Home » , » ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN MASALAH PENURUNAN TAJAM PENGLIHATAN PADA LANSIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN MASALAH PENURUNAN TAJAM PENGLIHATAN PADA LANSIA


A.    KONSEP DASAR
1.1.    Pengertian
Lansia ( menjadi tua ): suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau menganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang di derita ( Wahjudhi Nugroho, 2000).
1.2.    Tujuan perawatan lansia
a.    agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan sehingga ia dapat memiliki ketenagaan hidup dan tetap produktif sampai akhir hayat
b.    membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup lansia
c.    dapat merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan sedini mungkin
d.    mencari upaya semaksimal mungkin ,agar para lansia yang menderita suatu penyakit / gangguan,  masih dapat m,empertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan ( memelihara kemandirian secara maksimal )
e.    dapat memelihara kondisi kesehatan dengan aktifitas-aktifitas fisik dan mental
f.    bila para lansia sudah tidak dapat tersembuhkan dan bila mereka suda sampai pada stadium terminal, ilmu ini tetap mengajaran untuk memberikan bantuan yang simpatik dan perawatan dengan penuh pengertian ( dalam akhir hidupnya memberikan bantuan moril dan perhatian yang maksimal, sehinggga kematianya berlangsung dengan tenang atau comfor table death.
B.    TINJAUAN TEORI
1.    Pengolongan  Usila
a.    menurut badan kesehatan  sedunia ( WHO ), yang mengatakan lansia dibagi menjadi  3 kategori yaitu :
-    Usia 65 – 74 th disebut usia lanjut muda
-    Usia 75 - 84 th disebut usia lanjut pertengahan
-    Usia 85 + th  disebut usia sangat lanjut
b.    Menurut UU No. 13  tahun 1998
Batasan lansia adalah umur 60 tahun keatas
c.    Menurut Depkes RI, lebih lanjut membuat pengolongan lansia menjadi 3 golongan yaitu :
-    Kelompok lansia dini ( 55-64 th ) yakni kelompok yang baru memasuki lansia
-    Kelompok lansia ( 65- tahun keatas )
-    Kelomok lansia dengan resiko tinggi yakni lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.
d.    Menurut Bernice Neu Garden ( 1975)
-    lansia muda yaitu orang yang berumur diantara 55 - 75 tahun
-    Lansia tua yaitu mereka yang berumur lebih dari 75 tahun
e.     Menurut Levinson ( 1978 )
-    Lansia peralihan awal, antara 50 -  55 tahun
-    Lansia peralihan menengah, antara 55 – 60 tahun
-    Lansia peralihan akhir antara 60 – 65 tahun
2.     Faktor-faktor yang mempengaruhi  penuaan
Menurut Dr. Eoswari, DPH, 1997 hal: 9- 40 bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan adalah :
a.    Hereditas ( keturunan )
Sekelompok ahli geromtologi mengatakan bahwa umur seseorang sudah di tentukan oleh set pembawa keturunan ( sel genetic). Sel genetik itu telah di programkan unruk tahan hidup dalam ewaktu tertentu. Anak kembar yang berasal dari satu trlur biasanya mempunyai umur yang kira-kira sama. Sedangkan anak kembar yang berasal dari dua telur, mempunyai harapan hidup yang berbeda.
b.    Nutrisi ( makanan )
Teori yang mengatakan bahwa makanan mempunya dua peranan dalam proses menua :
-    Kemungkinan ada perubahan yang bersifat fisiologis maupun anatomis dari bagian-bagian makanan yang mengakibatkan kerusakan set-set.
-    Makanan memegang peranan penting dalam penyakit-penyakit yang memmerosotkan alat-alat tubuh yang bisasnya menyerang orang lansia

c.    Status kesehatan
Berbagai penyakit menahun pada organ dalam sehingg dapat  mempercepat proses penuaan pada kulit karena gangguan pada set alat tubuh.misalnya DM( kencing manis ), arterio sklerosis ( dinding pembuluh darah yang kaku dan menyebar).
d.    Pengalam  hidup
Ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang dapat bertahan untuk tetap aktif waaupun sudah pensiun dari jabatan semula, maka hidupnya akan semakin berarti.dengan demikian menurut pandanyan itu, lansia sedapat mungkin haruss bertahan utuk tetap bekerja seakan-akan ia baru berusia setengah baya.agar tetap bugar, lansia diharapkan tetap memiliki kegiatan dan mengantikan peran yang ditinggalkan dengan peran lain.dan ada juga pendapat bahwa lansia lebih berbahagia  apabila selalu berada dalam keadaan tenang dan menikmati keadaan santai
e.    Lingkungan
Faktor ini dapat mempengaruhi perkembangan tubuh kearah yang optimal.faktor ini penting terutama pada masa kanak-kanak anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan merasa aman akan tumbuh lebih baik dari anak yang mendapat gizi yang sama tetapi hidup dalam lingkungan yang tidak nyamam.
f.    Stres
Seseorang yang sering mengalami  sters akan tampak lebih cepat tua. Kesegaran wajah tidak hanya tergantung pada kemudaan usia kulit, akan tetapi pada kesegaran mental pemiliknya.
3.    Teori-teori proses lansia
    Teori biologis
a.    Teori genetik clock
    Teori ini merupkan teori intrinsic yang menjelaskan bahwa di dalam tubuh terdapat jam biologis yang mengatur gen dan menentukan jalanya proses menua,. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak berputar. Jika jam kita berhenti, kita akan meninggal dunia meskipun tampa disertai kecelakaan lingkungan



b.    Teori stres
    Menua terjadi akibat kehilanga sel-sel yang biasanya di gunakan tubuh pada regenerasi jaringan sehingga tidak dapat mempertahankan kesetabilan jaringan 
c.    Teori rusaknya sistem imun tubuh
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasksa  transisi, menyebabkan berkurangnya kemempuan sistem imun tubuh mengenali diri sendiri (self recognition) sehingga dapat menyebabkan sistem imun tubuh mengengap sel dapat mengalami perubahan tersebut sehingga dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel asing dan menghancurkanya.
d.    Teori mutasi somatic
    Menurut hipotesis tersebut, menua disebabkan oleh kesalahan beruntun. Dalam proses transkripsi ( DNA-RNA) maupun dalam proses transaksi ( RNA-protein atau enzim ). Kesalahan tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah sehingga reaksi akan metabolisme yang salah sehingga akan mengurangi fungsi mast sel.
e.    Teori kerusakan akibat radikal bebas
    Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas yang bersifat merusak karena sangat reaktif sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh seperti dalam membran sel semakin lanjut usia maka semakin banyak radikal babas yang terbentuk senhingga proses kerusakan tetap terjadi akhirnya banyak sel yang mati
f.    Teori menua akibat metabolisme
    Pengurangan intake kalori akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur.perpanjang umur karena penurunan jumlah kalori tersebut antara lain disebabkan karena menurunya salah satu proses metabolisme.terjadi proses penurunan pengeluaran hormon merangsang proliferasi sel, misalnya insulin dan hormon pertumbuhan.
    Teori  Sosial
a.    Teori interaksi sosial
    Teori ini menjelaskan mengapa lanjut usia bertindak pada suatu situasi tertentu. Menurut SIMON ( 1945 )  kemampuan lansia untuk terus menjalin interaksi sosial merupakan kunci mempertahankan status sosialnya atas dasar kemampuanya untuk melakukan tukar-menukar pada usila karena kekuasaan dan prestisenya berkurang akan mengakibatkan interaksi sosial mereka berkurang juga.
b.    Teori pembebasan (disengagement theory)
    Putus hubungan atau pergaulan seseorang demngan orang lain pada lingkungan sosial sehingga individu dianjuarkan untuk menarik perananya di tempat bekerja
c.    Teori aktivitas
    Teori ini dikembangkan oleh PALMORE (1965) yang mengatakan bahwa penuaan yang sukses tergantung dari bagaimana seorang manusia merasakan kepuasan dalam melakukan aktivitas dan mmpertahankan aktivitas tersebut selama meungkin adapun kualitas aktivitas tersebut lebih penting di bandingkan kuantitas aktivitas.
d.    Teori penarikan diri
    Kemiskinan akan meurunkan derajat kesehatan sehingga mengakibatkan seorang lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan
e.    Teori kesinambungan
    Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan lansia, dengan demikian pengalaman hidup seseorang pada suatu saat  merupakan gambaran kelak pada saat lansia.
f.    Teori perkembangan
    Teori Psikologis
a.    Manusia memerlukan kehidupan dasar meliputi
-    Kebutuhan biologi, psikologi, kenyamanan
-    Kebutuhan untuk memiliki
-    Kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri
b.    Teori Jung
        Perkembangan yang tidak dilalui ada masa kanak – kanak akan terulang pada masa usila.
4.    Perubahan yang terjadi pada usila.
a.    Perubahan-perubahan fisik
    Sistem persyarafan
-    Cepatnya menurun hubungan persyarafan
-    Lambat dalam merespon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan sters
-    Mengecilnya syaraf panca indra yaitu: berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, menecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin
-    Kurang sensitif terhadap sentuhan
    Sistem pendengaran
-    Hilangnya kemampuan ( daya ) pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi/ suara
-    Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otos sklerosis
-    Terjadinya  pengumpulan cerumam/ peningkatan ceruman
    Sistem penglihatan
-    sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar
-    kornea lebih berbentuk sferis ( bola)
-    kekeruhan pada lensa
-    meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhada kegellapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap
-    hilangnya daya akomodasi
-    Menurunya laagan andang
-    Menurunya daya membedakan warna biru atau hihau pada skala
    Sistem cardio vasculer
-    katup jantung menebal dan menjadi lebih kaku
-    kehilangan elastisitas/ menurunya elastisitas pembuluh darah
-    kemampuan jantung mermompa darah menurun 1 % setip tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunya kontraksi dan volumenya
-    tekanan darah meningkat yang diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah periver
    Sistem Respirasi
-    otot pernafasan  kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
-    menurunya aktivitas dari silia
-    paru kehilangan elastisitas
-    kemampuan untuk batuk berkurang atau menurun
-    ukuran dari alveoli melebar dari biasa  dan jumlah berkurang
-    oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg
-    Carbondi Oksida pada arteri tidak berganti
    Siastem Gastro interstinal
-    kehilangan gigi yang disebabkan oleh kesehatan gigi yang  buruk dan gizi buruk
-    indra engecap menurun
-     pada lambung menyebabkab rasa lapar meurun, asam lambung menurun
-    biasanya timbul konstipasi
-    fungsi absorpsi menurun atau melemah
-    liver makin mengcil dan menurunkan tempat penyimpanan berkurangnya cairan darah
-    pristaltik usus menurun
-    esofagus melebar
    Sistem Genito urinaria
-    ginjal mengecil dan nephron menjadi atropi aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan meng konsentrasi urin, berat jenis urin menurun, proteinuria, BUN menngkat sampai 21 mg %, nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
-    Kandung kemih otot-otot  menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, Vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lansia sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin
-    Pembesaran kelenjar prostat kurang lebih 75% dialami pria di atas 65 th
-    Daya seksual orang yang makin menua masih membutuhkannya
    Sisitem endokrin
-    produksi semua hormon menurun
-    menuruny aktivitas tiroid dan daya pertukaran zat
-    produksi hormon ( ACTH,TSH, FSH, dan LH )menurun
-    menurunny roduksi aldosteron

    Sistem integumen
-    kulit mngerut akibat kehilangan jaringan lemak
-    kulit kepala dan rambut mnippis  berwarna kelabu
-    rambut dalam telina dan hidung mnebal
-    kuku jari menjadi keras dan rapu
-    kuku kaki tumbuh secara berlebuhan
-    kelenjar keringat berkurang jumahnya  dan fungsinya
    Sistem muskulus skeletal
-    tulang kehianga cairan dan makin rapuh
-    kifosis
-    ersendian membesar dan menjadi kaku
-    atrofi serabut otot-otot
b.    perubahan –perubahan mental
    Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
-    perubahan fisik, khususnya organ perasa
-    kesehatan umum
-    tingkat pendidikan
-    keturunan
-    lingkungan
    kenangan ( memory)
-    kenangan janga panjang : berjam-jam sampai berhari-harin yang lalu mncakup bberapa perubahan
-    kenangan jangka pendek atau seketika
0 – 10 menit kenangan buruk
    IQ ( Intelegentia Quation)
-    tidak berubah dengan nformasi matematika dan perkataan verbal
-    berkurangnya penampilan, persepsi dan keterampila  psikomotor: terjadi perubahan pada daya mebayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor waktu
c.    Perubahan –perubahan  psikososial
1.    Pensiun : nilai seseorang sering di ukur oleh produktivitas dan identitasnya yang di kaitkan dengan peran pekerjaan
2.    Merasakan atau sadar akankematian
3.    Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit
4.    Ekonmi akibat pemberhentian dari jabatan : meningkatnya biaya hidup karena penghasilan yang sulit bertambahnya biaya pengobatan
5.    Penyakit kronis dan ketidak mampuan
6.    Gangguan syaraf panca indra timul kebutaan dan ketulian
7.    Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan
8.    Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubugan dengan famili  atau teman
9.    Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik; perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri (Wahjudi Nugroho, 2000)



























BAB II
ASUHA KEPERAWATAN PADA USIA LANJUT

I.    PENGKAJIAN
a.    Identitas  penderita
meliputi: nama, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, agama, tanggal masuk panti, jenis kelamin.
b.    Gangguan yang terdapat pada usia lancut
Menelan , gigi, kominikasi, nyeri, dan lain-lain
c.    Perasaan hati, kesadaran
Bermusuhan, gangguan tidur,dll
d.    Riwayat tentang problem utama berarti
Pernah strok , batuk, dimensia, patah tulang.
e.    Kebiasaan yang meragukan kesehatan
Merokok, alkohol, dll
f.    Penilaian sistem
Penilaian sistem di aksanakan secara urut mulai dari sistem persarafan sampai dengan sisten muskulos skeletal
g.    Riwayat pengobatan
Baik sebelum sakit, obat yang diminum, baik dari resep dokter atau dari beli bebas( termasuk jamu-jamuan)
h.    Pemeriksaan fungsi
-    aktivitas hidup sehari-hari ( AHS dasar) yang hanya memerlukan kemampuan tubuh untuk berfungsi sederhana, misalnya tidur, barpakaian, mandi/WC
-    aktivitas sehari-hari (AHS instrumental) selain melakukan kemampuan dasar juga memerlukan berbagai koordinasi kemempuan otot, susunan syaraf yang lebih juga berbagai kemampuan organ kognitif lain.
-    Kemampuan mental  dan kognitif terutama menyangkut fungsi intelegensi, memori lama dan memori tentang hal-hal yang baru terjadi.
II.    Diagnosa keperawatan
1.    Potensial jatuh b/d penurunan ketajaman kelihatan
2.    Intoleransi aktivitas b/d ketidak seimbangan suplai oksigen , kelemahan
3.    Resiko tinggi ifeksi b/d keadaan nutrisi keadaan imunitas tubuh
4.    Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri dan kerusakan muskulus skeletal
5.    kurang perawatan diri mandi, berpakaian dan pada eksteremitas bawah b/d nyeri dan berpanjangan ketidak bergerakan
III.    Intervensi keperawatan
1.    Potensial jatuh  b/d penurunan ketajaman penglihatan
Tujuan : klien tidak jatuh
Intervensi :
a.    Ciptakan lingkungan yang aman
-    tempat tidur dalam posisi rendah
-    adanya tempat brtpegangan yang kuat
-    adanya bel
-    penerangan yang cukup
-    sediakan peralatan yang diperlukan
-    sediakan alat bantu jalan yang sesuai
b.    Bantu kllien saat pindah tempat
c.    Ajarkan cara pindah tempat secara aman tampa bantuan
d.    Kaji keadaan rumah untuk faktor yang menghalang/mendukung pada perubahan penglihatan
2.    Intoleransi aktivitas b/d ketidak seimbangan supalai oksigen , kelemahan
Tujuan : - kllien mampu melakukan aktivitas
-    kien tidak lelah
-    klien tidak pusing
-    TTV dalam batas normal
Intervensi :
a.    kaji aktivitas sehari-hari
b.    ajarkan latihan untuk kaki setiap  jam / ROM
c.    ajarkan duduk kurang lebih 3-5 menit sebelum berdiri dan berjalan
d.    peningkatan frekwensi dan jarak aktivitas secara bertahap
3.    Resti infeksi b/d nutrisi, imunitas tubuh
Tujuan : - tidak terjadi infeksi
-    temperatur tubuh normal ( 36- 37 C)
-    tidak terdapat kemerahan , iritasi disekitar luka
-    lekosit normal ( 4500 - 10.00)


Intervensi:
a.    ajarkan untuk meminimalkan kontak dengan patogen
b.    jelaskan perlunya untuk mempertahankan hygiene ( misalkan : mandi setiap hari, perawatan mulut, kaki dan perineal)
c.    kaji mulut dan kerongkongan dengan adanya tanda-tanda infeksi
d.    anjurkan minum 200 cc/hari
e.    upaya perbaikan gizi, diet dengan cukup kalori dan protein
f.    pemberian vitamin dan mineral yang cuup
4.    kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri dan kerusakan muskulus skeletal
Tujuan :
klien akan menjaga pergerakan dalam sepuluh langkah dengan menginakan walker dan akan berpartisipasi dalam meninglatkan program sehari-hari
Intervensi :
a.    konsul dengan fisioterapi untuk program memperkuat otot-otot nya, perkembngn daya tahan tubuh ( kekuatan ) dengan dengan cara mengunakan tangga percobaan dan latihan teratur
b.    mengulangi latihan terapifisik
c.    memberikan umpan balik yang positif untuk pembuatan ulang
d.    ajarkan untuk membuat batasan –batasan tangga yang rendah selama memperkuat parbaikan
5.    Kurang perawatan diri mandi , berpakain dan pada eksteremitas bawah b/d nyeri dan perpanjangan ketidak bergerakan
Tujuan :
Kilen dapat mandi , berpakaian dan membersihkan ekstremitas bagian bawah dengan bantuan alat
Intervensi :
a.    bantu klien dalam menempatkan klien jangka waktu pendek dengan tujuan realistis, konsulkan dengan bantuan terapi untuk pemakain alat khusus
b.    anjurkan klien untuk mrngunakan alat bantu
c.    menyediakan antuan dan mengajarkan keperluan-keperluan perawatan diri
d.    beri umpan balik yang positif untik mengulanginya



IV.    Implementasi
Implementasi yang dimaksud pengelolaan dan terwujutan dari rencana keperawatan meliputi tindakan keperawatan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan atvis dokter dan ketentuan rumah sakit ( Dekes, RI, 1990:23)

V.    Evaluasi
Evalusi merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di tetapkan dan lakukan dengan cara melibatkan  pasien dan sesama tenaga kesehatan (Nasrul Effendi,1995)


























DAFTAR PUSTAKA

1.    Nugroho, Wahyudi, 2000. Keperawatan Gerontik, EGC. Jakarta.
2.    Winoto, Hardy, Dkk, 1999. Panduan Gerontologi, Pustaka Utama Jakarta.
3.    Luecknotte, Annethe Biester, 1995. Pengkajian Gerontologi, EGC, Jakarta.


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku