Home » , » Asuhan keperawatan pada pasien dengan BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA ( BPH )

Asuhan keperawatan pada pasien dengan BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA ( BPH )

LANDASAN TEORI

A.    KONSEP DASAR BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA
1.    Pengertian
a.    Benigna Prostat Hyperplasia adalah pembesaran glandula dan fibromuskular elemen-elemen periuretra menghasilkan pembentukan adonema pada umur 50 tahun. (Rokel P. Andrianto, 1993)
b.    Benigna Prostat Hyperplasia adalah pembesaran prohresif dari glandula prostate disebabkan oleh berbagai variasi dan obstruksi uretra dan aliran urinaria. (Lukman and Soransen, 1994)
c.    Benigna Prostat  Hyperplasia adalah gangguan urologi yang terjadi dimana prostat membesar (kelenjar yang mengelilingi leher kandung kemih pada pria) dimana pembesaran ini dapat menyumbat aliran urine dari kandung kemih. (H. Winter Griffith, 1994).
Dari ketiga pengertian diatas, dapat diambil kesimpulan yaitu Benigna Prostat Hyperplasia adalah pembesaran glandula dan fibromuskuler peri uretal secara progresif sehingga menghasilkan adenoma yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urine, yang umumnya terjadi pada pria dengan usia 50 tahun keatas.
2.    Anatomi dan fisiologi
Secara normal prostate merupakan kelenjar yang terletak dibawah vesika urinaria disekitar uretra bagian atas. Kelenjar prostat kira-kira erukuran sebesar kacang mete/ kenari mengeliling uretra dan terdiri dari kelenjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos. Kelenjar tersebut terletek dibawah kandung kemih, dibelakang simfisis pubis,di depan rectum, disilangi oleh ulretra dan duktus ejakulatorius. Kelenjar prostat terdiri dari sejumlah kelenjar-kelenjar tubular dan jaringan fibromuskuler, keseluruhannya terbungkus dalam kapsula.



Prostat mengeluarkan secret cairan yang bercampur secret dari dari testis, pembesaran prostat akan membendung uertra dan menyebabkan retensi urine. Kelenjar ini terdiri dari 30-50 kelenjar yang terbagi atas 4 lobus yaitu: lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior dan lobus medial.
Kelenjar prostat dapat teraba sebagai benda lunak yang halus dengan pemeriksaan recal. Fungsi kelenjar prostat menambah cairan alkalis pada cairan seminalis berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra dan vagina.
3.    Patoposiologi
Pembesaran prostate disebabkan oleh penambahan jumlah dari sel normal dalam prostate. Karena proses penuaan glandula periuretral menjadi hyperplasia. Pembesran sel adenoma progresif menekan jaringan prostate normal ke kapsula sejati. Kapsula bedah ini, menahan perluasannya dan adenoma cenderung tumbuh ke dalam menuju lumennya. Pembesaran ini juga dapat menimbulkan dorongan sampai basis vesika urinaria sehingga diperlukan penekanan untuk mengosongkan kandung kemih.
Serat-serat muskulusdetrusor beresp[on heprtrofi yang meghasilkan trebekulasi dalam kandung kemih.  Pembentukan kantung keluar dari mukosa diantara berkas otot menghasilkan pembentukan sel-sel dan akhirnya menjadi vertikula kandung kemih. Pada beberapa kasus, jika obstruksi saluran terlalu hebat terjadi dekompensasi kandung kemih. Kandung kemih menjadi struktur yang lemah, berdilatasi dan tidak sanggup berkontraksi secara efektif. Karena terbentuknya sisa urine, maka terdapat peningkatan infeksi dan batu kandung kemih. Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan hidronefrosis, azotemia, retensi progresif bagi air, natrium dan urea bisa menimbulkan edema hebat.
Edema ini di kelirukan dengan edema payah jantung konghesif, klien ini berespon cepat dengan drainase kateter. Deuresis pasca operasi dapat terjadi pada pasien dengan edema hebat dan hidrinefrosis setelah dihilangkan obstruksinya.
Pada awalnya air, elektrolit dan urea serta beban solute lainnya meningkatkan deuresis ini, akhirnya kehilangan cairan yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal untuk konsentrasi serta menahan air dan natrium. Akibat kehilangan ciran dan elektrolit yang berlebihan bisa menghasilkan hypovolemia.
4.    Tanda dan gejala
Tanda dan gejal  yang sering dialami oleh klien dengan BPH adalah rasa seperti terbakar pada waktu kencing, sulit kencing, merasa bahwa kandung kencing tidak dapat dikosongkan dengan sempurna, urine berubah warna menjadi keruh, peningkatan dan seringnya desakan kencing terutama pada malam hari, kadang terdapat panas tinggi, menggigil dan nyeri di daerah pinggang setelah pos operatif, kadang-kadang vesika urinaria dapat dipalpasi sebelumoperasi, retensi akut maupun kronis umum terjasi, hidrinefrosis dan kegagalan ginjal jika terjadi tekanan balik urine dan kencing spontan tak mungkin lagi setelah dioperasi.
5.    Posedur Diagnostik
BPH detegakkan dengan diagnosa pemeriksaan fisik dan laboratorium, cara yang ditempuh dengan cara :
    Pengkajian riwayat seksual
Di sini menentukan sampai dimana kesanggupan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi sampai ejakulasi.
    Rectal granding
Sebaiknya dilakukan dengan buli-buli kosong, karena bila penuh dapat membuat kesalahan.
    Clinical granding
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine. Klien disuruhh miksi sampai selesai, kemudian dimasukkan kateter ke vesika urinaria untuk mengukur berapa sisa urine.
    Harus dilakukan urinalisa untuk protein, gula dan sel-sel.
Diperlukan pemeriksaan elektrolit dan kreatinin serum untuk menyingkirkan azotemia.
    Sistoskopi
Merupakan penyelidikan penting untuk menentukan ada/tidaknya patologi kandung kemih dan uretra yang bisa mengubah terapi.
    Prosedur diagnostic lain :
-    White blood cell
Menunjukkan adanya penurunan system imuno supresan bila nilainya lebih dari 11.000.
-    Cystometrogram
Menunjukkan tekanan dan volume bledder mengalami disfungsi.
-    Cystometry
Mengevaluasi fungsi otot-otot detrusor bledder.
-    UFRD (Urinary Flow Rate Determination)
Mengkaji tingkat dari obstruksi bladder
-    IVP dengan penempatan film
Menunjukkan pengosongan kandung kemih, jenis derajat dari obstruksi, saluran kemih, dan timbulnya riwayat pembesran prostate, penebalan yang abnormal dari otot-otot kandung kemih.
6.    Penatalaksanaan Medis
Anjurkan pada klien untuk ;
    Mengosongkan kandung kemih dengan segera bila dirasakan penuh, jangan di tahan.
    Anjurkan klien tidak banyak minum dalam waktu jangka pendek.
    Anjurkan klienn untuk tidak meminum alcohol karena efek deiretik dengan volume cairan yang ada akan menambah distensi kandung kemih. Penggunaan alcohol akan menambah retensi akut system urinaria.
Cara lain yang digunakan adalah dengan penatalaksanaan bedah. Prosedur pembedahan yang aman dan efektif tersedia secara luas dan memberikan perbaikan obstruksi jangka panjang, antara lain :


☼    Reaksi Trans Uretra (TUR)
Teknik ini sangat berguna pada pria dengan pembesaran prostate relative kecil (ukuran kelenjar 40-60 gram) atau pada orang dengan resiko bedah yang kecil.
☼    Prostatektomi Suprapubic
Indikasi penggunaannya adalah : prostate terlalu besar untuk dilakukan dengan reseksi trasuretral, kandung kemih tidak normal. Sedang kerugiannya adalah : Kesulitan dalam mencapai system abdominal sekitar luka kateter subrapubis, Beberapa pria menunjukkan disfungsi ereksi setelah prosedur ini.
☼    Prostatektomi Retropubic
Dilakukan pada klien dengan kelenjar yang lebih besar dari 50-60 gram, yang mempunyai panggul kaku akibat sendi artritik atau yang kandung kemih relative kecil.
☼    Prosedur lain :
1)    Transsurethral Laser Incision of the Prostat (TULIP)
Prosedur ini menghasilkan perdarahan yang sedikit, tidak memakai irigasi dank lien tidak memerlukan kateter setelah pembedahan.
2)    Transurethral Ballon Dilation of the Prostat (TUDP)
Teknik ini dengan cara invasive dengan memasukkan kateter ke uretra dengan dengan posisi balon antara uretra dan prostate yang menekan glandula yang membesar.
7.    Komplikasi
Sebagian besar klien yang mengalami pembedahan BPH adalah orang tua  dan yang terjadi biasanya berasal dari persoalan medis yang terjadi pasca operasi terutama pembedahan. Yang sering adalah :
    Perdarahan, Infeksi
    Striktur uretra, Absropsi, Ekstravasasi
    Inkontenensia, Kontraktur leher vesika urinaria 
    Impotensi

B.    ASUHAN KEPERAWATAN PADA BPH
I.    Dasar data pengkajian klien
1.    Sirkulasi
Tanda : peningkatan tekanan darah (efek pembesaran ginjal)
2.    Eliminasi
Gejala : penurunan kekuatan/ dorongan aliran urine, tekanan, keragu-raguan dalam berkemih awal, ketidakmampuan untukmengosongkan kandung kemih dengan lengkap, nokturia, disuria, hematuria, duduk untuk berkemih, konstipasi.
Tanda : masa padat dibawa abdomen bawah, nyeri tekan, kandung kemih, hernia ingunalis, hemoroid, pengosongan kandung kemih mengatasi tekanan.
3.    Nutrisi
Gejala : anoreksia, mual muntah, penurunan berat badan
4.    nyeri/ kenyamanan
Gejala : nyeri supra pubis, panggul, atau punggung tajam, kuat, nyeri punggung bawah
5.    Keamanan
Gejala : demam
6.    Seksualitas
Gejala : masalah tentang efek kondisi/ terapi pada kemampuan seksual
II.    Diagnosa keperawatan dengan implementasi
1)    Diagnosa I
Retensi urine akut/ kronik b/d obstruksi mekanik, pembesaran prostate, dekompensasi otot destrusor, ketidak mampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat d/d frekuensi, keragu-raguan, ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, distensi kandung kemih.
Tujuan : Berkemih yang cukup tak teraba distensi kandung kemih, meninjukkanresidu pasca berkemihh kurang dari 50 ml dan tidak adanya tetesan/ kelebihan aliran.
Rencana :
-    Dorong klien untuk berkemih tiap 2-4 jam bila tiba-tiba dirasakan.
Rasional : meminimalkan retensi urine distensi berlebihan pada kandung kemih.
-    Tanyakan klien tentang inkotinensia stress
Rasional : tekanan uretral tinggi menghambat pengosongan kandung kemih atau dapat menghambat berkemih sampai tekanan abdominal meningkat cukup untuk mengeluarkan urine secaara tidak sadar
-    Observsi aliran urine, perhatikan ukuran dan kekuatan
Rasional : berguna untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan intervensi
-    Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih, prhatikan penurunan keluaran urine dan perubahan berat jenis
Rasional : retensi urine meningkat tekanan dalam saluran perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal.
-    Perkusi/ palpasi area suorapibik
Rasional : distensi kandung kemih dirasakan diarea suprapubik
-    Dorong masukan cairan sampai 300 ml sehari, dalam toleransi jantung, bila diindikasikan
Rasional : peningkatan aliran cairan mempertahankan fungsi ginjal dan membersihkan ginjal dan kandung kemih dari pertumbuhan bakteri
-    Berikan/ dorongan kateter lain dan perawtan perineal
Rasional ; menurunkan resiko infeksi asenden
-    Berikan rendam duduk sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan relaksasi otot, penurunan edema dan dapat meningkatkan upaya berkemih.
-    Kolaborasi  berikan obat sesuai indikasi
Rasional : menghilangkan spasme kendung kemih sehubungan dengan iritasi kateter.
-    Ballon uretroplasi/ silatsi transretal prostate
Rasional : inflasi ballon ujung kateter dalam area terobstruksi mengubah letak jaringan prostate sehinggga memperbaiki aliran urine.
2)    Diagnosa II
Nyeri akut b/d iritasi mukosa, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria, terapi radiasi d/d keluahn nyeri, penyempitan focus, perubahan tonus otot, meringis, perilaku distruksi, gelisah, respon otonomik.
Tujuan : melaporkan nyeri hilang/ terkontrol, tampak rileks, mampu untuk tidur/ istirahat dengan tepat
Rencana :
-    Kaji nyeri, perhatikan lokasi dan intensitas
Rasional : memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan/ keefektifan intervensi
-    Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen
Rasional : mencegah penarikan kandung kemih dan erosi penis scrotal
-    Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
Rasional : tirah baring mungkin diperluakn pada awal selama fase retensi akut  memperbaiki pola berkemih normal dan menghilangkan nyeri kolik.
-    Berikan tindakan kenyamanan
Rasional : meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian klien dan dapat meningakatkan kemampuan koping klien
-    Dorong menggunakan rendam duduk, sabun hangat untuk perineum
Rasional : meningkatkan relaksasi otot
-    Kolaborasi  memasukkan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainase
Rasional : pengaliran kandung kemih menurunkan tegangan dan kepekaan kelenjar
3)    Diagnosa III
Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap b/d pascaobstrusksi deuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis, ketidakseimbangan elektrolit (disfungsi ginjal) d/d adanya tanda-tanda dan gejala membuat diagnoosa actual
Tujuan : mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh vital sign, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, dan membrane mukosa lembab.
Rencana :
-    Awasi keluaran dengan hati-hari tiap jam bila diindikasikan
Rasional : deuresis cepat dapat menyebabkan kekurangan volume total cairan karena ketidak cukupan jumlah natrium diabsorpsi dalam tubulus ginjal
-    Dorong peningkatan pemasukan oral berdasarkan kebutuhan individual
Rasional : klien dibatasi pemasukan oral dalam upaya mengontrol gejala urinaria.
-    Awasi TD, nadi dengan sering, evaluasi pengisian kapiler dan membran mukosa oral
Rasional : memamp[ukan deteksi dini/ intervensi hipovolemik sitemik
-    Tingkatkan trah baring dengan kepala tinggi
Rasional : menurunkan kerja jantung, memudahkan homeostatis sirkulasi
-    Kolaborasi  awasi elektrolit khususnya natrium
Rasional : bila pengumpulan cairan terkumpul dari area ekstraseluler, natrium dapat mengikuti perpindahan, menyebabkan hiponatremia. 

4)    Diagnosa IV
Ketakutan/ ansietas (uraikan tingkatkan) b/d perubahan status kesehatan, kemungkinan prosedur bedah, malu/ hilang martabat sehubungan dengan pemajangan genital sebelum, selama, sesudah tindakan d/d peningkatan tegangan, kekuatan, kekhawatiran, mengekspresikan masalah tentang adanya perubahan, ketakutan akan konsekuensi tak spesipik
Tujuan : tampak rileks, menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut, melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani
Rencana :
-    Buat hubungan saling percaya dengan klien
Rasional : menunjukkan perhatian dan keinginan untuk membantu
-    Berikan informasi tentang prosedur dan tes khusus dan apa yang akan diinginkan klien
Rasional : membantu memahami tujuan dari apa yang dilakukan dan mengurangi masalah karena ketidaktahuan klien
-    Pertahankan perilaku nyata dalam melakukan prosedur/ menerima klien, lindungi privacy klien
Rasional : menyatakan penerimaan dan menghilangkan rasa malu klien
-    Dorong klien untuk menyatakan masalah
Rasional : mengidentifikasi masalah, memberikan kesempatan utnuk mnjawab pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi pemecahan masalah
-    Beri penguatan informasi klien yang telah diberikan sebelumnya
Rasional : memungkinkan klien untuk menerima kenyataan dan menguatkan kepercayaan diri  pada penerimaam perawatan


5)    Diagnosa V
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan b/d kurang mengingat, salah persepsi informasi, tidak mengenal sumber informasi, masalah tentang area sessitif d/d pertanyaan, meminta informasi,menyatakan masalah, tidak adekuat mengikuti instruksi
Tujuan : menyatakan pemahaman proses penyakit, tanda dan gejala penyakit, melakukan perubahan pola hidup, berpartisipasi dalam program pengobatan.
Rencana :
-    Kaji ulang proses penyakit, pengalaman klien
Rasional : memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan
-    Dorong menyatakan rasa takut
Rasional :  merupakan rehabilitasi vital untuk perasaan klien
-    Berikan informasi bahwa kondisi tidak ditularkan secara seksual
Rasional :mungkin merupakan ketakutan yang tidak dibicarakan
-    Anujurkan menghindari makan makanan berbumbu, kopi, alcohol, mengemudikan mobil lama.
Rasional : dapat menyebabkan iritasi prostate dengan masalah kongesti, peningkatan tib-tiba pada aliran urine dapat menyebabkan distensi kandung kemih
-    Diskusi perlunya pemberitahuan pada perawat kesehatan lain tentang diagnosa
Rasional ; menurunkan resiko terapi tidak tepat.


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku