Home » , » ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HERNIA INCARSERATA POST OP LAPARATOMY

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HERNIA INCARSERATA POST OP LAPARATOMY




I.    KONSEP KEPERAWATAN
A.    DEFINISI
Hernia adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal suatu defek pada fasia dan muskukaponeurotik dinding perut, baik secara kongenital atau di dapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut.
(Arief Mansjor dkk, 2000)
Hernia incaserata adalah isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vascularisasi.
                    (R. Sjamsuhidajat dan Windejong, 1997)
Laparatomy adalah pembedahan pada perut, membuka selaput perut dengan operasi.

B.    ETIOLOGI
Keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan abdomen adalah kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekas dan mengejan pada saat miksi misalnya akibat hipertrofi prostat.

C.    PATOFISIOLOGI
























D.    GEJALA KLINIS
-    Adanya benjolan di daerah inguinal
-    Benjolan bisa mengecil atau menghilang
-    Rasa nyeri dan mual muntah
-    Sebagain besar tidak memberikan keluhan

E.    PEMERIKSAAN
*    Foto ronsen spiral : memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakang / ruang  mengesampingkan kecurigaan patologis lain.
*    Elekromiografi : dapat melokalisasi lesi pada tingkat akar saraf spiral utama yang terkena
*    Venogram epidural : dapat dilakukanm pada kasus dimana keakuratan dan miogram terbatas
*    Pungsi lumbal : mengesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi, adanya darah.
*    Tanda seqiu (test dengan mengangkat kaki lurus keatas) : mendukung diagnosa awal dari herniasi diskusi invertebralis ketika muncul nyeri pada kaki posterior.
*    Skan CT : dapat menunjukkan kanal spinal mengecil, adanya protrusi diskus invertebralis.
*    MRI : pemeriksaan monivosit yang dapat menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak dan dapat memperkuat bukti adanya herniasi diskus.
*    Micologram : mungkin normal atau memperlihatkan “penyempitan” dari ruang diskus, menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik.

F.    PENATALAKSANAAN
Hernia incarserata dilakukan bedah darurat yaitu cincin hernia dicari dan dipotong usus di lihat apakah vital atau tidak bila vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomisis.

II.    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
a.    Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, no. register, diagnosa medis, dan tanggal MRS.
b.    Keluhan utama
Biasanya pada klien hernia incarserata post op laparatomy ditemukan adanya nyeri.
c.    Riwayat kesehatan
*    Riwayat kesehatan sekarang
Pada umumnya penderita mengeluh adanya rasa nyeri pada daerah luka operasi
*    Riwayat kesehatan dahulu
Pada klien dengan hernia incarserata ditemukan adanya benjolan diselangkangan / kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis mengejan atau mengangkat barang berat atau bila posisi klien berdiri dapat timbul kembali
*    Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ditemukan penyakit yang sama (hernia) karena penyakit ini bukan merupakan penyakit menurun
d.    Pola-pola fungsi kesehatan
-    Pola persepsi dan tata laksana
Perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan dapat menimbulkan masalah dalam merawat diri
-    Pola nutrisi dan metabolisme
Pada umumnya klien harnia incarserata post op laparatomy di puasakan

-    Pola aktivitas
Pda klien harnia incarserata post op laparatomy ditemukan rasa nyeri pada luka post op sehingga timbul keterbatasan gerak
-    Pola eliminasi
Pada klien harnia incarserata post op laparatomy aliran urine terganggu apabila terdapat penyakit sistem perkencingan
-    Pola tidur dan istirahat
Adanya perasaan nyeri pada klien akan mengakibatkan sulit tidur dan mudah terbangun.
-    Pola sensosri dan konsep diri
Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang keadaan penyakit akan membuat penderita merasa cemas, sedih dan putus asa.
-    Pola sensori dan kognitif
Secara fisik daya penciuman, rasa,raba, dan daya pengelihatan pada klien hernia incarserata post op laparatomy adalah normal secara mental kemungkinan tidak ditemukan adanya gangguan.
-    Pola hubungan peran
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit.
-    Pola reproduksi seksual
Pada klien hernia incarserata post op laparatomy kebutuhansexual tidak menjadi suatu gangguan apabila tidak terjadi komplikasi.
-    Pola penanggulangan stres
Stres timbul apabila seorang klien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakit.
-    Pola tata nilai dan kepercayaan
Keputusasaan menyebabkan distres ketidak percayaan akan kesembuhannya. Klien dengan hernia post op laparatomy tidak mengalami gangguan dalam aktivitas religiusnya.
e.    Pemerikasaan Fisik
*    Keadaan umum
Pada klien hernia incarserata post op laparatomy yang perlu di kaji, yang dikeluhkan klien skala nyeri, tingkat kesadaran, nadi, suhu, tensi dan pernafasan.


*    Pemeriksaan kepala dan leher
Biasanya pada klien hernia incarserata post op laparatomy tidak terdapat gangguan pada kepala dan leher.
*    Sistem kardiovaskuler
Pada klien hernia incarserata post op laparatomy ditemukan tekanan darah meningkat atau normal.
*    Sistem genita urinuria
Pada klien hernia incarserata post op laparatomy ditemukan konstipasi dan adanya inkontinensia/retensi urine.
*    Sistem muskuloskeletal
Pada klien hernia incarserata post op laparatomy didapatkan kelemahan sehingga aktivitasnya terganggu.
*    Sistem persyarafan
Pada klien hernia incarserata post op laparatomy tidak ditemukan gangguan
1.    Analisa Data
DS    :    Klien mengatakan nyeri pada luka operasi
DO    :    -    Klien tampak lemah
-    Wajah menyeringai kesakitan
Masalah     :    Nyeri
Kemungkinan penyakit    :    Ketegangan/spasme otot

B.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Nyeri b/d ketegangan/spasme otot.
2.    Kerusakan mobilitas fisik b/d penurunan mobilitas dak fleksibilitas sekunder akibat spasme otot.
3.    Resiko terhadap ketidak efektifan koping individu b/d efeknyeri kronis.
4.    Resiko terhadap perubahan proses keluarga b/d kerusakan kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab peran.
5.    Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik b/d insufisiensi pengetahuan tentang kondisi.
6.    Cemas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

C.    PERENCANAAN
1.    Nyeri b/d ketegangan/spasme otot d/d klien tampak lemah, wajah menyeringai kesakitan.
Tujuan : nyeri hilang atau berkurang dalam waktu 2 x 24 jam.
KH    :    -    Klien tampak tenang dan tidak menyeringai kesakitan
-    Klien dapat mengungkapkan neyeri hilang/berkurang
-    Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (mis, keterampilan, relaksasi, modifikasi perilaku)untuk menghilangkan nyeri
Rencana Tindakan :
1.    Kaji skala nyeri
R/ membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.
2.    Anjuran tirah baring selama fase akut
R/ tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan klien untuk menurunkan spasme otot, menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu dan memfasilitasi terjadinya reduksi dari tonjolan diskus.
3.    Pasang penyokong fisik seperti brace lumbal kolarservikal
R/ sokongan anatomis/struktur berguna untuk menurunkan ketegangan/spasme otot dan menurunkan nyeri.
4.    Anjuran untuk melakukan mekanika tubuh/gerakan yang tepat
R/ untuk menghilangkan/mengurangi stres pada otot dan mencegah trauma lebih lanjut.
5.    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
R/ untuk menghilangkan nyeri.

D.    PELAKSANAAN
Merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan yang meliputi beberapabagian yaitu validasi rencana keperawatan memberikan asuhan keperawatan serta pengumpulan data.
( Lismidar ’90 )
E.    EVALUASI
Evaluasi adalah suatu peningkatan yang bersifat sistematis dari rencana tindakan dari masalah kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di tetapkan pasien dan kesehatan lainnya.
( Efendi ’95 )





DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidrajat R. dan Jony Wimde. Buku Ajar Ilmu Bedah, ECG, 1997

Mansjor Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ketiga, Media Aesculapius, FKUI, 2000

Carpenito Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EDISI 8, ECG, Jakarta, 2001

Doenges Marilynn E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, ECG, 2000


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku