Home » , » ASUHAN KEPERAWATAN PADA “Ny.F” DENGAN DIAGNOSA MEDIS ASMA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA “Ny.F” DENGAN DIAGNOSA MEDIS ASMA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN ASMA
I.    Konsep dasar penyakit
A.    Pengertian.
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif  yang ditandai oleh spasme akut otot  polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara  dan penurunan ventilasi alveolus.
    Asma timbul pada orang-orang tertentu yang secara agresif berespons terhadap mediator –mediator peradangan atau  iritan alergi. Factor resiko  adalah riwayat asma pada keluarga, yang mengisyaratkan adanya kecendrungan genetic mengalami bronkospasme.
Orang dewasa dapat menderita asma tanpa riwayat asma pada masa anak-anak. Tercetusnya asam pada orang dewasa mungkin berkaitan dengan semakin parahnya alergi yangsudah ada. Infeksi saluran nafas atas yang berulang-ulang juga dapat mencetuskan asma pada orang dewasa demikian juga pajanan debu dan iritan dilingkunagan kerja.

Reaksi Peradangan Pada Asma
Patofisiologi asma tanpaknya melibatkan suatu hiperresponsitas reaksi peradangan. Pada respon alergi disaluran napas, antibody IgE berikatan denganalergen dan menyebabkan degranulasi sel mast. Akibat degranulasi tersebut, histamine dilepaskan, histamine menyebabkan kontriksi otot polos bronkiolus. Apabila respon histaminnya berlebihan, maka dapat timbul spasme asmatik. Karena histamine juga merangsang pembentukan mucus dan meningkatkan permeabilitas kapiler, maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakan ruang interstitium paru.
    Individu yang mengalami asma mungkin memiliki respon IgE yang sensitive berlebihan terhadap suatu alergen atau sel-sel mastnya terlalu mudah mengalami degranulasi. Dimanapun letak hipersensitifits respon peradangan tersebut hasil akhir adalah bronkusspasme, pembentukan mucus, edema dan obstruksi aliran darah. Pakah kejadian pencetus dari suatu serangan. Olah raga juga dapat berlaku sebagai suatu iritan karena terjadi aliran udara keluar masuk paru dalam jumlah besar dan cepat. Uadara ini belum mendapat pelembaban (humidifikasi), penghangatan, atau pembersihan dari partikel-partikel debu secara adequate sehiingga dapat mencetuskan serangan asma.

Rangsangan Psikologis untuk Asma
Rangsangan psikologis dapat mencetuskan suatu serangan asma. Karena rangsangan parasimpatis menyebabkan konstriksi otot polos bronkiolus, maka apapun yang meningkatkan aktifitas parasimpatis dapat mencetuskan asma. System para simpatis diaktifkan oleh emosi rasa cemas dan kadang-kadang rasa takut. Dengan demikian individu yang rentan mengalami asama mungkin mendapat serangan akibat gangguan emosinya. Sebaliknya persarapan simpatis pada otot polos bronkiolus menyebabkan dilatasi bronkus. Biasnya rangsangan simpatis berkaitan dengan keadaan “faight or flaight”, saat dimana peningkatan ventilasi merupakan suatu komponenoenting untuk menyelematkan diri.

B.    Gambaran Klinis
•    Dispnoe berat
•    Retraksi dada
•    Napas cuping hidung
•    Peningkatan jelas usaha bernapas
•    Wheezing
•    Pernapasan ynag dangkal
•    Selama serangan asma, uadara terperangkap karena spasme dan mucus memperlambat ekspirasi. Hal ini menyebabkan waktu menghembuskan udara menjadi lebih lama.

C.    Perangkat Diagnostik.
•    Analisis gas darah mungkinmemperlihatkan penurunan konsentrasi oksigen arteri, dan mula-mula alkalosis respiratorik karena karbodioksida  dikeluarkan bersama pernapasan yang cepat. Pabila keadaan menetap atau memburuk, maka dapat terjadi asidosis respiratorik akibat status asmatikus, seperti dijelaskan dibawah.
•    Volume ekspirasi maksimum dan kecepatan maksimum ekspirasi menurun
•    Diantara serangan asma, individu biasanya asimtomatik. Namun sebagian perubahan samara pada uji fungsi paru dapat dideteksi pada keadaan tanpa serangan.

D.    Komplikasi
•    Stastus asmatikus adalah keadaan spasme bronkiolus berkepanjangan mengancam nyawa yang dapat dipulih kan oleh pengobatan. Pada keadaan ini, kerja pernapasan sangat meningkat. Apabila kerja pernapasan meningkat,maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Karean individu yang mengalami serangan asma tidak memenuhi kebutuhan oksigen normalnya,maka jelas ia semakin tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkiolus, pembengkakan bronkiolus dan dan mucus yang kental. Situasi ini dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya tekanan untuk melakukan ventilasi. Apabila individu kelelahan, maka dapat terjadi asidosis respiratorik, kegagalan pernapasan dan kematian.

E.    Penatalaksanaan.
•    Pencegahan terhadap pemajnan alergen
•    Pencegahanjuga mencakup memantau ventilasi secara berkala, terutama sewaktu srangan puncak serangan asma, misalnya musim dingin. Apabila diamati adanya penurunan bermakna volume ekspirasi maksimum atau kecepatanaliran ekspirasi, msks intervensi farmakologis dapat segera dimulai tanpa menunggu serangan timbul.
•    Kemajuan penting dalam pencegahan dan pengobatan serranngan asma adalah pemakaian obat-obat anti inflamasi pada permulaan serangan, atau sebagu terapi pencegahan. Steroid inhalasi menghentikan rangsangan proses peradangan. Obat-obat inhalsi yang menstabikan sel-sel mast sekarang digunakan untuk mencegah serangan asma. Pada kenyataannya asma disefenisikan sebagai suatu penyakit peradangan. Efek dari obat-obat yang diinhalasi ini tanpaknya terbatas disistem pernapasan, sehingga obat-obat tersebut aman dan efektif untuk asma.
•    Intervensi perilaku yang ditujukan untuk menenagkan pasien agar rangasangan parasimpatis kejalan napas berkurang. Membantu menghentikan pasien yang menangis memungkinkan udara keluar masuk paru melambat dan dapt dihangatkan sehingga rangsanganterhadap jalan napas berkurang.
•    Intervensi farmakologis selama serangan akut mencakup inhalasi obat-obat simpatis β2. obat-obat ini terbukti melemaskan jalan napas dan meningkatkan ventilasi.
•    Golongan metal-xantin juga menghilangkan spasme
•    Obat-obat antikolinergik dapat diberikan untuk mengurangi efek parasimpatis sehingga melemaskan otot polos bronkiolus
•    Antihistamin diberikan untuk mengurangi peradangan.

II.    Kosep dasar asuhan keperawatan
A.    Pengkajian data dasar
1.    riwayat atau adanya factor-faktor penunjang :
-    Merokok produl tembakau (fakto-faktor penyebab utama)
-    Tinggal atau bekerja diarea dengan polusio udaara berat.
-    Riwayat alergi pada keluarga
-    Riwayat asma pada masa anak-anak
2.    riwayat adanya factor-faktor yang dapat mencetuskan eksaserbasi, seperti allergen (seruk, debu, kulit, serbuk sari, jamur), stress emosional, aktifitas fisik berlebihan, plusi uadara, infeksi saluran napas, kegagalan program pengobatan yang dianjurkan
3.    pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian system pernapasan yang meliputi:
a.    Manifestasi klasik dari PPOM:
-    Peningkatan dispnoe (paling sering ditemukan)
-    Penggunaan otot asesori pernapasan (retraksi otot-otot abdominal, menagkat bahu saat inspirasi, napas cuping hidung)
-    Penurunan bunyi napas.
-    Takipnea
-    Ortopnea
b.    Gejala-gejala menetap pada proses-proses penyakit dasar:
Asma
-    Batuk (mungkin produktif atau mungkin nonproduktif), dan perasaan dada seperti terikat
-    Mengi saat inspirasi dan ekspirasi, yang sering terdengar tanpa stetoskop.
-    Pernapasan cuping hidung
-    Ketakutan dan diaforesis.           

4.    Pemerikasaan diagnostic.
-    Gas darah arteri (GDA) menunjukkan PaO2 darah dan PaCO2 tinggi
-    Sinar X dada menunjukkan hiperinflasi paru, pembesaran jantung dan bendungan pada area paru-paru.
-    Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan peningkatan kapasitas paru total (KPT) dan volume cadangan (VC), penurunan kapasitas vital (PV) dan volume ekspirasi kuat (VEK).
-    JDL menunjukkan peningkatan hemoglobin, hematokrit dan jumlah darah merah (JDM)
-    Kultur sputum posistif bila ada infeksi.
-    Esei imunoglobin menunjuikan adanya peningkatan IgE serum (immunoglobulin E) jika asma merupakan salah satu komponen dari penyakit tersebut.
5.    kaji persepsi diri sendiri tentang mengalami penyakit kronis
6.    kaji berat badan dan rata-rata masukan cairan dan diet harian

B.    diagnosa keperawatan
1.    Kerusakan pertukaran gas berhubungna dengan factor PPOM (penyakit paru obstruktif menahun) ditandai dengan dispnea, penggunaan otot asesori pernapasan, ronchi kasar, hipoksemia, hiperkopnia, warna kulit sianosis, atau keabu-abuan, mengeluh ortopnea, mengi, dan penurunan bunyi.
2.    intoleran aktifitas berhubungan dengan factor kerusakan pertukran gas ditandai dengan napas pendek, lemah, kelelahan dengan aktifitas fisik minimal, untuk AKS dan takipnea, dengan aktifitas fisik minimal.
3.    perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan  tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan masukan makanan sekunder terhadap distress pernapasan ditandai dengan penurunan berat badan, masukan makanan dan cairan menurun, mengemukakan tidak ada nafsu makan, kulit kering turgor kurang baik, warna urine pekat, ketika makan frekuensi napas meningkat, secra menyatakan adanya peningkatan napas pendek pada waktu makan.
4.    resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer sekunder terhadap PPOM ditandai dengan adanya gejala-gejala distress pernapsan yang disertai dengan batuk prosuktif, melaporkan riwayat sering terjadi infeksi saluran napas bagian atas.
5.    ansietas berhubungan dengantakut kesulitan bernapas selama fase eksaserbasi, kurang pengetahuan tentang pengobtan yang akan dilaksanakan dan pemeriksaan diagnostik ditandai dengan menyatakan perasaan takut kesulitan bernapas, ekspresi wajah tegang ,frekuensi napas diatas 24x/menit disertai dengantakikardi dan sesak napas, secara mengungkapkan takut sendirian.
6.    gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan ditandai dengan mengungkapkan harga diri yang rendah, rasa tidak berharga, mudah tersinggung, depresi dan mengisolasi diri dari pergaulan sosial.
7.    resiko tinggi ketidak patuhan berhubungan dengankurang pengetahuantentang kondisi dan cara perawatan mandiri dirumah, depresi ditandai dengan menyatakan tidak mengerti, meminta informasi, menggunakan alat-alat pernapasan tidak tepat, melaporkan sering kambuh, mengungkapkan harapan yang tidak realistis.

C.    Intervensi keperawatan
Dx : 1
Tujuan : GDA dalam batas normal, warna kulit membaik, frekuensi napas 12-24 kali permenit, bunyi napas bersih, tidak ada batuk, tidak ada ketidaknyamanan dada, frekuensi nadi 60-100 kali permenit, dan menyangkal dispnea.
Intervensi keperawatan.
1.    Pantau:
-    Status pernapasan tiap 4 jam.
-    Hasil GDA
-    Nilai nadi oksimetri
-    Kadar teofilin serum
-    Laporan sinar X dada
-    Hasil tes fungsi sputum dan pulmonal.
Rasional Untuk mengidentifikasi adnya kemajuan atau penyimpangn dari sasaran ynag diharapkan. Karena kerusakan permanen yang telah terjadi pada sebagian paru akibat PPOM, untuk mengharapkan niali normal GDA adalah takrealistik. Kebanyakan pasien PPOM telah mengkompensasi GDA dengan PHnormal dan peningkatan nilai PaCO2 dan HCO2.  Ini sering kali menunjukkan 50-50 karean nilai PaCO2 dan PaO2 serupa.
2.    berikan obat-obatn yng diresepkan, yang meliputi kombinasi dari bronkodilator, steroid dan antibiotik evaluasi keefektifannya. Jadwalkan obat-obatan untuk mempertahankan konsistensi kadar dalam darah.
Rasional broncodilator dapat membuka bronkus; steroid menurunkan inflamasi bronchial; dan antibiotik menghilangkan infeksi. Efek terapeutik yang diinginkan dari obat ini adalah resolusi dari manifestasi distress pernpasan. Mempertahankan kadar konsisten dalam darah dari obat yng diresepkan palingbaik untuk menjamin efektifitas terapeutik maksimum.kadar teofilin serum menetukan efek terapeutik agen dasar teofilin.
3.    tinjau kemabli resep obat-obatan untuk menghindari interaksi merugikan obat dengan obat. Rujuk referensi farmakologis dan farmasis bila dibutuhkan
rasional : kombinasi farmakoterapi meningkatkan resiko interaksi merugikan obat-dengan obat. Interaksi yang merugikan dapat juga berppotensi mempengaruhi atau menghambat kerja satu agen.
4.    konsultasi kepada dokter jika gejal-gejala tersebut menetap atau memburuk. Siapkan pasien untuk dipindahkan ke UPI dan untuk pemasangan ventilasi mekanis, jika terjadi gagal napas (kemunduran status mental, hipoksemia berat dan hiperkapnia).
Rasional : Gagal pernapsan akut merupakan komplikasi utama yang menyeretai PPOM. Ventilasi mekanis sangat diperlukan untuk membantu pernapasan sampai dengnpasiendapat bernapas sendiri.
5.    berikan oksigen yang dilembabkan pada kecepatan aliranyang dianjurkan, biasanya 2 liter/ menit
rasional : pelembaban membantu mengeluarkan sputum yang menempel dibrongkus dan mencegah kekeringan pada membrane mukosa. Untuk asien dengan PPOM, kendali hipoksia merupakan rangsang untuk peranapsan. PaO2 antara 50-70 mmHg diperlukan untuk merangsang pernapasan. Terlalu banyak oksigen dapat menghentikan rangsang dan menyebabkan henti   napas. Frekuensi alir oksigen permenit disesuaikan dengan PaO2 dan PaCO2.
6.    pertahankan posisi fowler dengan tangan abduksi dan disokong oleh bantal atau duduk condong kedepan dengan ditahan oleh meja yang ditempatkan diatas tempat tidur.
Rasional : posisi tegak dengan legan abduksi disokong, akan memungkinkan ekspansi paru yang lebih baik, dengan mengurangi teaknan pada diafragma.melalui tekanan gravitasi.
7.    dorong pasien untuk meningkatkan masukan cairan sekurang-kurangnya 3 L/hari
rasional : untuk membentu pelepasan sekresi bronchial dan koreksi dehidrasi
8.    dorng pasien untuk malakukan napas dengan spirometer insentif tiap 2-4 jam. Beri atau Bantu terapis pernapsan dalam melakukan fisioterapi dadayang diprogramkan, drainase postural, dan tindakan aerosol sesuai dengan yang dibutuhkan. Apabilla pasien tidak mampu untuk batuk dan mengeluarkan sekret secar efektif lakukan penghisapan nasotrakeal.
Rasional : untuk mengeluarkan skresi paru-paru dan menjamin kepatenan jalan napas.
9.    hindari penggunaan depresan saraf pusat berlebihan (narkotik dan sedative)
rasional : obat-obatan tersebut dapat meningkatkan fungsi system pernapasan
10.    anjurkan untuk berhenti merokok
rasional : nikotin yang terdapar dalam tembakau dapat menyebabkan vasokonstriksi dan knstriksi bronkus. Disamping itu asap rokok merupakan allergen yang dapar menekan fungsi silia meningkatkan batuk dan dapat menyebabkan menurunnya persen SaO2.
11.    usahakan suhu ruangan sejuk/nyaman
rasional : udara yang sejuk memungkinkan bernaps lebih mudah.

Dx 2:
Tujuan : menurunnya keluhantentang napas pendek dan lemah dalam melaksanakan aktifitas.
Intervensi keperawatan:
1.    Pantau
-    Nadi dan frekuensi napas sebelum dan saesudah beraktifitas
-    Hasil gas darah arteri
Rasional : untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan
2.    lakukan penghematan energi dalam melakukan prosedur-prosedur sebagai berikut:
-    Berikan bantuan dalam melaksanakan AKS sesuai dengan yang diperlukan. Sediakan interval waktu diantara kegiatan untuk memungkinkan istirahat diantara kegiatan. Tingkatkan aktifitas secara bertahap sejalandengan peningkatan hasill gas darah arteri dan dapat diantisipasinya tanda dan gejala dari penekanan pernapasan
-    Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan makanan yang mudah dikunyah.
Rasional : istirahat memungkinkan untuk memungumpulkan kembali energi. Makanan dalam porsi besar dan susah dikunyah memerlukan lebih banyak energi.

Dx  3:
Tujuan : pasien tidak mengalami berate badan lebih lanjut, masukan mkanan dan cairan meningkat, membrane mukosa lembab, kulit tidak kering.
Intervensi keperawatan :
1.    Pantau :
-    Masukan dan keluaran tiap 8 jam.
-    Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
-    Timbnag berat badan tiap minggu.
Rasional : untuk mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan.
2.    ciptakan suasana yang menyenangkan, lingkungan yang bebas dari bau selama makan.
-    Berikan perawatan mulut sebelum dansesudah makan
-    Bersihkan atas meja sebelum makanan dihidangkan
-    Jangan mengguankan pengharum atau deodorant ruangan yang terlalu menyengat.
-    Lakuka fisioterapi dada dan nebuleiser selambat-lambatnay 1 jam sebelum makan
-    Berikan tempat yang tepat untuk membuang tisu yang mungkkin berisi secret/ yang berasal dari batuk atau dari hidung.
Rasional : bau-bauan dan pemandangan yang tidak menyenangkan selama waktu makan dapat menyebabkan anoreksia. Obat-obatan saluran pernapasan yang diberikan segera setelah makan dapat mencetuskan mual dan muntah.
3.    rujuk paien keahli diet, untuk membantu merencanakan makanan yang akan dikonsumsi, jika setiap porsi makanan yangdirencanakan selalu kurang dari 30%
rasional : ahli diet merupakan specialist ysng dapat membantu pasien dalam merencanakan makanan dengan nutrisi sesuai dengan usianya, sakitnya dan poembentukan tubuh.
4.    berikan terapi intravena sesuai dengan anjuran dan lakukan tindakan perawatan dan pencegahan. Dorong pasien untuk minum minimal  3 liter cairan perhari, jika pasien tidak mendapat infus.
Rasional : untuk mengatsi amsalah dehidrasi karena pasien sering mengurangi masukan cairan karena sesak napas.

Dx  4:
Tujuan : suhu tubuh 37 oC, SDP anatar 5000-10.000/mm3, batuk produktif tidak ada.
Intervensi keperawatan :
1.    Pantau :
-    Suhu tiap 4 jam
-    Hasil kultur sputum
-    Hasil pemeriksaan HDL khususnya pemeriksaan SDP
-    Warna konsistensi sputum
Rasional : untuk mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai dan penyimpangan-penyimpangan dari sasaran yang diharapkan.
2.    berikan antibiotic sesuai dengan anjuran dan evaluasi keefektifannya.
Rasional : infekai merupakan factor pencetus distress pernapasan yang paling sering, oleh karean itu sering kali antibiotic diberikan sebagai pengobatan dan pencegahan terhadap infeksi.
3.    hindarkan menempatkan pasien dengan infeksi saluran pernapsan atas dalam satu ruangan yang sama dengan pasien PPOM. Laksanakan kewaspadaan umum seperti cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.
Rasional : Cuci tangan dadalah tindakan yang paling penting dilakukan oleh petugas kesehatan dalam rangka mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
4.    ambil sputum untuk pemeriksaan kultur, sesuai dengan pesanan, khususnya jika pasien mengeluarkan sputum warna putih kekunig-kuningan, kehijuan atau abu-abu berbau busuk.
Rasional : pemeriksaan kultur sputum dapat membantu menegakkkan infeksi saluran napas bagian atas dan mengidentifikasi kuman penyebabnya sehingga dapat diberikan pengobatan yang tepat.

Dx  5 :
Tujuan : menyangkal rasa sulit bernapas, ekspresi wajah rileks, frekuensi napas antara 12-24 kali/menit, frekuensi nadi antara 60-100 kali / menit.
Intervensi keperawatan
1.    selama priode pernapasan disstres akut :
-    Buka baju yang terlalu tebal dan selimut.
-    Batasi jumlah dan frekuensi pengunjung saat itu.
-    Mulai pemberian oksigen melalui kanula nasal sebanyak 2 liter / menit
-    Demonstrasikan cara untuk mengontrol pernapsan dan dorong pasien untuk melakukannya.
-    Izinkan seseorang untuk menemani pasien
-    Buka pintu dan tirai
-    Pertahankan suhu ruangan yang sejuk.
-    Pertahankan posisi fowler dengan posisi lengan menopang dan abduksi.
Rasional : tindakan independent tersebut membantu pasien untuk mengontrol keadaannya dengan meningkatkan relaksasi dan meningkatkan jumlah udara yang masuk paru-paru.
2.    hindarkan pemberian informasi dan instruksi yang bertele-tele dan terus menerus ketika pasien mengalmi distress pernapsan. Berikan penjelasan sederhana dan singkat mengenai :
a.    Tujuan intervensi yang diprogramkan.
b.    Pemeriksaan dignostik yang meliputi
-    Tujuan pemeriksaan
-    Gambar singkat pemeriksaan
-    Persiapan sebelum pemeriksaan
-    Perawatan setelah pemeriksaan
Lakukan pendekatan pada pasien dengan tenag dan meyakinkan
Rasional : pasien hanya dapat menerima sedikit informasi ketika gelisah dan terlalu  banyak informsi yang dapat meningkatkan ansietasnya. Pemeriksaan yang asing dapat sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman dan sering kali mencetuskan ansietas, dengan memberitahu apa yang diharapkan maka akan dapat membantu menurunkan ansieteas.
3.    gunakan obat sedative sesuai dengan yang diresepkanatau tranquilezer secara hati-hati.
Rasional : banyak pasien yang membutuhkan obat penenang untuk mengontrol ansietasnya, walaupun obat tersebut dapat menimbulakan kegagalan pernapasan karean dapat menekan pusat pernapasan.

Dx  6 :
Tujuan : berpartisipasi dalam merawat dirinya sendiri, menyatakancara-cara untuk mempertahankan gaya hidup yang memuaskan dalam kondisinya sekarang.
Intervensi keperawatan :
1.    lihat kehilangan halaman
2.    anjurkan pasien untuk berpartisipasidalam program rehabilitasi paru dimasyarakat bila ada.
Rasional : bantuan yang terusmenerus sangat penting intik beradaptasi.
Dx  7 :
Tujuan : menyatakan mengerti tentang kondisinya dan perawatan mandiri di rumah, melaporkan jarang kambuh.
Intervensi keperawatan
1.    evaluasi kondisi kliendan keluarganya. Berikan inforkasi tenatng keadaan klien sesuai dengan tingkat pendidikannya. Koreksi jika ada salah pengertian
rasional : kepatuahn pasien untuk mengikuti rencana pengobatan akan meningkat jika pasien mengerti hubungan antara kondisinya dan pengobatan yang dilaksanakan.
2.    jika pasien bias menggunakan inhaler dirumah, evaluas caara psien menggunakan alat tersebut. Jika diresespkan untuk menggunakan inhaler dirumah, ajarkan bagaimana menggunakannya dengan benar dan beriakn kesempatan untuk mendemonstrasikannya kembali.
Instruksi tersebut meliputi :
-    cara mengocok inhaler
-    menariknapas kemudian mengeluarkannya secara keseluruhan
-    tahan pada fase ekspirasi  lalu masukkan alat tersebut kemulut dan tutup bibir secaara rapat diseputar alat tersebut.tekan kanister untuk mengeluarkan uap dan tarik dan tarik napas dalam begitu uap keluar.
-    Tahan uap beberapa waktu dan kemudian ekspirasi.
Tekankan bahwa UAP HARUS DIHIRUP, BUKAN DITELAN.
Rasional : sebaian besaaaar inhaler berisi bronkodilator dan digunakan menurut jadwal atau jika perlu saja. Menggunakan inhaler secara benar adalah penting agar pasien mendapat efek yang diharapkan dari pengobatan tersebut.

3.    berikan instruksi sebelum pulang tentang:
a.    Pengobatan terhadap kekambuhan:
-    Hindari merokok danpemajanan pada asap dalam jangka waktu lama
-    Hindarkan penggunaan hair spray dan parfum
-    Kurangi stress emosional
-    Tutup mulut dan hidung dengan sapu  tangan selama terpajan dilingkungan yang dingin.
-    Hindari olah raga diluar rumah dalam cuaca dingin.
-    Makan diet seimbang tinggi kalori
-    Makan porsi kecil tapi sering, jika sesak napas masih ada saat istirahat.
-    Hindarkan teralalu lelah, sediakan waktu stirahat lebih sering selama kegiatan sepanjang hari. Hematlah energi dengancaara mengeluarkan napas (ekspirasi) saat mendorong, menarik atau ketikamelakukan akatifitas fisik untuk memindahkan objek.
-    Kurangi kontak dengan individu yang terkena yang terkena infeksi saluran napas.
-    Dapatkan vaksin flu jika perlu.
-    Pertahankan kebersihan alat-alat pernapasan dirumah setelah digunakan.
-    Hindarkan menghirup zat kimia yang bersifat toksik seperti : bensin, cat dan lem.
-    Hindarkan pemajnan terhadap allergen yang diketahui dapat menimbulkan kambuh.
-    Minum sekurang-kurangnya 8 gelas perhari
-    Minum obat yang diresepkan
b.    Teknik control pernapasan. Dorong pasien untuk latihan pernapasan sesuai teknik yang diajarkan selama 2-4  kali sehari dengan cara bernapas 6-8 kali setiap kali latihan.
-    pernapsan diafragma-duduk tegak lurus, letakkan tangan kanan diatas abdomen tepat dibawah prosesus xipoideus dan tangan kiri diatas dada lalu tarik napas dan kelurakan pelan-pelan selama tarik napas, tangan kanan akan bergerak keatas, sementara tangan kiri tetap pada posisi semula.
-    Pernpasan pursed-lips-tarik napas melaui hidung ; keluarkan melaui mulut dengan biibir agak merapat.
c.    Gejala kambuh dan intervensinya yaitu:
-    cari pertolongan medis jika gejala-gejala memburuk (dispnea meningkat, batuk bertambah berat dari biasanya, demam menggigil, kelelahan meningkat dan sputum yang beruabah warna dan berabu) atau jika obat-obatan gagal mengontrol gejala-gejala.
Rasional : penyuluhan untuk pulang penting untuk menjaminkepatuhan pasien. Belajar cara mengontrol gejala dari penyakit kronis memberikan rasa berpengharapan dan membantu pasien meningkatkan rasa control terhadap hidup dari pada membiarkan penyakitnya mengontro dirinya.
4.    dorong pasien atau keluarganya membuat pernyataan tertulis tentang perawatan lanjutan dan instruksi tertulis untuk perawatan mandiri dirumah.
Rasional : instruksi verbal lebih mudah dilupakan
5.    berikan informasi tenatng pengobatan yang harus dijalankan dirumah seperti nama, tujuan, dosis, jadwal pengobatandan efek samping yang dapat dilaporkan.
Rasional : pasien yang mengeti tenatng pengobatannya biasanya lebih patuh mengikuti program pengobatan.
6.    hubungi pelayanan social untuk mengatur penempatan alat-alat pernapasan yang dianjurkan untuk digunakan dirumah (oksigen potebel, nebuleiser) atau kunjungan rumah oleh fisioterapi untuk terapi pernapsan jika dianjurkan.
Rasional : pelayanan social  berperan dalam hubungan untuk mengatur kelangsungan perawatan bagi pasien yang pindah dari rumah sakit kerumah atau kefasilitas pelayanan kesehatan yang lain.
7.    pastikan keefektifan penggunaan mekaniisme koping jika pasien atau keluarganya mengekspresikan kesulitan yang berkelanjutandalam menghaadapi keterbatasan-keterbatasan yang mengganggu akibat penyakit kronis, rujuk kepelayanan yang ada dimasyarakat atau kepelayanan-pelayanan yang terkait.
Rasional : pengalaman perasaan kehilangan dan berkabung tiap individu dan kelaurganya dalam menghadapi penyakit kronik mempenagruhi persepsi terhadap kehilangan saat ini. System pendukung continue sangat penting untuk membantu agar proses penyesuaian individu menjadi lebih efektif, terhadap perubahan gaya hidup akibat penyakit kronis. Individu mungkin tidak mengetahui sumber-sumber yang tersedia untuk mereka.

III. FISIOLOGI PERNAPASAN
 Tujuan utama dari pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi sel-sel tubuh dan mengeluarkan karbondiaksida. Agar respirasi dapat berlangsung diperlukan saluran pernapasan, yang mempunyai fungsi yaitu :
a.    menyaring
terjadi karena adanya sel goblet pada epitel  pernapasan, menyaring partikel-partikel lain.
b.    Eksresi
Silia yang diketemukan sepajang saluran pernapasan akan mendorong mucus dan benda-benda asing menuju faring yang kemudian akan dikeluarkan dengan batuk atau bersin.
c.    mengatur suhu
menghangatkan dan melembabkan dimungkinkan oleh adanyasuplai darah yang kaya pada lapisan submukosa saluran pernapasan.
Selama pernapasan terjadi tiga proses yaitu :
a.    Ventilasi
Yang meliputi pergerakan keluar masuknya udara melalui cabang-cabang trackeabronchiale sehingga oksigen sampai ke alveoli dan CO2 dibuang. Udara yang bergerak keluar masuk paru-paru dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Pada saat inspirasi tekanan atmosfer lebih tinggi dari pada tekanan yang ada di alveoli sehingga udara masuk kedalam paru-paru. Sedangkan pada saat ekspirasi mengalami sebaliknya. Perpedaan tekanan antara alveoli dengan atmosfer juga dipengaruhi oleh ukuran rongga thorak, dengan membesarnya ukuran rongga thorak tekanan menurun dan udara mengalir keparu-paru. Sedangkan ekspirasi terjadi karena biasanya merupakan proses pasif yang terjadi akibat kemampuan kembalinya paru-paru ( recoil ) yang elastis kedalam keadaan yang semula.
b.    Perpusi
Adalah istilah yang digunakan untuk aliran darah pada kapiler-kapiler paru. Kekuatan utama distribusi perfusi dalam paru adalah gaya gravitasi. Sistem tekanan rendah seperti sistem pembuluh darah paruadalah obyek tekanan hidrostatik yang dibuat oleh gravitasi. Pada posisis duduk tegak dasar paru yang terganggu mengembangkan vaskuler sehingga volume pulmonal sangat rendah.
c.    Dipusi
Adalah pergerakan gas O2 dan CO2 yang melintasi membran alveolar kapiler yang alirannya dimulai dari daerah yang besar dengan konsentrasi ke daerah yang kecil konsentrasinya. Dipusi terjadi karena tekanan O2 alveolar ( PO2 ) 100 mmHg, sedangkan PO2 darah vena 40 mmHg. Dipusi CO2 terjadi karena PCO2 darah vena 46 mmHg sedangkan PCO2 alveolus 40 mmHg.
Fungsi paru-paru adalah tempat berlangsungnya pertukaran gas O2 dan CO2, dimana dalam pertukaran gas ini mdibedakan menjadi 2 cara :
a.    pernapasan eksternal
disini udara masuk melaui hidung kemudian disaring dean dihangatkan oleh bulu-bulu hidung. Dapat juga udaraitu masuk melaui mulut kemudian ke trakea dan pipa bronchiale ke vestibulum terus ke alveoli dan dapat berhubungan erat dengan darah di dalan kapiler pulmonalis. Hanya satu saja yang memisahkan membr4an dari darah dengan oksigen yaitu membran alveoli kapiler. O2 menembus kapiler dan di ikat dengan hemoglobin dan dibawa ke jantung dan kemudian dipompa keseluruh tubuh. Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan O2 100 mmHg dan pada tingkat ini darah mengandung 95% O2.
Didalam paru CO2 merupakan salah satu hasil metabolisme , menembus membran alveoli kapiler darah ke alveoli  melaui pipa bonchiale dan trakea dihembuskan keluar melaui hidung dan mulut.
b.    pernapasan interrna
Darah yang jenuh O2 mengitari seluruh tubuh, ahirnya mencapai kapiler    dimana darah bergerak sangat lambat. Sel jaringan mengambil O2 dari Hb untuk memungkinkan berlangsungnya oksigenisasi dan darah menerima sisa hasil O2  yaitu CO2.
Agar dalam proses oksigenisasi berjalan dengan baik maka harus ada yang mengatur yaitu pusat pernapasan, yang terdsiri dari neuron reseptor yang terletak  didalam pons dan medula oblongata. Pusat pernapasan merupakam bagian dari sitem syaraf yang mengatur semua aspek pernapasan. Faktor utama dari pengaturan pernapasan adalah renpon dari pusat kemoreseptor dalam pusat pernapasan terhadap tekanan pusat parsial CO2 atau penurunan PH merangsang untuk terjadinya pernapasan.
Masih adalagi yang mengatur mekanisme udara masuk ke paru-paru. Padsa waktu paru-paru mengembang maka reseptor-reseptor ini akan memberi signalpada pusat pernapasan agar menghentikan pengembangan lebih lanjut. Signal dari reseptor regang tersebut akan berhenti pada ahir ekspirasi, ketika paru-paru dalam keadaan mengempisdan pusat pernapasan bebas untuk memulai inspirasi. Mekanisme ini disebut dengan `Hearning-Breur`. Saraf utama lain juga ikut mengambil bagian adalah nervus sensorius dan ndrvus interkostalis.

BAB III
I.    PENGKAJIAN KEPARAWATAN
Tanggal masuk    : 24-02-2004   
Jam masuk        : 23.15
Ruangan atau kelas    : mawar / III
Kamar No        :   -
Rumah sakit        : RSUD Mataram
No. Register     :   -
A.    DATA BIOGRAFI
1.    Klien
a.    Nama             : Ny “F”
b.    Umur            : 61 th
c.    Tempat/tanggal lahir    : -   
d.    Jenis kelamin        : P
e.    Status perkawinan        : Nikah
f.    Agama            : Islam
g.    Bangsal yang digunakan    : Mawar
h.    Pendidikan            : SD
i.    Pekerjaan             : IRT
j.    Alamat            : jl towati IV/2, perumnas tanjung karang, Ampenan, Mataram.
2.    Penanggung jawab.       
a.    Nama             : Tn “A”
b.    Tempat/tanggal lahir    : Anak
c.    Jenis kelamin        : L
d.    Status perkawinan        : Nikah
e.    Agama            : Islam
f.    Bangsa/suku bahasa yang digunakan : Sasak / sasak
g.    Pendidikan         : -
h.    Pekerjaan             : PNS
i.    Alamat            : jl towati IV/2, perumnas tanjung karang, Ampenan, Mataram.

B.    RIWAYAT KESEHATAN.
1.    Keluhan
a.    keluhan utama
Batuk, sesak dan sulit keluar dahak serta sulit tidur
b.    keluhan saat dikaji
Batuk, sesak dan sulit keluar dahak serta sulit tidur
2.    Riwayat penyakit sekarang
Klien datang ke IGD RSU Mataram dengan keluhan batuk dan sesak sejak 3 hari yang lalu. Sesaknya akan bertambah bila terkenaudara yang dingin.
3.    Riwayat penyakit sebelumnya
Klien mengatakan sering menderita penyakit yang sama ( asma ) dengan kata lain klien sering masuk rumah sakit jika penyakit asmanya kambuh / kumat lagi.
4.    Riwayat penyakit keluarga
a. Genogram keluarga














Keterangan gambar :
         : perempuan                  : laki-laki

                              : garis perkawinan
        : klien                      : tinggal serumah
                 
        : garis keturunan                  : meninggal       

Klien mengatakan tidak ada dari anggota keluarganya yang mengidap penyakit yang sama atau penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan atau keluarganya tidak pernah ada yang menderita penyakit yang berat yang dapat membuat masuk rumah sakit. Jika sakit hanya membeli obat yang terjual bebas atau pergi berobat ke puskesmas.

C.    KEBUTUHAN BIO-PSIKO-SOS-SPRITUAL
1.    Kebutuhan Oksigen
Sebelum sakit klien mengatakan dapat bernapas dengan baik tampa menggunakan alat bantu pernapasan
Saat sakit klien mengatakan sulit bernapas atau sesak pada saat bernapas, nyeri dada saat bernapas.
2.    Kebutuhan Nutrisi
Sebelum sakit klien mengatakan makan tiga kali sehari dengan porsi 1 piring nasi dan lauk apa adanya / yang tersedia. Dan minum 6-7 gelas perhari.
Saat sakit klien mengatakan napsu makannya sangat berkurang. Makanan yang di sajikan Rumah Sakit cuma habis ¼ porsi ukuran rumah sakit dan juga makan makanan pendamping seperti roti tawar itupun tak habis 1 buah. Sedangkan minumnya 3-4 kali sehari.
3.    Kebutuhan eliminasi
Sebelum sakit klien mengatakan biasa BAB 1-2 kali sehari dengan konsistensi padat, warna kecoklatan,  dan bau khas tinja. Dan BAK 3-4 kali sehari dengan konsistensi cair, warna kekuningan dan bau khas urine.
Saat sakit klien mengatakan BABnya tidak teratur kadang 1 kali sehari atau 1 kali dalam dua hari, dengan konsistensi padat, warna kecoklatan, dan bau khas tinja. Dan BAK 2-3 kali sehari dengan konsistensi cair, warna kekuningan dan bau khas urine.
4.    Kebutuhan istirahat tidur
Sebelum sakit klien mengatakan tidur dengan nyenyak tampa ada gangguan. Klien biasa tidur 7-8 jam sehari, malamnya mulai pukul 21.00-04.30 dan siangnya mulai pukul 13.00-16.00.
Saat sakit klien mengatakan kesulitan dalam tidur karerna serangan sesak napas dan batuk yang dideritanya. Klien  mengatakan tidurnya 3-4 jam sehari mulai pukul 23.00-03.00 dan siangnya tidur 1 jam sehari mulai pukul 14.00-15.00 atau tidak tidur sama sekali pada saat siangnya.
5.    Kebutuhan aktivitas
Sebelum sakit klien mengtakan dapat melakukan aktivitasnya tampa ada bantuan dari orang lain.
Saat sakit klien mengatakan tidak dapat bekerja sebagai mana mestinya, bila beraktivitas sesaknya akan bertambah parah, semua aktivitasnya dibantu oleh keluarga.
6.    kebutuhan personal hygiene
Saat sebelum sakit klien mengatakan mandi 2-3 kali sehari dengan mengunakan sabun, mengosok gigi 2 kali sehari dengan menggunakan odol keramas 2-3 kali seminggu dan memotong kuku 1 kali seminggu atau bila dirasa sudah panjang.
Saat sakit klien mengatakan ia selalu dilap basah oleh keluarganya, tidak pernah gosok gigi, cuci rambut, ataupun potong kuku selama dirumah sakit
7.    kebutuhan Psiko-Sos
Sebelum sakit klien mengatakan dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan keluarga atau tetangganya dengan baik.
Saat sakit klien mengatakan keluarganya dan tetangganya mendorong untuk dapat segera sembuh.
8.    Kebutuhan spritual
Sebelumdan sesaat sakit klien mengatakan tetap melakukan ibadah ( sholat 5 waktu ) walaupun saat sakit ibadahnya hanya dilakukan ditempat tidur.


D.    PEMERIKSAAAN FISIK
a.    KU
Pasien tampak cemas, lemah, sesak napas, tampak menggunakan otot pernapasan aksesoris dan pernapasan lewat mulut.
b.    VITAL SIGN
Kesadaran        : CM
Tekanan darah        : 120/80 mmHg
Denyut nadi        : 88 X/ menit
RR            : 40 X/menit
Suhu            : 36,5 C
c.    HEAD TO TOES
    Kepala : bentuk normocepalo, kulit kepala kering, tidak berketombe, tidak terdapat benjolan atau kelainan apa-apa, rambut sebagian berubah, tekstur lembut, terdapat uban.
    Muka : bentuk oval, tampak penonjolan os zigometikus, otot pipi tipis, kulit pucat dan lembab, teraba dingin.
    Mata : Kedua mata anisokor, konjungtiva pucat, sklera mata pucat kekuningan, refleks pupil baik,, tidak ada kekeruhan lensa, tidak ada tumor.
    Hidung : simettris mukosa kering, tidak ada lendir, tampak pernapasan cuping hidung dan terpasang selang O2.
    Mulut : mukosa kering, gigi masih lengkap, waran gigi putih kekuningan (kotor).
    Telingan : simetris, serumen tidak ada, pendengaran baik.
    Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar gondok (tiroid), tidak tampak pembendungan vena jugolaris.
    Dada : bentuk simetris, tampak adanya tarikan dinding dada saat bernapas, terdengar wheezing dan stridor
    Abdomen : tidak ada pembesaran limpa dan hepar, turgor baik, tidak ada kembung dan acites.
    Ekstermitas atas : kulit agak keriput, kuku agak panjang, terpasang selang infus ditangan kanan, kekuatan bagus.
    Ekstremitas bawah : tidak ada oedema, kuku panjang, kulit agak keriput, refleks patella bagus

E.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil pemeriksaan                    normal
Hb : 13,4 g %                        12-16 g%
Lekosit : 20.800 /mm3                    4000-11000
Eritrosit : 5,01 juta mm3                    4-5,5
LED 1jam : 1,0 m3                    0-15
Hematokrit 50,6 mm3                     36-48
Trombosit : 302000 / mm3                150.000-400.000   
SGOT : 11 U/L                        5-20
SGPT : 9 U/L                        5-20
Kretinin : 0, 8 mg %                    0,3-1,8
Blood urea : 37 mg %                    20-40








































II.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
ANALISA DATA
No    Data    Etiologi    Problem
1








2




3




4    DS : keluhan sesak
        Sukar mengeluarkan                           dahak
DO : Wheezing dan stridor
         Penggunaan otot bantu pernapasan
        Tampak pernapasan cuping hidung
         RR : 40 X/ menit
DS : klien mengatakan tidak ada napsu makan
DO : makanan habis ¼ porsi dari ukuran RS
        Mukosa kering
DS : klien mengatakan sulit tidur / sukar tidur
DO : tampak lemah
         Skelera pucat
         Konjungngtiva pucat
DS : klien mengatakan tidak pernah mengosok gigi, cuci rambut ataupun memotong kuku
DO : gigi, rambut kuku tampak agak kotor       Alergen








Intake makanan yang kurang



Sesak napas




Keterbatasan aktivitas    Gangguan pertukaran gas







Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Gangguan istirahat tidur



Defisit perawatan diri
RUMUSAN KEPERAWATN
DX I : gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alergen ditandai dengan klien mengeluh sesak, stridor, whezing, menggunakan otot bantu pernapasan, tampak pernapasan cuping hidung.
DX II : gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake makanan yang kurangdintandai dengan klien mengatakan tidak ada napsu makan, makanan habis ¼ porsi dari ukuran rumah sakit.
DX III: gangguan istirahat tidur b/d sesak napas ditandai dengan klien mengatakan sulit tidur, skelera pucat, konjungtiva pucat dan tampak lemah.
DX IV : defisit perawatan diri b/d keterbatasan aktivitas ditandai dengan rambut, gigi, kuku kotor


III.    RENCANA KEPERAWATAN
TGL/ jam    Diagnosa    Tujuan dan kriteria    Rencana    Rasional
    1.    gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alergen ditandai dengan klien mengeluh sesak, stridor, whezing, menggunakan otot bantu pernapasan, tampak pernapasan cuping hidung.



    Setelah dilakuakan tinadakan keperawatan selama  1x24 jam, diharapkan gangguan pertukaran gas dapat teratasi. Dengan kriteria:
-    klien dapat meningkatkan jalan napas.
-    Dahak berkurang    a.    Anjurkan klien untuk minim air hangat 8-10 gelas sehari.
b.    Kolaborasi terapi O2 bersama dokter.

c.    Ajarkan batuk efektif




d.    Atur posisi klien dengan fowler/semifowler
e.    Berikan bronchodilator sesuai order.

    a.    Agar dahak lebih encer dan mudah dikeluarkan
b.    Peningkatan O2 dapat menurunkan retensi CO2
c.    Dengan batuk Dapat mempercepat pengeluaran sputum
d.    Memungkinkan ekspansi paru secara maksimal
e.    Bronchodilator dapat merelaksasi otot-otot pernapasan.
   

2.    gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake makanan yang kurang ditandai dengan klien mengatakan tidak ada napsu makan, makanan habis ¼ porsi dari ukuran rumah sakit.



   

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x20 mnt diharapkan masalah teratasi dengan kriteria :
-    pasien makan lebih banyak dari biasanya
-    makanan yang disediakan rumah sakit habis   

a.    Anjurkan klien makan sedikit demi sedikit



b.    Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang mengandung gas

c.    Sarankan klien untuk mengkonsumsi cairan tinggi kalori

d.    Tingkatkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan   

a.    Makan yang banyak dapat mengakibatkan kesulitan bernapas dan merasa kenyang.
b.    Makanan yang mengandung gas dapat menimbulkan perut kembung.
c.    Intake kalori dapat menambah konsentrasi dalam volume kecil
d.    Batuk dan produksi sputum dapat mengurangi nafsu makan.
    3.    gangguan istirahat tidur b/d sesak napas ditandai dengan klien mengatakan sulit tidur, skelera pucat, konjungtiva pucat dan tampak lemah.




    setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan masalah teratasi dengan kriteria :
-    pasien mengatakan tidurnya lebih banyak.
-    Tampak lebih segar
-    Sklera dan konjungti-va tidak terlalu pucat.    a.    Tingkatkan teknik relaksasi lingkungan


b.    Jauhi dari rangsangan seperti munum kopi



c.    Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.    a.    Lingkungan dapat mengganggu relaksasi dan tidur.
b.    Peningkatan metabolisme dapat mengganggu relasasi
c.    Lingkungan yang aman dan nyaman dapat menenangkan pikiran sehingga klien dapat beristirahat dengan tenang

    4.    defisit perawatan diri b/d keterbatasan aktivitas ditandai dengan rambut, gigi, kuku kotor
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit diharapakan masalah teratasi dengan kriteria rambut, gigi, kuku, bersih

    a.    Berikan penjelasan arti pentingnya perawatan diri.
b.    Ajarkan cara perawatan yang baik dan benar.
c.    Lakukan tindakan perawatan personal hygiene (gigi, kuku, rambut)
d.    Anjurkan pada keluarga dan pasien untuk tetap menjaga personal hygiene pasien.    a.    Agar mengerti pentingnyua perawatan diri.
b.    Agar bisa melakukan perawatan dengan baik dan benar.
c.    Agar gigi, kuku dan rambut bersih.
d.    Agar kebersihan pasien tetap terjaga.

IV.    IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tgal/ jam    No. DX    Implementasi    Respon hasil    Ttd
    1











2













3








4






    a.    Menganjurkan klien untuk minim air hangat 8-10 gelas sehari.
b.    Mengkolaborasikan terapi o2 bersama dokter.
c.    Mengajarkan batuk efektif
d.    Mengatur posisi klien dengan fowler/semifowler
e.    Memberikan bronchodilator sesuai order.


a.    Menganjurkan klien makan sedikit demi sedikit
b.    Menganjurkan klien untuk menghindari makanan yang mengandung gas
c.    Menyarankan klien untuk mengkonsumsi cairan tinggi kalori
d.    Meningkatkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan



a.    Meningkatkan teknik relaksasi lingkungan
b.    Menjauhi dari rangsangan seperti munum kopi
c.    Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.



a.    Memberikan penjelasan arti pentingnya perawatan diri.
b.    Mengajarkan cara perawatan yang baik dan benar.
c.    Melakukan tindakan perawatan personal hygiene (gigi, kuku, rambut)
d.    Menganjurkan pada keluarga dan pasien untuk tetap menjaga personal hygiene pasien.    a.    Klien menghabiskan 8 gelas perhari, dahak encer
b.    Sesak berkurang.
c.    Terlihat adanya sputum yang keluar
d.    Pasien dapat bernapas dengan lebih baik
e.    Terlihat pasien bernapas dengan tenang

a.    Pasien menghabiskan porsi yang didapatnya dari rumah sakit.
b.    Klien menjauhi pantangan makanan yang dianjurkan.
c.    Klien minum air gula 3 kali sehari.
d.    Pasien berkumur sebelum makan  dan menyikat gigi sesudah makan


a.    Klien dapat tidur lebih cepat.
b.     Klien tidak minum kopi atau bahan yang lain yang dapat menyulitkan tidur.
c.    Klien tampak lebih tenang.

a.    Klien mengerti akan pentingnya perawatan diri
b.    Klien dapat melaksanakan cara perawatan diri yang baik dan benar.
c.    Gigi, kuku, rambut bersih
d.    Keluarga dan klien merespon dengan baik anjuran yang dianjurkan.
   


V.    EVALUASI
Tgl/ jam    No. DX    Catatan perkembangan    Ttd
    1




2




3






4    S : klien mengatakan jalan napas terasa lebih baik
O : Dahak berkurang
A : masalah teratasi
P  : -

S : klien mengatakan napsu makannya meningkat
O : makanan yang disedikan rumah sakit habis
A : masalah teratasi
P : -

S : klien mengatakan tidutnya lebih banyak dari hari-hari   yang biasanya
O : tampak lebih segar
      Skelera dan konjungngtiva tidak terlihat terlalu pucat
A : masalah teratasi
P : -

S : klien mengatakan lebih segar
O : gigi kuku rambut tampak bersih
A : masalah teratasi
P : -   




Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku