Proses Penuaan dan Program Anti Penuaan



Pendahuluan
Proses penuaan (aging menyebabkan perubahaan baik anatomis maupun fisiologis yang berakibat didapatkan kemunduran fungsi organ, yang kemudian diikuti oleh penyakit. Oleh karena itu lanjut usia dicirikan dengan kemunduran fungsi organ disertai dengan penyakit jamak (multi organ disease). Ilmu kedokteran anti penuaan (anti-aging medicine) bertujuan dan berperan untuk memajukan kesehatan dan mengurangi penyakit. Dikenal usia kronologis dan usia biologis. Diharapkan usia biologis dapat dipertahankan lebih muda daripada usia kronologis, bahkan berusaha mencapai dan mempertahankan fungsi secara optimum.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan bioteknologi ada banyak cara untuk melaksanakan program anti penuaan, yang meliputi program gaya hidup, intervensi nutrisi, penggunaan hormon, lingkungan, sampai pada pengobatan dengan stream cell, dan lain-lain.
Pada makalah ini dibahas teori tentang proses penuaan, perubahan yang terjadi dan upaya yang dilakukan untuk program anti penuaan dalam kedokteran anti penuaan
PROSES PENUAAN
Untuk dapat mempelajari mengenai bagaimana dapat mencegah proses penuaan maka terlebih dahulu perlu mengetahui dan memahami mengapa dan bagaimana proses penuaan tersebut terjadi. Penuaan biologis disifatkan oleh 2 langkah, yaitu pertama penurunan vitalitas, dan kedua pengingkatan penyakit terkait usia. Oleh karena itu seorang lansia (lanjut usia) dicirikan dengan kemunduran fungsi organ disertai dengan penyakit jamak (multi organ disease). Dikenal banyak penyakit yang terkait usia seperti resistensi insulin, penyakit jantung koroner, stroke, arthritis, penyakit Alzheimer, dementia, kanker dan lain-lain.
Untuk mengukur vitalitas ada parameter vitalitas sehingga penilaian dapat dilakukan secara subyektif dan juga obyektif. 1,2,3
Teori
Ada banyak teori menganai proses penuaan, yaitu antara lain teori degenerasi, metabolik, oksidan-antioksidan, inflamasi, dan gen serta kegagalan sistem.
Pada teori degenerasi dan metabolik penuaan dianggap merupakan proses wajar karena degenerasi dan juga disebabkan perubahan metabolisme. Teori oksidan-antioksidan mengemukakan keseimbangan antara zat prooksidan yang banyak terdapat dari lingkungan (polusi, makanan, dan lain-lain) dan antioksidan yang ada pada tubuh dan juga dari lingkungan (makanan, sayuran dan buah-buahan, makan organik, makrobiotik). Bila keseimbangan terganggu dimana prooksidan melebihi antioksidan maka terjadi perubahan yang merusak sel, apoptosis sampai mengubah kromosom dan menimbulkan kanker. Teori inflamasi menyatakan bahwa (hampir) semua proses penuaan terjadi karena proses inflamasi, sebagai the common soil hypothesis.
Pada teori gen, tepatnya teori keheningan gen (gene silencing theory) dikatakan bahwa penuaan berhubungan dengan keheningan gen-gen yang penting seperti gen penekan tumor (tumor suppressor genes) dan gen-gen pengendali siklus sel, detoksifikasi, dan metabolisme kolesterol. Gen-gen tersebut aktif pada saat janin, kemudian hening. Pada usia 25 tahun gen aktif mencapai kombinasi optimal dari setelah itu masuk ke keheningan kembali. Proses keheningan gen ini bertanggungjawab pada perubahan hormon pada penyakit dan kanker. Dengan mengembalikan dan mengaktifkan gen-gen tersebut maka proses penuaan dapat dicegah dan dipulihkan.
Teori baru adalah teori kegagalan sistem atau reliability theory of aging. Pada teori ini kegagalan sistem dan unsur-unsurnya dapat diprediksi, diperkirakan, dimengerti dan dioptimasikan. Terdapat data analisis dan model matematis, dan menghentikan proses penuaan tidaklah melawan alam, tetapi menjaga “old as good as new“. 2,3,4,5,6
Proses Menua
Menjadi tua sudah menjadi proses seumur hidup, yang bahkan sudah dimulai sejak awal kehidupan di masa janin, berkembang ke usia bayi, balita, anak, remaja, dewasa muda, dewasa tua dan sampai akhir kehidupan. Proses menua atau penuaan ditandai dengan kemunduran fungsi organ tubuh dalam mempertahankan homeostasis, walaupun masih di bawah kondisi stres fisiologis. Kegagalan mempertahankan homeostasis tersebut menyebabkan penurunan daya tahan tubuh dan memudahkan timbulnya kerusakan. Terjadi beberapa perubahan, yaitu perubahan komposisi tubuh (meliputi berkurangnya air dan sel padat serta bertambahnya lemak), penularan faal tubuh (penurunan vitalitas, kekuatan otot, kelenturan sensi, massa tulang, fungsi otak, kapasitas kardiovaskular, respiratorik, aktivitas hormon, perubahan kulit), penurunan kemampuan adaptasi terhadap stimulus, peningkatan risiko terkena penyakit, dan akhirnya peningkatan mortalitas. Terlihat perubahan fisik beruapa berkurangnya tinggi dan badan, dan menurunnya fungsi organ. 1,2,7,8
Perubahan dalam proses penuaan dapat dibagi dalam 2 tahap. Pertama pertumbuhan (tumbuh kembangan) sejak masa janin, lahir sampai usia 40 tahun. Kedua tahap penurunan mulai usia 40 tahun. Proses dapat terjadi secara lemabat tetapi dapat juga terjadi secara dipercepat. 9



Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
 




Faktor-faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah



Pendahuluan
Dalam beberapa decade belakangan ini angka kematian oleh karena penyakit kardiovaskular terus meningkat dan kini penyakit ini telah merupakan penyebab utama kematian untuk penduduk usia diatas 45 tahun di seluruh dunia. Hal ini dijumpai tidak hanya di negara industri atau negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti di Indonesia. Di Indonesia berdasarkan sensus kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilakukan tiap 4 tahun, sejak tahun 1992 penyakit jantung koroner sudah menduduki peringkat nomor satu. Sampai dengan sensus terbaru peringkat ini masih tetap dipegang oleh penyakit kardiovaskular.
Oleh karena pada prinsipnya pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan maka perlu untuk mengenal tanda-tanda dini penyakit ini agar dapat dilakukan upaya pencegahan, yang terbaik pencegahan primer (sebelum terjadi kelainan) Telah diteliti banyak faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK) atau penyakit arteri koroner yang dalam pengertian lebih luas disebut sebagai penyakit kardiovaskular (PKV) atau aterosklerosis. Telah diterima bahwa penyakit ini disebabkan oleh banyak faktor (multi factorial).
Pada makalah ini akan diuraikan faktor-faktor risiko PJK dan penggolongannya, dan uraian singkat tentang perannya terutama dari aspek laboratorium.
Faktor-faktor Risiko
Sebagaimana telah diterima oleh para ahli, PJK dianggap penyakit dengan banyak faktor risiko. Berdasarkan penelitian epidemiologis dan uji klinis maka faktor-faktor tersebut telah dinilai perannya terhadap terjadinya PJK, PKV atau aterosklerosis. Diharapkan dapat diperoleh faktor penduga, atau peramal yang terbaik untuk memprediksi adanya aterosklerosis dan PJK.
Faktor-faktor risiko yang sering dikemukakan amat beragam meliputi dari faktor genetik, perilaku atau gaya hidup, lipid darah, faktor pembekuan (koagulasi) dan fibrinolisis darah, protein, inflamasi, dan infeksi sampai imunologik. Sebagian dari faktor-faktor tersebut adalah lipid dan lipoprotein (kolesterol total, trigliserida, kolesterol-LDL, kolesterol-HDL, small dense-LDL = sdLDL, oxidized-LDL (ox-LDL), lipoprotein (a), protein (apolipoprotein A-I, apolipoprotein B, sphingomyelinase, phospholipase A2 familiy (Lp-PLA2; sPLA2), Homocystein, Myeloperoxidase (MPO, F2-lsoprostane), faktor-faktor inflamasi (high sensitivity C-reactive protein = hsCRP, serum amyloid antigen = SAA), faktor koagulasi dan fibrinolisis (fibrinogen, D-Dimer, Factor VII, faktor von Willebrand, plasminogen activator inhibitor-1 = PAI-1).

Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
 



Tiroid : Faal dan Kelainan



Pendahuluan
Penyakit dan kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin kedua yang tersering dijumpai setelah diabetes melitus. Kelainan tiroid memberikan pengaruh ke hampir seluruh tubuh karena hormon tiroid mempengaruhi banyak organ. Untuk mempelajari dan mendiagnosis kelainan tiroid perlu memahami sumbu hipotalamus-hipofisis-tiroid, hormon-hormon yang bekerja pada sumbu tersebut serta pengaruhnya kepada organ-organ lain serta sebaliknya pengaruh luar kepada sumbu tersebut. Dengan kemajuan teknik analisis hormon tiroid yang makin peka (sensitif) dan khas (spesifik) maka dimungkinkan untuk melakukan deteksi dini dan keadaan subklinis kelainan tiroid dengan lebih baik.
Pada makalah ini dibahas faal dan kelainan, fisiologi dan patofisiologi, kelainan tiroid yang penting dan sering dijumpai.
Faal Tiroid
Kelenjar tiroid terletak di daerah leher depan, di depan trakea, tepat di bawah laring, berwarna merah coklat dengan 2 lobus yang dihubungkan oleh isthmus. Bentuknya menyerupai kupu-kupu sehingga sering digambarkan demikian.
Secara embrional semula tiroid terletak di belakang lidah yang kemudian sebelum lahir bermigrasi ke leher depan. Oleh karena itu, meski jarang, adakalanya kelenjar tiroid masih berada di belakang lidah atau sebaliknya sudah sampai ke belakang tulang dada (substernum).1,2,3
http://www.abclab.co.id/abc-includes/data/tiroid/tiroid-1.jpg
Gambar 1. Letak kelenjar tiroid 2
Kelenjar tiroid terdiri atas sel-sel epitel kubus rendah yang tersusun membentuk kantung-kantung kecil, folikel-folikel, yang merupakan unit struktural, fungsional, dan sekresi kelenjar tiroid.
Hormon-hormon tiroid
Kelenjar tiroid merupakan organ endokrin yang mengeluarkan (sekresi) hormon-hormon tiroid. Ada 2 jenis hormon utama yaitu tiroksin (thyroxine = T4 = L-3,5,30,50-tetraiodothyronine) dan triiodothyronine (T3 = L-3,5,30-triiodothyronine). Keduanya tersusun oleh 2 residu tirosil (tyrosyl) yang terikat melalui ikatan eter dan digantikan oleh 4 atau 3 residu yodium (iodine). Kuantitatif terbanyak adalah T4 sebagai hormon utama dan sedikit T3. Tetapi T3 merupakan hormon yang aktif biologis (potensi metabolik 3x daripada T4), dan T4 dianggap sebagai precursor atau prohormon, yang bila diperlukan dipecah di jaringan untuk membentuk T3.
Enzim Tiroperoksidase (Thyroperoxidase =TPO) adalah salah satu enzim utama yang disintesis di dalam retikulum endoplasmik tirosit dan mengoksidasi yodium memfasilitasi pembentukan T3 dan T4. Yodium merupakan unsur penting hormon tiroid, menyusun 65% dari berat T4 dan 58% dari berat T3. Di jaringan perifer misalnya hati terjadi deyodinasi T4 yang menghasilkan T3 (2 yodium pada cincin dalam dan 1 yodium di cincin luar molekulnya) dan reverse T3 (rT3) (1 yodium pada cincin dalam dan 2 yodium pada cincin luar molekulnya). rT3 ini tidak mempunyai keaktifan biologis.1,2,3,4
http://www.abclab.co.id/abc-includes/data/tiroid/tiroid-2.jpg
Gambar 2. Hormon-hormon tiroid 1
Sekresi hormon tiroid
Di dalam kelenjar tiroid, hormon T3 dan T4 terikat kepada tiroglobulin (thyroglobulin). Oleh bimbingan hormon pemicu tiroid (thyroid-stimulating hormone = TSH) terjadi pengeluaran hormon T4 dengan sedikit T3 dan tiroglobulin. Pada keadaan normal, ada variasi diurnal TSH dengan meningkat 2-3x dari nilai dasar (baseline value) pada pk 10-11 malam dan menurun pada pk 10-11 pagi. Sekresi TSH diatur oleh kadar hormon tiroid yang beredar melalui mekanisme umpan balik negatif (negative-feedback loop) dan hormon pelepas tirotropin yang dikeluarkan oleh hipotalamus (hypothalamic thyrotropin-releasing hormone = TRH). 2,3
T4 diproduksi lebih banyak dan didapatkan di plasma dengan kadar lebih tinggi daripada T3. Masa paruh T4 4-6 hari, sedangkan T3 hanya 1 hari. Sebagian besar (85%) T4 terikat pada protein globulin pengikat tiroid (thyroid-binding globulin = TBG) dan 10-15% dengan pra albumin pengikat tiroksin (thyroxine-binding prealbumin = TBPA) serta 5% dengan albumin. Sebagian kecil, kurang dari 1% dalam bentuk bebas tidak terikat, freeT3 (fT3 atau FT3) dan freeT4 (fT4 atau FT4), yang merupakan fraksi aktif biologis, umumnya tidak terpengaruh oleh kelainan protein pengikat tiroid. Hormon T4 terikat kuat dengan TBG, sedangkan T3 terikat kurang kuat kepada TBG tetapi lebih kuat kepada TBPA dan albumin. Sebagian besar kadar T3 serum (> 75%) dihasilkan dari konversi T4 di perifer. Pada penyakit nontiroid (nonthyroidal illness = NTI), konversi T4 menjadi T3 berkurang dan konversi menjadi reverse T3 (rT3) meningkat. 4
http://www.abclab.co.id/abc-includes/data/tiroid/tiroid-3.jpg
Gambar 3. Mekanisme konversi T4 menjadi T3 di tingkat selular dan mekanisme umpan balik 2

Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
 



Tiroid: Pemeriksaan Laboratorium



Pendahuluan
Penafsiran hasil pemeriksaan laboratorium fungsi tiroid harus dilakukan dengan pemahaman patofisiologi, riwayat sakit dari kelainan yang dicurigai. Uji laboratorium hanya mewakili keadaan sesaat (snapshot) fungsi tiroid pada saat sampel darah diambil. Tidak semua kelainan tiroid menunjukkan kelainan fungsi tiroid, juga ada yang tanpa gejala (hipertiroidisme dan hipotiroidisme subklinis). Sebaliknya adanya kelainan fungsi tiroid juga tidak selalu mencerminkan gangguan fungsi tiroid, yaitu pada keadaan non thyroidal illnesses. Walaupun pola jelas menunjukkan kelainan uji berkaitan dengan keadaan penyakit tertentu, banyak kelainan yang tidak statis, misalnya tiroiditis pasca melahirkan (postpartum). Juga ada pengaruh obat-obatan.
Hasil analisis hormon-hormon tiroid dapat membantu menegakkan diagnosis, diagnosis banding dan memantau perjalanan penyakit serta hasil pengobatan yang berkaitan dengan kelenjar tiroid. Kemajuan teknik metodologi analisis hormon yang makin sensitif dan spesifik telah banyak mempermudah diagnosis laboratorium. Penting untuk dapat memilih parameter-parameter yang sesuai.
Pada makalah ini akan dibahas tentang perkembangan analisis laboratorium hormon tiroid, pemilihan parameter pada keadaan tiroid tertentu, beberapa bagan alir (flow chart) serta keterbatasannya.
PERKEMBANGAN ANALISIS HORMON TIROID
Analisis hormon-hormon tiroid mulai berkembang setelah diperkenalkan teknik radioimmunoassay (RIA) pada awal tahun 1970-an, diikuti dengan immunoradiometric assay (IRMA), enzyme-linked immunoassay (Elisa) dan enzyme immunoassay (EIA) serta yang terbaru electrochemiluminescent assay (ECLIA). Cara ECLIA menjadi metoda yang paling peka dibandingkan yang terdahulu. Cara ini dikembangkan sejak akhir tahun 1980-an dan pada Kursus Laboratory Endocrinology di Singapore di tahun 1989 sudah dinyatakan sebagai metoda yang menjanjikan untuk analisis hormon. Kepekaan bergeser dari kadar microgram/dL menjadi nanogram/dL bahkan pikogram/dL. Cara-cara ini juga sudah diterapkan pada otomasi (automated analyzer). Dengan demikian selain makin peka juga ketelitian dan ketepatan analisis hormon makin baik.
Selain hormon juga dikembangkan beberapa jenis antibodi yang berperan pada penyakit tiroid otoimun.
PEMILIHAN PARAMETER HORMON TIROID
Dalam Pedoman dari Persatuan Tiroid Amerika (American Thyroid Association), dinyatakan bahwa pemilihan uji laboratorium yang tepat akan memungkinkan klinisi mendiagnosis kelainan tiroid secara langsung pada kebanyakan pasien. Pada saat kini penetapan tiroksin bebas, FT4 dan FT3, dan tirotropin yang peka, sensitiveTSH (sTSH, dianjurkan sebagai uji utama untuk penyakit tiroid. Kadar tiroksin bebas yang rendah dan peningkatan tirotropin memastikan diagnosis hipotiroidisme oleh kegagalan kelenjar tiroid. Sebaliknya peningkatan kadar tiroksin bebas dan penurunan tirotropin serum sampai kurang dari 0.1 mU/L menegakkan diagnosis tirotoksikosis. Pada pasien sakit (sick patients), tiroksin bebas yang normal atau meningkat disertai dengan tirotropin yang normal mengesankan tiada hipotiroidisme ataupun tirotoksikosis. Pada pasien sakit berat, umumnya di ruang perawatan intensif, mendapatkan obat-obatan tertentu, juga pasien dengan kelainan tiroid yang tidak lazim, mungkin menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium yang membingungkan. Pada keadaan NTI tersebut diperlukan pemahaman pato-fisiologi tiroid dan konsultasi dengan endokrinologist.1



Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
 



Diagnosis Laboratorium Hepatitis Virus dengan Penanda Virus Hepatitis


Pendahuluan
Infeksi virus hepatitis terutama jenis B dan C telah merupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Saat ini diperkirakan terdapat 400 juta orang di seluruh dunia mengidap virus hepatitis B (VHB) dan C (VHC) dengan risiko penyulit menjadi hepatitis kronis, sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler, dengan angka kematian tinggi. Penatalaksanaannya memerlukan bantuan pemeriksaan laboratorium terutama uji fungsi hati dan penanda serologis virus, baik untuk penapisan, diagnosis, dan pemantauan pengobatan. Adanya berbagai bentuk klinis hepatitis dari yang akut, kronis dan pembawa “sehat”, variasi respons terhadap pengobatan disebabkan perbedaan status infeksi, ras/etnik, juga timbulnya mutant mendorong para ilmuwan untuk terus meneliti dan menyusun konsensus mengenai penatalaksanaannya.
Diawali oleh penemuan HBsAg oleh Blumberg dkk pada tahun 1963, telah membuka cakrawala baru diagnostik virus hepatitis dan virus-virus lain merintis era biomolekular. Kemudian dengan mikroskop elektron Dane dkk telah menemukan virus hepatitis B (VHB). Untuk itu keduanya mendapatkan hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran. Pada tahun 1973 ditemukan enzim polimerase DNA endogen di dalam inti partikel VHB tersebut yang memungkinkan Robinson dkk mendeteksi dan menggambarkan genom VHB sebagai molekul DNA untai ganda yang kecil. Penemuan demi penemuan telah melengkapi diagnostik serologik virus. 1
Pada artikel ini dibahas perkembangan terkini diagnosis laboratorium hepatitis virus khususnya yang disebabkan oleh virus hepatitis dengan menggunakan penanda serologik virus hepatitis. Pembahasan disusun dengan sistem tanya jawab.
1. Apakah yang dimaksudkan dengan hepatitis?
Hepatitis atau radang hati dapat berupa kelainan proses akut dan kronis. Hepatitis akut bila peradangan hanya berlangsung singkat dan dianggap kronis bila sampai lebih dari 6 bulan proses masih terus berlangsung baik berupa peradangan, kelainan uji fungsi hati atau menetapnya HBsAg+ dan anti-HCV+. Hepatitis dapat berlanjut menjadi sirosis hati, hepatoma atau karsinoma hati primer sampai gagal hati. 2
2. Apa saja penyebab hepatitis?
Penyebab hepatitis ada banyak ragamnya, tetapi yang utama terbanyak adalah kelompok virus hepatitis yaitu virus hepatitis A, B, C, D, E, F, G, H dan TT. Penyebab lain adalah virus-virus lain seperti Sitomegalovirus (CMV), Epstein-Barr (EB), Herpes-Varicella (HV), juga bakteri misalnya Salmonela pada demam tifoid, beberapa parasit, bahan toksik seperti obat-obatan, alkohol, toksin, serta kelainan imunitas otoantibodi. 1,2
3. Apa saja jenis virus hepatitis terutama yang dikenal di Indonesia?
Dari sekian banyak jenis virus hepatitis yang telah diketahui maka yang pernah dilaporkan di Indonesia adalah jenis virus hepatitis A, B, C, E, dan TT. Virus Hepatitis A (VHA) termasuk virus RNA, keluarga Picornavirus genus Hepadnavirus, yang tidak berkapsul, berukuran 27 nm. Virus Hepatitis B (VHB) termasuk virus DNA, genus Hepadnavirus, berukuran 42 nm, terdiri atas bagian inti (core) dan kapsul (envelope). Virus hepatitis C (VHC) merupakan virus RNA, termasuk Flavivirus, berukuran 30-60 nm. Virus hepatitis E (VHE) merupakan virus RNA, berukuran 32-34 nm. Virus hepatitis TT (VHTT), merupakan virus DNA, termasuk Circoviridae, tidak berkapsul, terdiri atas DNA untai tunggal, berukuran 30-50 nm. 2
4. Bagaimanakah virus-virus tersebut menyebabkan hepatitis?
Cara penularan virus-virus hepatitis tersebut dapat terjadi melalui beberapa cara yang tidak sama. Transmisi infeksi VHA dan VHE dapat terjadi melalui air yang tercemar (tinja penderita), secara enterik, sebagai “fecal-oral” atau “water-borne“. Transmisi VHB melalui produk darah dan cairan tubuh dengan cara suntikan, transfusi darah atau produk darah (parenteral), kontak seksual dan sewaktu lahir (perinatal); VHC melalui cara parenteral, dan mungkin perinatal; VHTT serupa dengan VHB.
Gambaran klasik hepatitis virus terdiri dari masa inkubasi, gejala prodromal, masa klinis kuning (ikterus, jaundice), lalu masa penyembuhan. Secara umum dari gambaran klinis sukar untuk membedakan hepatitis virus yang satu dari yang lain bahkan juga dari hepatitis yang disebabkan oleh penyebab lain. Semua virus hepatitis bereplikasi di hepatosit.
Pada akhir masa inkubasi dan fase pra ikterus VHA ditemukan juga di saluran empedu, darah dan tinja. Umumnya bersifat sembuh sendiri (self-limited) dan jarang menjadi kronis.
Pada infeksi VHB di dalam darah pasien mungkin dapat dijumpai adanya partikel VHB, partikel sferis dan tubular. VHB sendiri dianggap tidak sitopatik. Perjalanan penyakitnya bervariasi, dapat akut, fulminant, kronis, sampai tidak aktif, tergantung pada respons imunitas selular dari pejamu (host) dan dipengaruhi oleh usia. Hipotesisnya adalah limfosit T akan melisiskan hepatosit yang terinfeksi oleh VHB. Bila reaksi amat kuat terjadi bentuk klinis fulminant, bila reaksi cukup terjadi bentuk klinis akut, bila reaksi tidak cukup terjadi bentuk klinis kronis dan bila reaksi kurang atau tiada maka menjadi bentuk klinis tidak aktif (dahulu disebut pembawa virus asimtomatis atau pembawa “sehat”). 

 Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini



 
© 2010-2012 My Documentku