Home » , » KERANGKA KERJA KONSEPTUAL UNTUK KEPERAWATAN PSIKIATRIK By Christina T.S., S.Kp.,M.Kes.

KERANGKA KERJA KONSEPTUAL UNTUK KEPERAWATAN PSIKIATRIK By Christina T.S., S.Kp.,M.Kes.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN
 HNP
( Herniasi Nukleus Pulposus)
PENGERTIAN
•    HNP : menonjolnya nukleus dari diskus intervertebraliske dalam anulus, sehingga mengakibatkan kompresi syaraf
•    Diskus intervertebralis : lempengan kartilago yg membentuk bantalan diantara vertebra
•    Etiologi :
–    ± 50% disebabkan oleh trauma
–    Proses degeneratif : ex. Spondilosis
–    Osteoporosis : ↓ massa tulang  cedera
–    Conggenital anomaly (kelaianan bawaan). Ex. Scoliosis, kiposis, spina bifida
•    Gerakan  stress / tekanan pd kolumna spina
•    Ggn pertumbuhan ruang pertumbuhan benang2 saraf
•    Ggn vertebra utk saling melekat

PATOFISIOLOGI
Etiologi

Penekanan pd nukleus

Menekan anulus fibrosus

Kompresi syaraf           penatalaksanaan medis

Degeneratif saraf yang terkena

Hati2 : Shok spinal

Cedera spinal, diklasifikasikan menurut mekanisme terjadinya :
•    Fleksi
•    Hyperekstensi
•    Rotasi (lateral fleksi)
•    Kompresi

TANDA DAN GEJALA
Tergantung dari lokasi,kecepatan perkembangan & pengaruh struktur disekitarnya

    nyeri
    parastesia
    kesemutan
    rasa panas
    kelemahan
    Sulit/kehilangan kontrol bab, bak

TEST DIAGNOSTIK

•    CT Scan
•    MRI
•    Myelogram
•    EMG




PENATALAKSANAAN MEDIS
•    Konservatif
–    Imobilisasi. Bed rest total dialas datar
–    Tidak membungkuk, angkat beban, memutar pinggang
–    Penggunaan traksi
–    Dengan pengobatan : analgetik, relaxan otot, anti inflamasi, sedativa
–    fisiotherapi
•    Pembedahan  mengurangi tekanan pd saraf  « nyeri & defisit neurologi
–    Disektomi : mengangkat fragmen herniasi / yg keluar dr diskus intervertebralis
–    Laminektomi : pengangkatan lamina
–    Disektomi dgn peleburan :graft tulang yg digunakan utk menyatukan procesus spinosus.

PENGKAJIAN
•    Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
–    Jatuh, berkendaraan, kecelakaan
–    Kebiasaan fleksi, rotasi
–    Penggunaan alkohol & obat terlarang
–    Perilaku beresiko
–    Kelaianan kongetal
–    Rwyt kesh masa lalu
•    Keluhan
    lemah, nyeri, parastesia, kesemutan, rasa panas
•    Eliminasi. Pola eliminasi, Sulit/kehilangan kontrol bab, bak
•    Aktv & latihan
–    Tdk mampu bergerak, sesak,aktv yg sering dilakukan, OR yang dilakukan, kebiasaan2 sehari2
•    Pemeriksaan fisik (head to toe)
–    Postur tubuh, kelaianan posisis, cara berjalan,
•    Pasca Operasi
–    TTV
–    Satus pernafasan
–    Perdarahan,
–    Observasi balutan thd pengeluaran cairan sero sanguinosa
–    Keluhan : nyeri, sakit kepala
–    Status neurologi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
•    Nyeri bd injury pd spinal
•    Gangguan pertukaran gas b.d penumpukan sekret ; kelemahan otot
•    Ggn pola nafas b.d kelemahan otot2 pernafasan
•    Penurunan CO b.d penurunan tekanan balik vena
•    Kerusakan integritas kulit b.d imobilisasi
•    Ggn pola eliminasi b.d injury, intake yg tdk adekuat, imobilisasi
•    Kerusakan mobilitas fisik b.d injury spinal, ketidakstabilan column vertebra
•    Perubahan nutrisi kurang dr kebutuan tubuh b.d intake in adekuat, peningkatan metabolisme
•    Disfungsi sexual b.d hilangnya sensasi pd daerah pelvis
•    Resiko terjadi injury b.d kurangnya rangsang sensory
•    Perubahan body image b.d paralyisi

INTERVENSI
•    Meredakan nyeri
•    Observasi resiko komplikasi
•    Status neurologi
•    Perdarahan?
•    Hati2 dlm melakukan mobilitas pd pasien
•    Meningkatkan mobilitas.
–    Turun dr tempat tidur
–    Miring kanan/kiri
–    k/p bed rest total, mobilisasi bertahap


DISCHARGE PLANNING
Penjelasan
•    tanda2 infeksi
•    Pemakaian colar / traksi / korset. hygiene
•    Tdk melakukan fleksi, ekstensi, rotasi kepala & pinggang
•    Pertahankan kepla dlm posisi netral
•    Tdk menggunakan bantal
•    Jk ingin duduk, sokong kepala & bahu
•    < aktv yg mengganggu penyembuhan, spt berkendaraan, membungkuk, angkat beban, melompat
•    Penggunaan bantal utk mengganjal bagian tubh
•    Keluhan berulang ?
•    Keterlibatan keluarga??


















































TUMOR INTRASPINAL

•    Berhubungan dengan medula spinalis
–    Intramedular  dlm medula spinalis
–    Ekstramedular – intradular  dlm ruang sub arachnoid
–    Extradular  di luar membran dura

•    Menimbulkan desakan pd medula spinalis
            gejala2 (nyeri, hilang fungsi dsb)

Test diagnostik :

Penatalaksanaan  Operasi ??
                     
mengangkat tumor tdk mempengaruhi med-spinalis
Operasi
•    Prognosis??
•    Alternatif lain :
–    Pengangkatan sbgn tumor,
–    Dekompresi medula spinalis
–    Kemotherapi
–    Radiasi
•    Kemungkinan ??


PENATALAKSANAAN
Pre Op
•    Pengkajian
–    Keluhan
–    Status pernafasan
–    Pembekuan perdarahan – penggunaan th/
–    Latihan2 post op
•    Post operasi
–    Penatalaksanaan hampir sama dengan bedah diskus
–    Observasi status neurologi
–    Observasi ekstrimitas - sensori
–    Hati2 infark medula spinalis  kolaps
–    Tumor servikal : status pernafasan
–    Observasi intake output
–    Peristaltik usus ??
–    Medikasi nyeri
–    Posisi  tehnik log rolling
–    Balutan ??  adakah rembesan??

PENDIDIKAN KESEHATAN
•    Hati2 suhu?  kehilangan sensasi
•    Integritas kulit
•    Latihan aktivitas
•    Penggunaan alat bantu
•    Observasi gejala sisa
•    Penggunaan therapi








PERAWATAN PASIEN DENGAN PEMBEDAHAN KRANIAL

INDIKASI UNTUK PEMBEDAHAN KRANIAL
    Infeksi Intrakranial (abses) - biasanya stapilokokkus atau streptokokkus. Pembedahan kranial ditampilkan untuk membuka dan mengalirkan abses.

    Epilepsi – Pembedahan kranial untuk menghilangkan fokus epilepsi  pada pasien yang epilepsinya tidak terkontrol oleh terapi pengobatan.

    Fraktur tulang kepala – pada fraktur tertekan atau fraktur dengan kehilangan fragmen kepala. Pembedahan kranial perlu untuk membuang tulang yang menekan dan/atau membuang fragmen tersebut.

INDIKASI UNTUK PEMBEDAHAN KRANIAL DENGAN TUMOR OTAK
    Teknik Steriotaktikal digunakan untuk mengambil biopsi dan/atau membuang tumor kecil.
    Lokasi dan tipe menentukan jika pembedahan menghilangkan kemungkinan penyebab.
    Tumor yang terletak dalam area pusat paling dalam dari otak tidak dioperasi.
    Pembedahan kranisl dibuat jika tumor bisa dibuang.
    Tumor Primer – berasal dari jaringan dalam otak
    Tumor Sekunder – hasil dari metastase dari neoplasma ganas bagian lain dari tubuh
    Glioma berjumlah 65% dari tumor primer (maligna)
•    Astrositoma- yang paling umum dari glioma
•    Oligodendroglioma-sering terlokalisasi pada frontal
•    Glioblastoma – kegansannya tinggi dan invasif
    Meningioma dan tumor hipofise
•    Jinak (benigna)
•    Cendrung berulang
    Pengobatan yang kurang, semua tumor menyebabkan kematian dari peningkatan volume tumor yang mengawali peningkatan tekanan intra cranial

INDIKASI UNTUK PEMBEDAHAN KRANIAL DENGAN PERDARAHAN INTRA KRANIAL

INDIKASI UNTUK PEMBEDAHAN KRANIAL PADA HIDROSEPALUS
    Kelebihan produksi, gangguan absorbsi, atau akumulasi cairan serebro spinal. Prosedur “Shunting” dilakukan untuk mengalirkan cairan serebro spinal.


PERBAIKAN ANEURISMA
Suatu klip ditempatkan menyilang pada leher aneurisma yang dimulai dari arteri karotis.
    
MANAJEMEN KEPERAWATAN PREOPERASI
    Pendidikan pre operasi terhadap pasien dan keluarga
•    Jelaskan tentang lab preop, pemeriksaan, prosedur.
•    Jelaskan anestesi, perkiraan lamanya prosedur, berapa lama di ruang pemulihan dan kemana setelah ruang pemulihan (ICU).
•    Jelaskan bagaimana pasien akan melihat setelah pembedahan.
•    Jelaskan harapan sesudah operasi seperti ganti balutan, perawatan keteter, ETT, kateter intravena, manajemen nyeri.
    Relatif singkat mungkin memerlukan persetujuan yang ditanda tangani.
    Memotong rambut untuk menurunkan resiko infeksi dan membuat kulit terpapar dengan baik.
    Pengkajian dasar neurologis.
    Kecemasan keluarga seperti : potensi defisit fisik dan defisit emosional berkaitan dengan pelayanan keperawatan pre operasi dan pembedahan.







TIPE PEMBEDAHAN KRANIAL:
Burr Hole
- untuk membuang darah/cairan atau dalam persiapan untuk kraniotomi
Tipe Pembedahan Kranial : Kraniotomi

































Sesudah duramater di lakukan setik jahitan tertutup, lembar tulang
di tempatkan kembali dan dijahit didalam tempat tersebute.
Suatu alat pemantau PTIK mungkin kemudian dipasang.
























Prosedur “Shunt”

Ketika pasien tidur lelap dan bebas nyeri  (penggunaan anestesi umum), Suatu penutup dipotong kedalam kepala, dan lobang kecil dibor pada tulang kepala.
Suatu kateter kecil dimasukkan kedalam suatu ventrikel otak.
Suatu pompa diikatkan pada kateter untuk menyimpan cairan dari otak.
Kateter lain dipasang untuk memompa dan menyalurkannya dibawah kulit,
disamping telinga, kebawah leher dan dada, dan kedalam rongga peritoneal (rongga abdomen).
Cairan serebro spinal diabsorbsi dalam rongga peritonea



PEMBEDAHAN KRANIAL INVASIF MINIMAL

    Suatu arteriogram preoperasi serebral (A) menunjukkan suatu aneurisma basilaris.Suatu arteriogram post operasi, sesudah dilakukan “aneurysm clipping” melalui kraniotomi superolateral orbital, mengkonfirmasikan kesuksesan tindakan itu.(B). Seorang pasien dengan garis insisi kraniotomi superolateral orbital.
  
Steriotaksis (Steriotaxis)
keuntungan:
•    non-invasive
•    Resiko lebih rendah dari kraniotomi
•    Biaya menurun
•    Menurunya lama tinggal dan pemulihan.

MANAJEMEN KEPERAWATAN SESUDAH PEMBEDAHAN KRANIAL
    Tujuan utama perawatan – pencegahan dari peningkatan tekanan intra kranial (PTIK)
    Ventrikulostomi
    Mengalirkan CSS
    Memberikan pengobatan intraventrikuler.
    Mengukur tekanan didalam pembuluh darah.

Pemantauan Tekanan Intra Kranial dan Tekanan Perfusi Serebral  dengan Tekanan Gelombang
    Gelombang plateu
    - Dikaitkan dengan PTIK>20 mmHg
    - Mengindikasikan habisnya kompensasi spasial intrakranial
    - Dikaitkan dengan peningkatan volume serebral dan
       penurunan aliran darah serebral, iskemik serebral, dan
       kerusakan otak.   
    Sering mengkaji status neurologis (tiap 30 menit, kemudian tiap jam) untuk 24-48 jam pertama.
    Sering mengukur tanda vital.
    Pembatasan aktifitas yang meningkatkan tekanan intrakranial.
    JANGAN lakukan perawatan berkelompok !

MANAJEMEN KEPERAWATAN : PENGATURAN POSISI.
    Tinggikan kepala 30 – 45 derajat untuk pembedahan supratentorial.
    Buat pasien flat atau tinggikan sedikit jika insisi pada fossa posterior (infratentorial)
    Kaji nyeri dan sediakan obat penghilang nyeri.
    Periksa posisi aliran, kepatenan – teknik steril yang ketat.
    Periksa balutan untuk aliran, gunakan teknik steril ketat.
    Suksion—batasi sampai < 15 detik; sebelumnya dioksigenisasi.
    Turunkan tiap 2 jam sekali (pelan, hati-hati pemindahannya)
    Latihan ROM.
    Kaji efek dari penyakit anggota keluarga pada keluarga.
    Ajarkan keluarga untuk menyediakan perawatan bagi anggota keluarga yang sakit.
    Menfasilitasi komunikasi keluarga dan perencanaan.
    Sediakan informasi yang akurat untuk kondisi keluarga yang memerlukannya.
    Segera merujuk jika diperlukan seperti terapi bicara, terapi fisik.

PENGOBATAN POST OPERASI
    Anti kejang (Anticonvulsants)
    Kortikosteroid (Corticosteroids)
    Penghambat histamin (Histamine blockers)
    Analgetik (Analgesics)
    Antibiotika (Antibiotics)

KOMPLIKASI POST OPERASI
    Peningkatan Tekanan Intrakranial/PTIK (ICP)
    Hematom,
    Hematom Subdural (Subdural hematoma)
    Hematom Epidural (Epidural hematoma)
    Perdarahan Subarakhnoid (Subarachnoid hemorrhage)
    Syok Hipovolemik.
    Hidrosepalus.
    Komplikasi Respirasi :
      - Atelektasis.
      - Hipoksia.
      - Pneumonia
      - Edem Paru Neurogenik.
    Infeksi.
    Meningitis
    Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
•    Dehidrasi.
•    Hiponatremia
•    Hipernatremia
    Kejang (Seizures)
    Berkurangnya cairan serebro spinal (CSF).
    Edem Serebral.

KESIMPULAN
    Perawatan neurologis itu kompleks.
    Memerlukan ilmu dan seni keperawatan.
    Memerlukan pengalaman pada teknik keperawatan.
    Memerlukan kolaborasi, komunikasi, dan empati.






























ANATOMY OF NERVOUS SYSTEM



    Sistem saraf merupakan salah satu sistem komunikasi antar jaringan/organ dan antara dalam dan luar tubuh. Kabar dihantarkan melalui aliran listrik yang disebut impuls.
Contn…….
    The major controlling, regulatory, and communicating system in the body.
    The center of mental activity : thought, learning and memory.
    With endocrine system is responsible for regulating and maintaining homeostasis.
    Keep us in touch with external and internal environment.
    Functions : - sensory functions
              - integrative functions
              - motor functions
Functions of Nervous system
External (stimuli : temp, light,sound)
Internal (body : receptors detect variations in pressure,
PH,CO2concentration, & level of elit)-------SENSORY
INPUT

Electrical signals (nerve impulses)

Brain (create sensations)

Produce thoughts ---decision is made based on input sensory---                           

    INTEGRATION
Respon to muscles and glands ----- MOTOR OUTPUT

The Brain




























NEUROANATOMI
    Sistem saraf dibagi atas 2 :
•    Sistem Saraf Pusat (SSP).
•    Sistem Saraf Perifer (SSP).
    SSP terdiri dari Otak dan Medula spinalis
    Berat otak dewasa 1,3-1,4kg
    Mengandung 100 bilion sel saraf/neuron, dan sel glia
    Medula spinalis dewasa beratnya 35-40gr, panjang 43 cm pada wanita, 45 cm pada pria.
    Columna vertebra panjangnya 70 cm.


SISTEM SARAF

SEL SISTEM SARAF (1)
    Unit dasar fungsional dari otak disebut NEURON.
    Neuron terdiri dari Sel, Dendrit, Axon.
    Dendrit  suatu struktur tipe bercabang dengan Sinaps untuk menerima pesan elektrokimia.
    Axon  suatu proyeksi yang panjang yang membawa Impuls dari sel tubuh.

SEL SISTEM SARAF (2)
    Sel tubuh saraf  berada dalam kelompok-kelompok yang disebut GANGLIA atau NUKLEI.
    Kelompok sel otak yang memiliki fungsi yang sama disebut SENTRAL, misal Sentral Pernafasan.
    SEL NEUROGLIAL  Sel saraf tipe kedua yang mendukung, melindungi dan mencemerlangkan neuron.

NEUROTRANSMITER
    Berfungsi mengkomunikasikan pesan dari satu neuron ke neuron yang lainnya atau dari satu neuron ke jaringan target spesifik.
    Neurotransmiter dibuat dan disimpan dalam rongga sinaps.
    Ketika dikeluarkan, neurotansmiter menyilangi sinaps, berikatan dengan reseptor dalam membran sel postsinaps.

JENIS NEUROTRANSMITER UMUM
SARAF PERIFER
    Somatik
    sistem mengandung serat saraf perifer mengirim informasi ke sensorik ke sentral /SSP dan serat motorik ke otot rangka.
    Hanya mempunyai 1 neuron yang aksonnya langsung ke target organ

    Berdasarkan tempat keluarnya, saraf somatik di bagi dalam
    Saraf otak
    Saraf Spinal
Saraf Spinal
Dari medula spinalis keluar pasangan saraf kiri dan kanan vertebra
    Saraf servikal, 8 pasang
    Saraf torakal 12 pasang
    Saraf Lumbal 5 pasang
    Saraf sakral 5 pasang
    Saraf koksigeal 1 pasang

    Autonom
    Memiliki 2 buah motor neuron yaitu:
•    Preganglionik dan,
•    Posganglionik.
        Axon preganglionik memiliki selubung myelin,
           sedangkan posganglionik tidak     bermielin.



    Terdiri dari 2 subsistem eferan :
    Sistem saraf Simpatis
    Sistem saraf Parasimpatis


Fungsi dari bagian otak
    Korteks Serebral
    Fungsi :
    Berpikir.
    Pergerakan yang disadari.
    Bahasa.
    Membuat keputusan.
    Persepsi

    Serebrum
    Bentuknya longitudinal, dibagi 2 hemisfer serebral kiri & kanan yang terdiri dari 4 lobus utama.
    Fungsi :
    Motorik
    Sensorik
    Refleks
    Kesadaran
    Fungsi luhur
    Bicara


LOBUS OTAK
1.    LOBUS FRONTAL.
    Terletak di depan sulkus sentral..
    Berkaitan dengan: pengambilan keputusan, perencanaan, bagian bicara dan pergerakan (motor cortex), kontrol emosi, dan pemecahan masalah.

2. LOBUS PARIETAL.
    Terletak dibelakang sulkus sentral.
    Berkaitan dengan: stimulasi persepsi terhadap sentuhan, tekanan, suhu, dan nyeri.

3. LOBUS TEMPORAL.
    Terletak di bawah fisura lateralis.
    Berkaitan dengan persepsi dan penerimaan stimulus pendengaran dan ingatan (hippocampus).

4. LOBUS OCCIPITAL.
    Terletak di bagian belakang kepala, dibawah lobus parietal dan lobus temporal.
    Berkaitan dengan aspek penglihatan.

    Brain stem (batang otak) : 
    Terletak di dalam pusat hemisfer dan tersambung dengan tulang belakang setinggi medula.
        Fungsi:
    Kontrol Pernafasan.
    Kontrol Irama jantung.
    Kontrol tekanan darah

Terdiri dari
    Talamus
                 Fungsi :
  - Proses sensori.
-    Pergerakan.



    Hipotalamus
                Fungsi:   
   - Kontrol suhu tubuh.
- Kontrol emosi.
- Kontrol rasa lapar.
- Kontrol haus.
- Kontrol irama tidur (Circadian Rhythms )

    Midbrain
               Jalan antara pusat otak di atas & dibawah.
               Fungsi:
- Penglihatan.
- Pendengaran.
- Pergerakan bola mata
- Pergerakan tubuh

    Pons
Jalan penghubung antara sereblum ke serebelum &  sebagai pusat pengendali  frekuensi & kedalaman nafas. Pusat saraf V & VII.

    Medula Oblongata
            Fungsi :
    - Penghubung pusat otak atas & medula spinalis,
    - Pusat jantung, vasomotor & pernafasan
   - Pusat saraf VIII - XII

    Serebelum.
        Terletak di bagian bawah cerebrum posterior besarnya 1/5 serebrum
            Fungsi :
     - Pergerakan/koordinasi gerakan
       - Keseimbangan.
       - Postur tubuh.

    Medula Spinalis
   - Pusat Refleks
- Penerus impuls sensorik ke otak sekaligus tempat masuknya saraf sensorik
- Penerus impuls motorik dari otak ke saraf motorik sekaligus tempat keluarnya saraf motorik
- Pusat pola pergerakansederhana seperti melangkah.


MENINGEN
    Selaput yang menutupi otak & medula spinalis yang berfungsi sebagai pelindung, pendukung jaringan-jaringan di bawahnya. Terdiri dari :
    Durameter
    Arakhnoid
    Piameter

CAIRAN OTAK
    Cairan otak di produksi di  pleksus koroideus ventrikel lateralis.
    Aliran ini diteruskan melalui foramina Monro ke Ventrikel III.
    Dari ventrikel III melalui Aquaduktus serebri ke ventrikel IV
    Ventrikel IV melalui foramen Luska dan Magendi dialirkan ke ruang subarakhnoid sampai ke Medula Spinalis









Saraf Cranial













































Ada 12 saraf cranial yaitu :
•    I : Nervus (N) olfaltorius  penghidu
•    II : N. optikus  penglihatan
•    III : N. okulomotorius  menggerakkan mata
•    IV : N. throklearis  menggerakkan mata
•    V : N. Trigeminus  pengecapan,
•    VI : N. abdusen  mempersarafi otot mata
•    VII : N. fasialis  pada wajah (sensorik dan motorik)
•    VIII : N. akustikus (sensorik)  pendengaran
•    IX : Glosso faringeus  motorik dan sensorik (faring, laring dan lidah)
•    X : N. vagus  saraf perasa di lidah
•    XI : N. accecorius 
•    XII : N. hipoglosus 

ASUHAN KEPERAWATAN  PADA PASIEN STROKE
PENGERTIAN
    Kehilangan fungsi otak secara mendadak yg disebabkan oleh menurunnya suplai darah ke otak. Stroke disebabkan oleh trombosis, emboli serebral, perdarahan serebral. ( Suzanne & Brenda 1995)

    Infark salah satu spesifikasi dari otak karena insufisiensi darah  ke otak. Stroke juga disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah besar otak/parsiel atau dapat kedua-duanya. Selain sumbatan stroke disebabkan juga oleh perdarahan otak. ( Luckman & Sorensen 1996)
KLASIFIKASI STROKE
    Berdasarkan Patologi & Penyebab/perjalanan penyakit

    Stroke Iskemik Non Hemoragik
    TIA ( Trans Iskemik Attack. Gangguan neurologis satu sampai beberapa kali, singkat, hitungan menit – jam . Diluar serangan tidak apa-apa.
    Trombosiss serebral yaitu penyumbatan pada otak  jar. Otak melunak
    Emboli
    Stroke Hemoragik
    Perdarahan Intra serebral oleh ruptur arteri serebral, extravasasi di otak & atau sub aracnoid sehingga jaringan sekitar tertekan
    Perdarahan Sub arcnoid, pecahnya eneurisma, hypertensi, gangguan perdarahan

    Berdasarkan pada kronologis
    Serangan sepintas atau TIA merupakan gangguan neurologis fokal yg timbul mendadak & menghilang dalam beberapa menit – beberapa jam
    Progresif ( stroke yg sedang berkembang. Perjalanan stroke berlangsung perlahan meskipun akut
    Stroke lengkap yaitu gangguan neurologis mximal sejak awal serangan dengan sedikit perbaikan
FAKTOR RESIKO
    Non Reversibel
    Adalah jenis kelamin, usia, ras & keturunan, semua insiden stroke lebih tinggi pada pria daripada wanita, meningkat pada usia lanjut, lebih ditemukan pada kulit putih.

    Reversibel
    Faktor resiko yang potensial reversibel termasuk hypertensi, penyakit jantung, DM, abnormalitas kadar lipid darah & gaya hidup

Faktor resiko bisa menyebabkan Stroke
    Hypertensi
    Hypertensi menyebabkan arterosklerotik pembuluh darah serebral  pembuluh darah mengalami penebalan & degenerasi  pecah  perdarahan ( S. Hemoragik)

    Penyakit Jantung
    Pada fibrilasi atrium  penurunan cardiak output  perfusi otak menurun  O2 <  Stroke.
    Pada Arterosklerosis : elastisitas pembuluh darah lambat  perfusi otak menurun  O2 otak kurang  Stroke

    Perokok
 Pada perokok akan timbul plaqua pada pemb. Darah oleh nikotin  arteterosklerosis
    Alkoholik
    Pada alkoholik dapat menyebabkan hipertensi, penurunan aliran darah ke otak & cardiak aritmia serta kelainan mitilitas pembuluh darah sehingga terjadi emboli serebral




    Peningkatan Kolesterol
    Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan arterosklerosis & terbentuknya emboli dari lemak  aliran darah lambat ke daerah serebral  perfusi otak menurun

    Obesitas
    Kolesterol darah meningkat  hipertensi karena terjadi gangguan pembuluh darah  Stroke
    Diabetes Militus
    Pada DM akan menyebabkan penyakit vaskuler  makrovaskulerisasi  arterosklerosis  emboli  penyumbatan  iskemik perfusi otak menurun Sttroke.
    Pada DM  akan terjadi Mikrovaskularisasi  peningkatan suplai darah ke otak  TIK meningkat  Odema otak  Iskemik  perfusi otak menurun  Stroke
    Penurunan penggunaan insulin & peningkatan Glukoneogenesis  hiperosmolaritas  aliran darah melambat  perfusi otak menurun Stroke
PENATALAKSANAAN MEDIS
    Menurunkan Iskemik

    Mengendalikan Hipertensi & peningkatan TIK
    Bedrest dengan kepala 30 derajat
    Mengabsorpsi kelebihan intake cairan
    Mengendalikan TIK
    Pada pasien dengan ruptur aneurisma sebelum pembedahan diberikan tirah baring dalam lingkungan gelap & meminimalkan foto fobia  iritasi meningeal
    Therapi Farmakologis
    Agen Amino kaproit
    Th/ Blok saluran kalsium antagonis
    Pelunak feses
    Analgesik ringan
    Th/ antihipertensi
    Antipiretik

    Th/ cairan  pemasangan NGT/total parenteral nutrisi jika dalam 24 jam tidak makan/minum

    Therapi pembedahan
    Balon Angioplasti : balon silikon di masukan kedalam ujung & dikembangkan dalam arteri besar dimana aliran darah ke otak di kurangi oleh vasokontriksi
    Anastomosis : tindakan pembedahan untuk by pass arteri extrakranial, arteri intrakranial distal yang tersumbat (arteri Serebral mediana) sehingga terbentuk arteri colateral ke area yang diperdarahi arteri serebral mediana























PATOFISIOLOGI
Hypertensi, aneurisma serebral


Pecahnya aneurisma


Insufisiensi aliran darah ke otak


Iskemik jaringan yang diperdarahi


Hypoxia


Metabolisme anaerob


Asam laktat meningkat


Asidosis Lokal


Aktifitas elektrolit terganggu


Kegagalan pompa Na + & K +


Na+ membawa air masuk sel


Edema Serebral


TIK meningkat


Nekrosis jaringan otak






















ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN CIDERA KEPALA
PENGERTIAN
    Marupakan trauma pada otak yang diakibatkan kekuatan fisik extern yang menyebabkan gangguan kesadaran tanpa terputusnya kontinuitas otak

    Gangguan traumatik yang menyebabkan gangguan fungsi otak disertai/tanpa disertai perdarahan interstisial dan tidak mengganggu jaringan otak. ( kontuinitas jaringan otak baik)

Laserasi kulit kepala                                              Gegar ringan
(menembus otak)                                          dng edema serebral luas

TERBUKA                    TERTUTUP

CIDERA KEPALA

KUP                                               KONTRA KUP
(Kerusakan dkt benturan)                   ( Kerusakan berlawanan pada
                                                    sisi desakan benturan)


Menggambarkan lokasi kebanyakan
kerusakan internal yang b/d sisi yang terbentur

PATOFISIOLOGI

Cidera Se4                         TRAUMA                      Cedera Menyeluruh

Benda tajam                                 Benda tumpul

Kerusakan S4                    Kekuatan diserap jar.otak

Kerusakan sepanjang perjalanan                                              kekuatan pada jar. Otak

Tergantung
Lokasi, impresi faraktur, kekuatan benturan & efek akselerasi – deselerasi
dampak yang terjadi :        Cidera jar.otak

Perubahan pada cairan inta & extra sel  Edema

Vasodilatasi

TIK meningkat

Penurunan aliran darah ke otak

Iskemik jaringan

Kematian sel2 otak                                     PCO2 & PH

Kerusakan sel2 otak

Fase Emergensi                   Fase Akut

Ditandai adanya        CKR/CKS            CKB

Memar, drh/cairan telinga         Disorientasi ringan    # sadar > 24 j
Kesadaran   /Kejang               Amnesia retrograde          Edema Otak
Reflek batuk/muntah hilang      Gangg. Pendengaran       Kejang
Vertigo            Hemiparesis
KLASIFIKASI CEDERA KEPALA
    CKR
    Gcs 13 – 15
    Amnesia Retrograde
    Tidak ada fraktur tengkorak
    Tidak kontusio serebral, hematoma

    CKS
    GCS 9 – 12
    Amnesia Retrograde  lebih dari = 30 mnt tapi kurang dari = 24 jam
    Mengalami Fraktur tengkorak

    CKB
    GCS 3 - 8
    Amnesia Retrograde    24 jam
    kontusio serebral, hematoma / laserasi

MEKANISME
    Fr. Tengkorak
    Fr. Linier : kekuatan benturan melebihi luas area tengkorak
    Fr. Basiler : Kekuatan mendorong fragmen tulang menekan otak lebih dalam, CSS :di ruang subarachnoid & sinus, hidung & telinga

    Comutio Cerebral
    Disfungsi neurologi sementara
    Tanpa kehilangan kesadaran
    Gejala : sakit kepala, tidak mampu konsentrasi, gangg. Memori sesaat, pusing.

    Kontusio Serebral
    Area otak yang memar  tanpa laserasi
    Dapat merubah TIK
    Berlangsung 2-3 hari tergantung lokasi

    Hematoma Epidural
    Akumulasi darah pada ruang antara tulang tengkorakdan durameter
    Tanda: penurunan kesadaran,kacau mental, pupil asokor  anisokor

    Hematom Sub Dural
    Perdarahan pada rongga antara durameter & aracnoid
    Tanda: Akut 24 – 48 jam, peningkatan TIK, penurunan kesadaran, gangg. neurologis

ASUHAN KEPERAWATAN
     Pengkajian
    Identitas
    Riwayat kesehatan
    Pemeriksaan Fisik
    Tk. Kesadarn  GCS
    Saraf Kranial  N I – N XII
    Aspek kardiovaskuler
    Aspek sistem Pernafasan
    Aspek Eleminasi
    Aspek Gastrointestinal
    Pengkajian Psikologis, sosial, spiritual
    Pemeriksaan Diagnostik
    X-Ray tengkorak
    CT-Scan
    Angiografi
    Medis
    Anti Edema
    Analgetik
    Larutan Hipertonis ( manitol 20 %, glukosa 40 %, Gliserol 10 %)
    Antibiotik
    Infeksi anaerob  metronidazol

DIAGNOSA KEPERAWATAN
    Tidak efektifnya pola pernafasan
    Potensial terjadi Peningkatan TIK
    Gg. Keseimbangan cairan & elektrolit
    Gg. Pemenuhan nutrisi
    Gg. Mobilitas fisik
    Gg. Persepsi sensoris
    Resiko terjadinya infeksi
    Nyeri
    Gg. Proses pikir
    Cemas

INTERVENSI
    I
    Kaji kecepatan kedalaman, frekwensi, irama & bunyi nafas
    Atur posisi semi fowler ( 15 – 45 )
    Suction lendir 10 – 15 dtk, catat sifat, warna & bau sekret
    Berika posisi prone lateral tiap 2 jam
    Ajarkan nafas dalam ( sadar
    Kolaborasi pemberian th/O2
    Kolaborasi pemeriksaan AGD

    II
    Kaji status neurologi: tanda TIK, GCS
    Monitor vital sign
    Naikan kepala 15 – 30 derajat & posisi netral
    Monitor intake & output tiap  8 jam
    Kolabirasi pemberian obat antiedema
    Cegah valsavah manuver
    III
    Monitor intake 7 output
    Berikan cairan tidak boleh > 2000 cc
    Pasanga dower cateter & monitor warna urine, bau urin & aliran urin
    Kolaborasi Th/ lasik
    Kolaborasi pem. lab

Tekanan Perfusi Cerebral (TPC)

Normal :   70 mmHg
TIK N   : 5-15 mmHg / 60 – 180 mmH2O)

TCP : MAP – Tik

MAP : Diastolik + ( sistol – diastol) – 5 % diastol
                                          2




























ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERSARAFAN






































































NEUROANATOMI
•    Sistem saraf dibagi atas 2 :
•    Sistem Saraf Pusat (SSP).
•    Sistem Saraf Perifer (SSP).

•    SSP terdiri dari Otak dan Medula spinalis
•    Berat otak dewasa 1,3-1,4kg
•    Mengandung 100 bilion sel saraf/neuron, dan sel glia
•    Medula spinalis dewasa beratnya 35-40gr, panjang 43 cm pada wanita, 45 cm pada pria.
•    Columna vertebra panjangnya 70 cm.


SISTEM SARAF












































Divisions of the Nervous System

































SEL SISTEM SARAF (1)
•    Unit dasar fungsional dari otak disebut NEURON.
•    Neuron terdiri dari Sel, Dendrit, Axon.
•    Dendrit  suatu struktur tipe bercabang dengan Sinaps untuk menerima pesan elektrokimia.
•    Axon  suatu proyeksi yang panjang yang membawa Impuls dari sel tubuh.
SEL SISTEM SARAF (2)
•    Sel tubuh saraf  berada dalam kelompok-kelompok yang disebut GANGLIA atau NUKLEI.
•    Kelompok sel otak yang memiliki fungsi yang sama disebut SENTRAL, misal Sentral Pernafasan.
•    SEL NEUROGLIAL  Sel saraf tipe kedua yang mendukung, melindungi dan mencemerlangkan neuron.
NEUROTRANSMITER
•    Berfungsi mengkomunikasikan pesan dari satu neuron ke neuron yang lainnya atau dari satu neuron ke jaringan target spesifik.
•    Neurotransmiter dibuat dan disimpan dalam rongga sinaps.
•    Ketika dikeluarkan, neurotansmiter menyilangi sinaps, berikatan dengan reseptor dalam membran sel postsinaps.
JENIS NEUROTRANSMITER UMUM





























Susunan saraf tepi
•    TERBAGI 2:
•    Somatik sistem mengandung serat saraf perifer mengirim informasi ke sensorik ke sentral /SSP dan serat motorik ke otot rangka.
•    Hanya mempunyai 1 neuron yang aksonnya langsung ke target organ










Susunan Saraf Perifer
•    Sistem Saraf Otonom (SSO)
•    Memiliki 2 buah motorneuron yaitu:
•    Preganglionik dan,
•    Posganglionik.
    Axon preganglionik memiliki selubung myelin, sedangkan posganglionik tidak bermielin.
•    SSP dibagi atas 3
–    Sistem saraf Simpatis
–    Sistem saraf Parasimpatis
–    Enterik nervus sistem mensarafi organ visera ( gastrointestinal, pancreas, kandung empedu)




Sistem saraf otonom






















































Fungsi dari bagian otak
•    Korteks Serebral
Fungsi :
•    Berpikir.
•    Pergerakan yang disadari.
•    Bahasa.
•    Membuat keputusan.
•    Persepsi

•    Serebelum.
Fungsi :
•    Pergerakan.
•    Keseimbangan.
•    Postur tubuh.


Fungsi dari bagian otak
•    Brain stem (batang otak) : 
    Struktur dalam  brain stem termasuk medulla, pons, tektum, reticular formation  dan tegmentum.
Fungsi:
•    Kontrol Pernafasan.
•    Kontrol Irama jantung.
•    Kontrol tekanan darah.

•    Talamus
Fungsi :
•    Proses sensori.
•    Pergerakan.

Fungsi dari bagian otak
•    Hipotalamus
    Fungsi:
•    Kontrol suhu tubuh.
•    Kontrol emosi.
•    Kontrol rasa lapar.
•    Kontrol haus.
•    Kontrol irama tidur (Circadian Rhythms )

Fungsi dari bagian otak
•    Sistem limbik . 
    Limbic system (area limbic ) adalah kumpulan dari struktur yang terdiri dari amygdala, the hippocampus, mammillary bodies dan cingulate gyrus. Penting untuk mengontrol emosi

Fungsi:
•    Kontrol emosi.

•    Hippocampus
Fungsi:
•    Proses belajar.
•    Mengingat.


Fungsi dari bagian otak
•    Basal Ganglia adalah kumpulan  struktur yang termasuk  globus pallidus, caudate nucleus, subthalamic nucleus, putamen dan substantia nigra, penting untuk koordinasi gerakan.

    Fungsi:
•    Kontrol Pergerakan

Fungsi dari bagian otak
•    Midbrain 
   Midbrain termasuk struktur colliculi  superior - inferior dan red nucleus.
Fungsi:
•    Penglihatan.
•    Pendengaran.
•    Pergerakan bola mata
•    Pergerakan tubuh.
LOBUS OTAK






































LOBUS OTAK
•    LOBUS FRONTAL.
•    Terletak di depan sulkus sentral..
•    Berkaitan dengan: pengambilan keputusan, perencanaan, bagian bicara dan pergerakan (motor cortex), kontrol emosi, dan pemecahan masalah.

2. LOBUS PARIETAL.
•    Terletak dibelakang sulkus sentral.
•    Berkaitan dengan: stimulasi persepsi terhadap sentuhan, tekanan, suhu, dan nyeri.

LOBUS OTAK
3. LOBUS TEMPORAL.
•    Terletak di bawah fisura lateralis.
•    Berkaitan dengan persepsi dan penerimaan stimulus pendengaran dan ingatan (hippocampus).

4. LOBUS OCCIPITAL.
•    Terletak di bagian belakang kepala, dibawah lobus parietal dan lobus temporal.
•    Berkaitan dengan aspek penglihatan.

Fungsional otak






























CAIRAN OTAK



























Cairan otak
•    Cairan otak di produksi di  pleksus koroideus ventrikel lateralis.
•    Aliran ini diteruskan melalui foramina Monro ke Ventrikel III.
•    Dari ventrikel III melalui Aquaduktus serebri ke ventrikel IV
•    Ventrikel IV melalui foramen Luska dan Magendi dialirkan ke ruang subarakhnoid sampai ke Medula Spinalis


Meningen dan LCS







































































Nervus Kranial






































































Fungsi Nervus Kranial
•    N Olfaktorius (1)
    Untuk penciuman
•    N Optikus (2).
    Untuk ketajaman penglihatan, lapangan penglihatan, reflek pupil langsung
•    N Okulomotorius.
    Mensarafi otot bola mata eksterna rektus superior, inferior, medial, dan oblik inferior. Mensarafi otot palpebra, dan konstriktour pupil (parasimpatis)
•    N Trokhlearis.
    Mensarafi otot bola mata Oblikus superior untuk melihat oblik bawah



Fungsi Nervus Kranial
•    N Abdusen.
    Untuk mensarafi otot bola mata rektus lateral pada penglihatan kearah lateral
•    N Trigeminus.
    Mensarafi sensibilitas wajah dengan cabang N V 1 opthalmikus
              N V 2 maksilaris
              N V 3 mandibularis
    Mensarafi otot otot pengunyah maseter, temporalis dan pterigoideus  

Fungsi Nervus Kranial
•    N Fasialis ( N VII).
    Mensarafi otot wajah, pengecapan 2/3 lidah depan untuk rasa manis. Asin, asam dan ekteroseptor telinga luar. Mensarafi kelenjer ludah sublingual, submaksiler dan glandula lakrimalis.
•    N Akustikus (N VIII).
    Terdiri dari 2 Akustikus, dan vestibularis Akustikus untuk pendengaran Vestibularis untuk keseimbangan.
Fungsi Nervus Kranial
•    Nervus IX Glosopharingeus.
    Mensarafi otot stilofaringeus dan serat sensorik liang telinga tengah, tuba eustachius dan pengecapan lidah 1/3 belakang.

•    N Vagus (N X).
    Mensarafi otot palatum mole, faring, laring serta serat sensorik untuk rasa viseral dari faring, laring, bronkhus, dan isi perut
Fungsi Nervus Kranial
•    N Aksesorius ( NXI).
    Mensarafi otot trapezius untuk mengangkat bahu dan sternokleidomatedeus untuk menengok ke kanan dan kiri.

•    N Hipoglosus (N XII).
    Mensarafi otot ekstrinsik dan instrisik lidah














































Pemeriksaan Neurologi
•    Anamnesis.

•    Data statistik: nama, jenis kelamin, alamat, status perkawinan, pekerjaan, suku, kinan/kidal
•    Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit;
-    waktu terjadi serangan/keluhan.
-    Sifat dan hebatnya serangan
-    lokalisasi dan penyebarannya
-    Hubungan dengan waktu
-    Keluhan yang menyertainya
-    Keadaan yang memperberat atau memperingankan.
-    Pengobatan yang telah diberikan dan hasilnya
-    Perkembangan penyakit, kekambuhan atau menahun, memberat.
•    Riwayat penyakit dahulu.
•    Riwayat penyakit keluarga
•    Riwayat sosial.
•    Kebiasaaan gizi
Pemeriksaan
•    Tingkat kesadaran.
•    Tanda-tanda vital
•    Status generalis.
•    Status neurologis:
-    Tanda rangsangan meningeal.
-    Nervus kranial.
-    Motorik: tonus, trophi, kekuatan,reflek, gerakan abnormal

•    Sensibilitas.
•    Koordinasi.
•    Fungsi luhur
SPINAL CORD INJURY

Injuri :

•    Skeletal
•    Neurologi


Kondisi non trauma

•    Spondilosis cervikal
•    Myelitisosteoporosis
•    Syringomyelia
•    Tumor
•    Penyakit vaskuler


Etiologi

•    Fleksi-rotasi,
•    dislokasi,
•    Hyperekstensi vertebra
•    Kompresi vertebra
•    fraktur vertebra


•    Trauma  kerusakan medula spinalis
•    Bila hemoragi pada med spinalis rembesan ke kanal spinal
•    Trauma  robekan  saraf dpt bengkak – rusak.
•    Hemoragi
    bengkak         gangguan sirkulasi

    Kerusakan menetap
Manifestasi Klinis
•    Nyeri
•    Kehilangan
–    Kemampuan Pergerakan
–    sensasi nyeri, suhu, tekanan,, penglihatan
–    Kehilangan fungsi eliminasi
•    Gangguan refleks
•    dysrefleksia


Komplikasi
•    Spinal shock :
–    Arefleksia
–    Kehilangan fungsi muskuloskeletal, tonus bladder dan pencernaan
–    kehilangan venous return, hypotensi.
–    Hypertermi
–    Cedera pd cervikal :
•    Masalah pernafasan
•     kapasitas vital            Ventilator ??
•    ª PCO2 & « PO2

Komplikasi 
•    Trombosis vena profunda
–    Komplikasi dr imobilitas
–    Hati2 embolisme pulmonal
•    Nyeri dada
•    Cemas
•    Nafas pendek
•    AGD abnormal
•    Pemberian th/ antikoagulan

•    Hyperefleksi autonomik
•    Dekubitus
•    Infeksi
Keadaan darurat :
•    Imobilisasi dgn kepala dan leher dlm posisi netral  papan spinal
•    Hati2 kepala!!
•    Hati2 dalam memasang traksi & papan spinal
•    Hati2 dalam mengangkat
•    Observasi status ABC
Fase akut
Tujuan penatalaksanaan
    Mencegah cedera lebih lanjut & obsv « status neurologi

•    Farmakologi
•    Hipothermia
•    Tind pernafasan : pertahankan O2
•    Traksi & reduksi skelet
•    Cedera  operasi ?? Bila :
–    Deformitas tdk dpt dikurangi
–    Cervikal tdk stabil
–    Cedera tjd pd thorax atau lumbal
–    Status neurologi memburuk
Proses Keperawatan
•    Pengkajian
–    Status pernafasan
–    Perubahan fungsi motorik & sensorik
–    Kerusakan neurologik lain??
–    Tanda2 shock spinal

Diagnosa Keperawatan
•    Pola nafas tdk efektif b.d paralisis otot abdominal; paralisis otot torakal serta ketidakmampuan membersihkan sekresi

•    Kerusakan mobilitas fisik b.d ggn sensorik & motorik

•    Resiko kerusakan integritas kulit b.d kehilangan sensori & imobilisasi

•    Ggn / perubahan eliminasi urine b.d ketidakmampuan berkemih spontan

•    Konstipasi b.d adanya atonik kolon

•    Nyeri b.d adanya trauma / kerusakan jaringan

•    Resiko Injury b.d refleks abnormal dll

•    Koping individu in efektifb.d adanya paralisis
Intervensi
    Meningkatkan & mempertahankan pernafasan adekuat
    Memperbaiki mobilitas
–    hati2 kontraktur
–    Hati2 dgn # cervikal
–    ROM
–    Aktv bertahap
    Managemen nyeri
    Mempertahankan integritas kulit
    Mempertahankan eliminasi urine
    Memperbaiki fungsi defekasi
    Memberikan rasa nyaman

Observasi :
•    Tromboflebitis
–    Latihan rentang gerak  hati2
–    Stoking elastis
–    Hidrasi adekuat
–    Ukur lingkar paha & betis
–    Observasi status pernafasan

•    Hipotensi ortostatik
–    Observasi TTV  vasodilatasi ??
–    Perbaikan arus balik vena
–    Aktv bertahap


•    Hiperefleksia autonomik

–    Kedaruratan akut akibat respon autonimik yg >>
–    Tjd stlh shock spinal yg membaik
–    ª TIK  stroke?
–    Bbrp rangsangan : distensi kandung kemih & usus,
•    Pasien letakkan dlm posisi duuk
•    Pengosongan VU
•    Hindari stimulus
•    Pend kesh  kondisi ini dpt berulang

Discharge Planning
•    Kontrol teratur
•    Mempertahankan fungsi
•    Koping terhadap perubahan yang terjadi akibat cedera
•    Hati2 mobilitas
•    Pencegahan komplikasi
•    Mandirikan klien dan keluarga secara bertahap
•    Kolaborasi dengan semua tim
Tumor Cerebral



•    Lesi dlm intracranial – dlm rongga tengkorak
•    Bersifat lokal / menyebar
•    Kdg merupakan hasil metastasis

•    Kompresi & infiltrasi jaringan
Klasifikasi
•    Muncul dr pembungkus otak (meningioma dura)
•    Berkembang dlm / diatas saraf cranial.
    Ex. neuroma akustik
•    Berasal dari jaringan otak
–    Astrositoma, glioblastoma, ependimoma, medulloblastoma, oligodendroglioma, kista koloid
•    Metastatik
•    Tumor pembuluh darah
–    Angioma, hemangioma
Jenis tumor otak
•    Adenoma hypofisis
–    Tekanan pd struktur sekitar
•    Ggn penglihatan
•    Ggn hipotalamus
–    Gangguan hormon
•    Akromegali : >> hormon pertumbuhan
•    >> sekresi prolaktin
•    ACTH >>  kegemukan, hipertensi, ggn emosi
    intoleransi glukosa dsb


Jenis Tumor Otak
•    Glioma : tumor menyebar ke jar saraf  reseksi ??
•    Angioma otak : pembesaran massa pd pembuluh darah dlm otak  stroke ??
•    Neuroma akustik : tumor pd saraf kranial ke VIII  ggn keseimbangan & pendengaran

Manifestasi klinis
Gejala umum

•    Peningkatan TIK
–    Sakit kepala
–    Muntah proyektil
–    Gangguan kepribadian
–    Penurunan fungsi
–    papiledema

Gejala lokal, a.l  :

•    Korteks motorik : kejang pd 1 sisi tubuh (kejang jacksonian)
•    Lobus occipital : manifestasi visual
•    Serebelum : pusing, ataksia, kehilangan keseimbangan, otot tdk terkoordinasi, nystagmus
•    Lobus frontal : ggn kepribadian, perubahan status emosi,

Test Diagnostik
•    CT Scan
•    MRI
•    EEG
•    Biopsi
•    Angiografi serebral
Penatalaksanaan
•    Paliatif
•    Penghilangan / pengurangan tanda dan gejala
•    Meningkatkan kualitas hidup
•    Farmakotherapi
–    Kortikosteroid  menurunkan radang & edema
–    Manitol  dieretik osmotik
–    Anti konvulsi
–    Analgetik
Penatalaksanaan Medis
Tujuan :
•    Mengangkat/ memusnahkan tumor
•    Pengurangan TIK
•    Mengangkat jaringan nekrotik
•    Mengurangi bagian tumor

Proses Keperawatan
Pengkajian
•    Kondisi pasien saat ini. Kead. umum?
•    Status nutrisi ?
•    Kakeksia?  lemah & kurus
•    Anosmia?  ggn penciuman
•    Nyeri?
•    Masalah pernafasan,eliminasi, aktv & istirahat dsb
•    Koping individu & keluarga

Diagnosa Keperawatan

•    Ggn perfusi jaringan cerebral b.d invasi massa
•    Kurang perawatan diri b.d kehilangan fungsi motorik, sensorik & kognitif
•    Perubahan nutrisi < dr kebuhtuhan tubuh b.d kakeksia, intake nutrisi yg in adekuat
•    Ansietas b.d kematian
•    Koping keluarga ; individu inefektif
Intervensi
•    Membantu pemenuhan kebutuhan
•    Meningkatkan status nutrisi
•    Menghilangkan kecemasan
•    Meningkatkan koping keluarga


Discharge planning

KONSEP DASAR
DAN 
PERSPEKTIF PERAWATAN ANAK
Ns. Puji Indriyani, S.Pd.,S.Kep
Perspektif Keperawatan Anak
    Landasan berpikir bagi seorang perawat anak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap klien anak maupun keluarganya.
    Bahasan :
    a. Perkembangan keperawatan anak
    b. Filosofi keperawatan Anak
    c. Prinsip keperawatan anak
    d. Paradigma keperawatan anak
    e. Peran perawat dalam keperawatan anak
Perkembangan Keperawatan Anak
a. Evolusi kesehatan anak dan keperawatan anak
   1. sebelum abad 19
    * kesehatan anak kurang mendapat             
      perhatian       
   * wabah penyakit banyak terjadi ( cacar, 
      difteri, TBC dan ggn Gizi)
   2. Pertengahan 1800
    *  Upaya penyelidikan penyakit pd anak
      ( Abraham Yacobi & Lilian Wald)
   *  Muncul UKS dan kursus kesehatan sekolah
    3. Awal th 1900
    *  perawatan isolasi berkembang ( berdampak psikologis pada anak & ortu)
    * Orientasi pelayanan berubah mjd ROOMING IN ( ortu boleh tinggal 
        bersama anaknya di RS selama 24 jam)
b. Tujuan keperawatan anak
    Meningkatkan kesejahteraan anak secara fisik, intelektual, emosional da sosial dalam konteks keluarga dan masyarakat
   
FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK
    Keyakinan yg dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada  ;
    keluarga ( family centered care)
    pencegahan terhadap trauma ( atraumatic care)
    manajemen kasus.
Family centered care
    Mrp unsur yg sangat penting dalam perawatan anak
    - kehidupan anak dapat ditentukan oleh
     lingkungan keluarga, oki keperawatan
     anak hrs mengenal keluarga sbg tempat
     tinggal atau sbg konstanta tetap dlm
     kehidupan anak ( wong, perry, 2002)
   - tk sosoial, budaya dan ekonomi klg
     menentukan pola kehidupan anak dan
     menentukan faktor perkembangan anak dalam
     kehidupan masyarakat.
   - keterlibatan dan kemampuan klg dalam merawat anak mrp dasar dalam pemberian askep yg berfokus pada keluarga
Atraumatic care
* Adalah perawatan yg tidak menimbulkan
  trauma pada anak dan keluarga
    Sbg asuhan/perawatan terapeutik karena setiap tindakan selalu menimbulkan trauma, rasa nyeri, marah, cemas dan takut pada anak              perkembangan terganggu
* Bukan sbg bentuk intervensi yg nyata terlihat, ttp memberi perhatian pada apa, siapa, dimana, mengapa dan bagaimana prosedur dilakukan pada anak untuk mencegah stress fisik dan psikologis

Prinsip utama dalam perawatan terapeutik :
•    Menurunkan dan mencegah dampak perpisahan dari keluarga
•    Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak
•    Mencegah atau mengurangi cedera        ( injury) dan nyeri ( dampak psikologis)
•    Tidak melakukan kekerasan pada anak
•    Modifikasi lingkungan fisik
MANAJEMEN KASUS
    Pengelolaan kasus secara komprehensif dalam pemberian suhan keperawatan secara utuh mll pengkajian sd evaluasi dari berbagai kasus baik akut/kronik
    Pendekatan psikologis dengan memberi kesempatan ortu untuk terlibat, menciptakan lingkungan yg nyaman bagi anak & ortu serta berprinsip pada pencegahan dan peningkatan kesehatan
    Perlunya kemampuan perawat dalam mengelolaan kasusberdampak pada proses penyembuhan pada anak

PRINSIP-PRINSIP PERAWATAN ANAK
    Sebagai dasar dalam memahami keperawatan anak :
•    Anak bukan miniatur orang dewasa tetapi sebagai individu yg unik.
•    Anak sebagai individu yg unik dan mpy kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan
•    Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan eningkatan derajat kesehatan
•    Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak shg perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan askep anak


5. Praktek keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proskep yg sesuai dg aspek moral (etik) dan aspek hukum (legal)
6. Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi/kematangan yg sehat bagi anak dan remaja sbg makhluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat
7. Pada masa yad kecenderungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbang.
PARADIGMA KEPERAWATAN ANAK
    Merupakan landasan berpikir dalam penerapan ilmu keperawatan anak
    Mengacu pada konsep paradigma keperawatan secara umum
                      Manusia(anak)

Sehat sakit                                      Lingkungan                                        

                      Keperawatan
ANAK

    Menurut UU RI no. 4 th 1979 tentang kesejahteraan anak
“Anak adh seseorang yg belum mencapai umur 21 th & belum pernah kawin”.
    Dasar pertimbangan :
    Usaha kesejahteraan sosial
    Kematangan pribadi
    Kematangan mental
    Kedudukan anak di Indonesia, UU RI No. I th 74
    “ Anak yg sah  adalah anak yg dilahirkan  dlm atau sebagai perkawinan yg sah “
    Menurut WHO
   “Seseorg yg berusia kurang dari delapan belas tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik fisik, psikologis, sosial dan spiritual yg berbeda dengan orang dewasa.



    Anak merupakan individu yg berada dalam satu rentang perubahan perkembangan
       Bayi sampai Remaja

BATASAN-BATASAN USIA ANAK
    Neonatus    : Lahir s.d 4 mgg     
    Bayi        : 4 mg s.d 1 th
    Balita    : 1 – 5 th
    Anak Sekolah: 6 – 12 th
    Remaja    : 12 – 18 th
-----------------------------
Berbeda setiap anak

SEHAT
    Dalam konteks rentang sehat sakit
    SEHAT adl keadaan sejahtera optimal baik fisik, mental, sosial yg hrus dicapai sepanjang kehidupan anak dalam rangka mencapai tingkat tumbang yg sesuai dg usianya.
    SEpanjang rentang tsb, anak membutuhkan bantuan baik langsung maupun tidak langsung
LINGKUNGAN
    Anak sangat tergantung dengan lingkungan yi orang dewasa dan sekitarnya
    Lingkungan internal : genetik ( keturunan), kematangan biologis, jenis kelamin, intelektual, emosi
    Lingkungan ksternal : status nutrisi, ortu, saudara kandung, msy/kelompok dll.
    Perkembangan anak sangat dipengaruhi lingk eksternal yi lingkungan yg aman, peduli dan penuh dengan kasih sayang
KEPERAWATAN

    Bentuk pelayanan yg diberikan kepada anak dg melibatkan keluarga spt adanya dukungan, pendidikan kesehatan, upaya rujukan ke tenaga kesehatan dlm program perawatan anak
    Fokus utama pelayanan keperawatan adalah peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit dengan falsafah utama yi keperawatan yg berfokus pada keluarga dan perawatan yg terapeutik.
    Memberdayakan kemampuan keluarga baik dari aspek pengtahuan, ketrampilan maupun sikap
PERAN PEARAWT DALAM KEPERAWATAN ANAK
•    Pemberi pelayanan
•    Advovat keluarga
•    Pendidikan
•    Pencegahan penyakit
•    Konseling
•    Kolaborasi
•    Pengambil keputusan etik
•    peneliti
LINGKUP PRAKTEK KEPERAWATAN ANAK
    Batasan askep yg diberikan pada klien anak dari usia 28 hr sampai 18 th atau usia bayi baru lahir sampai 12 th.
    Dalam memberikan askep pada anak harus berdasarkan kebutuhan dasar anak yaitu kebutuhan untuk tumbang seperti asuh, asih dan asah




















































KONSEP DASAR
KESEHATAN JIWA
By
Christina T.S., S.Kp.,M.Kes.
KESEHATAN JIWA
    Merupakan kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan orang lain
    Sehingga tercapai kemampuan menyesuaikan diri dengan orang lain, masyarakat, dan lingkungan
    Keharmonisan fungsi jiwa, yaitu sanggup hadapi problem yang terjadi dan merasa bahagia
KEPERAWATAN JIWA
    Adalah proses interpersonal untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang terintegrasi
    Pasien atau sistem klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas
KEPERAWATAN KESEHATAN MENTAL DAN PSIKIATRIK (ANA)
    Suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya


PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA
    Keperawatan jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan :
–    Teori perilaku manusia sebagai ilmunya
–    Penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya
PERKEMBANGAN
KEPERAWATAN JIWA
    DI DUNIA
    Baca : Keperawatan Kesehatan Jiwa da Psikiatrik, Ann Isaacs, EGC.

    DI INDONESIA
    ………………………….
PERKEMBANGAN
KEPERAWATAN JIWA DI INDONESIA
    Pelayanan keperawatan jiwa dimulai dengan dibukanya RUMAH SAKIT JIWA Pertama di BOGOR pada tahun 1882

    Sampai saat ini telah berdiri + 34 rumah sakit jiwa milik pemerintah di 25 propinsi di Indonesia

    Pada awalnya praktik keperawatan jiwa di rumah sakit dilakukan dengan “Custodial Care” (tertutup dan isolatif)

    Berdasarkan UU No. 3 Tahun 1966, tentang Kesehatan Jiwa, terjadi modernisasi karena upaya kesehatan jiwa dilaksanakan secara komprehensif (promotif, kuratif, rehabilitatif), ditujukan kepada individu dan masyarakat


    Melalui program Pelita I – V, pelayanan keswa menjadi lebih luas
    Rumah sakit jiwa menjadi pusat pembinaan keswa

    Yan Keswa bukan hanya ditujukan pada klien gangguan jiwa tetapi juga pada klien dengan berbagai masalah psikososial, yang ditujukan pada semua orang dan lapisan masyarakat sehingga tercapai sehat mental dan hidup harmonis serta produktif



DEFINISI
    Kerangka kerja konseptual adalah metode-metode yang digunakan untuk mengorganisasikan pengetahuan yang menjadi dasar untuk memahami perilaku manusia dan hubungan antara berbagai faktor biologi, proses perkembangan, dan pengaruh lingkungan.
FUNGSI
    Memungkinkan dilakukannya pengorganisasian pengetahuan secara sistematik, membimbing pengumpulan data, memberikan penjelasan atas perilaku yang dikaji, membimbing pembuatan rencana asuhan, memberi rasional atas pemilihan intervensi, dan menentukan kriteria evaluasi untuk pengukuran hasil

    Membimbing penelitian dengan memberikan asumsi yang harus diuji.
KERANGKA KERJA YANG DIGUNAKAN DALAM PERAWATAN PSIKIATRIK
    Teori – teori Psikobiologi
    Teori – teori perkembangan
    Teori Perilaku
    Teori kemanusiaan / humanistik
PSIKOBIOLOGI
    Definisi : Psikobiologi mrp studi ilmiah tentang hubungan antara struktur dan fungsi otak, proses biokimia dan hormonal, genetika, pengalaman lingkungan dan perilaku manusia.

    Neuroanatomi dan perilaku
    Baca : Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik, Ann Isaacs, EGC hal. 24-26

    Faktor Biologi dan Lingkungan



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku