indikasi untuk meningkatkan aliran darah dan mengurangi edema
-    Kaji bila ada edema dan pembengkakan ekstremitas yang fraktur
-    Observasi adanya tanda-tanda ichemik daerah tungkai seperti : penurunan suhu, dingin dan peningkatan rasa sakit
-    Dorong pasien untuk melakukan mobilisasi secepatnya sesuai indikasi untuk meningkatkan sirkulasi, mengurangi terjadinya trembus terutama pada ekstremitas bagian bawah
-   
-    Observasi tanda vital, catat dan laporkan bila ada gejala sianosis dingin pada kulit, dan gejala perubahan status mental
-    Kerjasama dengan tim kesehatan :
•    pemberian Hb/Ht
•    Pemberian cairan parental, transfusi darah bila perlu
•    Pemberian obat-obat anti emboli
•    Persiapkan operasi jika perlu.
4.    Gangguan mobilitas  fisik berhubungan dengan kematian sel- sel tulang

Data penunjang:
-    Pasien tampak terbatas dalam melakukan pergerakan.    Gangguan mobilitas fisik dapat diatasi.

Kriteria:
-    Pasien dapat melakukan aktifitas sehari-hari.
-    Pasien dapat menggunakan protese sebagai pengganti anggota gerak yang diamputasi.    -    Berikan informasi dan support pasien untuk menggunakan alat bantu.
-    Dorong pasien melakukan mobilisasi sedini mungkin sesuai kondisi.
-    Anjurkan pasien berbaring dengan posisi prone dengan bantal di bawah perut untuk melatih otot fleksi dan mencegah kontraktur.
-    Kerjasama dengan tim kesehatan:
•    Rujuk ke fisioterapi.
 
4.     Kurangnya pengetahuan tentang pembatasan aktifitas
dan perawatan luka sehubungan dengan kurangnya informasi.


Data penunjang:
-    Pasien menyatakan belum memahami tentang aktifitas yang boleh / tidak boleh dilakukan.

-    Pasien tampak kurang kooperatif dalam program mobilisasi.    Pengetahuan pasien tentang mobilisasi dan perawatan di rumah meningkat.
Kriteria:
-    Pasien menyatakan telah memahami tentang mobilisasi dan cara perawatan di rumah.



-    Pasien dapat mengulangi kembali secara sederhana tentang hal-hal yang telah dijelaskan.
-    Pasien dapat mendemonstrasikan kembali latihan mobilisasi yang telah diajarkan.
-    Pasien kooperatif dalam program mobilisasi.    -    Berikan penjelasan tentang latihan yang harus dilakukan.
-    Demonstrasikan cara latihan mobilisasi aktif.
-    Anjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi aktif dengan menggerakkan persendian pada bagian bawah dari daerah yang fraktur.





-    Diskusikan dengan pasien tentang gejala dan tanda abnormal yang timbul selama perawatan dan anjurkan pasien segera melapor kepada perawat / dokter yang bertugas. Gejala-gejala yang harus diobservasi:
Adanya rasa sakit yang semakin bertambah, perasaan dingin, adanya bau yang tidak enak dari daerah luka, dan perubahan sensasi.
-    Diskusikan tentang pentingnya pasien kontrol secara teratur ke poliklinik sesuai perjanjian.
-    Jelaskan pada pasien tentang rehabilitasi yang boleh dilakukan di rumah sesuai kondisi dan kemampuan pasien.









DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Sudarth, 1996,  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah  
              Edisi 8, Jakarta.

Corwin S Elisabeth, 2000,  Buku Saku Patofisiologi, Jakarta.

SOP IGD PuskesmasRawat Inap, 2006

Sylvia A Prince, 1994,  Patofisiologi, Jakarta.























Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku