|
Pendahuluan
Proses penuaan (aging menyebabkan perubahaan
baik anatomis maupun fisiologis yang berakibat didapatkan kemunduran fungsi
organ, yang kemudian diikuti oleh penyakit. Oleh karena itu lanjut usia dicirikan
dengan kemunduran fungsi organ disertai dengan penyakit jamak (multi organ
disease). Ilmu kedokteran anti penuaan (anti-aging medicine)
bertujuan dan berperan untuk memajukan kesehatan dan mengurangi penyakit.
Dikenal usia kronologis dan usia biologis. Diharapkan usia biologis dapat
dipertahankan lebih muda daripada usia kronologis, bahkan berusaha mencapai
dan mempertahankan fungsi secara optimum.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
bioteknologi ada banyak cara untuk melaksanakan program anti penuaan, yang
meliputi program gaya hidup, intervensi nutrisi, penggunaan hormon,
lingkungan, sampai pada pengobatan dengan stream cell, dan lain-lain.
Pada makalah ini dibahas teori tentang proses
penuaan, perubahan yang terjadi dan upaya yang dilakukan untuk program anti
penuaan dalam kedokteran anti penuaan
PROSES
PENUAAN
Untuk
dapat mempelajari mengenai bagaimana dapat mencegah proses penuaan maka
terlebih dahulu perlu mengetahui dan memahami mengapa dan bagaimana proses
penuaan tersebut terjadi. Penuaan biologis disifatkan oleh 2 langkah, yaitu
pertama penurunan vitalitas, dan kedua pengingkatan penyakit terkait usia.
Oleh karena itu seorang lansia (lanjut usia) dicirikan dengan kemunduran
fungsi organ disertai dengan penyakit jamak (multi organ disease).
Dikenal banyak penyakit yang terkait usia seperti resistensi insulin,
penyakit jantung koroner, stroke, arthritis, penyakit Alzheimer, dementia,
kanker dan lain-lain.
Untuk
mengukur vitalitas ada parameter vitalitas sehingga penilaian dapat dilakukan
secara subyektif dan juga obyektif. 1,2,3
Teori
Ada banyak
teori menganai proses penuaan, yaitu antara lain teori degenerasi, metabolik,
oksidan-antioksidan, inflamasi, dan gen serta kegagalan sistem.
Pada teori
degenerasi dan metabolik penuaan dianggap merupakan proses wajar karena
degenerasi dan juga disebabkan perubahan metabolisme. Teori
oksidan-antioksidan mengemukakan keseimbangan antara zat prooksidan yang
banyak terdapat dari lingkungan (polusi, makanan, dan lain-lain) dan
antioksidan yang ada pada tubuh dan juga dari lingkungan (makanan, sayuran
dan buah-buahan, makan organik, makrobiotik). Bila keseimbangan terganggu
dimana prooksidan melebihi antioksidan maka terjadi perubahan yang merusak
sel, apoptosis sampai mengubah kromosom dan menimbulkan kanker. Teori
inflamasi menyatakan bahwa (hampir) semua proses penuaan terjadi karena
proses inflamasi, sebagai the common soil hypothesis.
Pada teori
gen, tepatnya teori keheningan gen (gene silencing theory) dikatakan
bahwa penuaan berhubungan dengan keheningan gen-gen yang penting seperti gen
penekan tumor (tumor suppressor genes) dan gen-gen pengendali siklus
sel, detoksifikasi, dan metabolisme kolesterol. Gen-gen tersebut aktif pada
saat janin, kemudian hening. Pada usia 25 tahun gen aktif mencapai kombinasi
optimal dari setelah itu masuk ke keheningan kembali. Proses keheningan gen
ini bertanggungjawab pada perubahan hormon pada penyakit dan kanker. Dengan
mengembalikan dan mengaktifkan gen-gen tersebut maka proses penuaan dapat
dicegah dan dipulihkan.
Teori baru
adalah teori kegagalan sistem atau reliability theory of aging. Pada
teori ini kegagalan sistem dan unsur-unsurnya dapat diprediksi, diperkirakan,
dimengerti dan dioptimasikan. Terdapat data analisis dan model matematis, dan
menghentikan proses penuaan tidaklah melawan alam, tetapi menjaga “old as
good as new“. 2,3,4,5,6
Proses
Menua
Menjadi
tua sudah menjadi proses seumur hidup, yang bahkan sudah dimulai sejak awal
kehidupan di masa janin, berkembang ke usia bayi, balita, anak, remaja, dewasa
muda, dewasa tua dan sampai akhir kehidupan. Proses menua atau penuaan
ditandai dengan kemunduran fungsi organ tubuh dalam mempertahankan
homeostasis, walaupun masih di bawah kondisi stres fisiologis. Kegagalan
mempertahankan homeostasis tersebut menyebabkan penurunan daya tahan tubuh
dan memudahkan timbulnya kerusakan. Terjadi beberapa perubahan, yaitu
perubahan komposisi tubuh (meliputi berkurangnya air dan sel padat serta
bertambahnya lemak), penularan faal tubuh (penurunan vitalitas, kekuatan otot,
kelenturan sensi, massa tulang, fungsi otak, kapasitas kardiovaskular,
respiratorik, aktivitas hormon, perubahan kulit), penurunan kemampuan
adaptasi terhadap stimulus, peningkatan risiko terkena penyakit, dan akhirnya
peningkatan mortalitas. Terlihat perubahan fisik beruapa berkurangnya tinggi
dan badan, dan menurunnya fungsi organ. 1,2,7,8
Perubahan
dalam proses penuaan dapat dibagi dalam 2 tahap. Pertama pertumbuhan (tumbuh
kembangan) sejak masa janin, lahir sampai usia 40 tahun. Kedua tahap
penurunan mulai usia 40 tahun. Proses dapat terjadi secara lemabat tetapi
dapat juga terjadi secara dipercepat. 9
Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
|
Proses Penuaan dan Program Anti Penuaan
Faktor-faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Pendahuluan
Dalam beberapa decade belakangan ini angka kematian
oleh karena penyakit kardiovaskular terus meningkat dan kini penyakit ini
telah merupakan penyebab utama kematian untuk penduduk usia diatas 45 tahun
di seluruh dunia. Hal ini dijumpai tidak hanya di negara industri atau negara
maju tetapi juga di negara berkembang seperti di Indonesia. Di Indonesia
berdasarkan sensus kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilakukan tiap 4 tahun,
sejak tahun 1992 penyakit jantung koroner sudah menduduki peringkat nomor
satu. Sampai dengan sensus terbaru peringkat ini masih tetap dipegang oleh
penyakit kardiovaskular.
Oleh karena pada prinsipnya pencegahan jauh lebih
baik daripada pengobatan maka perlu untuk mengenal tanda-tanda dini penyakit
ini agar dapat dilakukan upaya pencegahan, yang terbaik pencegahan primer
(sebelum terjadi kelainan) Telah diteliti banyak faktor risiko penyakit
jantung koroner (PJK) atau penyakit arteri koroner yang dalam pengertian
lebih luas disebut sebagai penyakit kardiovaskular (PKV) atau aterosklerosis.
Telah diterima bahwa penyakit ini disebabkan oleh banyak faktor (multi
factorial).
Pada makalah ini akan diuraikan faktor-faktor risiko
PJK dan penggolongannya, dan uraian singkat tentang perannya terutama dari
aspek laboratorium.
Faktor-faktor
Risiko
Sebagaimana telah diterima oleh para ahli, PJK dianggap penyakit dengan banyak faktor risiko. Berdasarkan penelitian epidemiologis dan uji klinis maka faktor-faktor tersebut telah dinilai perannya terhadap terjadinya PJK, PKV atau aterosklerosis. Diharapkan dapat diperoleh faktor penduga, atau peramal yang terbaik untuk memprediksi adanya aterosklerosis dan PJK.
Faktor-faktor
risiko yang sering dikemukakan amat beragam meliputi dari faktor genetik,
perilaku atau gaya hidup, lipid darah, faktor pembekuan (koagulasi) dan
fibrinolisis darah, protein, inflamasi, dan infeksi sampai imunologik.
Sebagian dari faktor-faktor tersebut adalah lipid dan lipoprotein (kolesterol
total, trigliserida, kolesterol-LDL, kolesterol-HDL, small dense-LDL = sdLDL,
oxidized-LDL (ox-LDL), lipoprotein (a), protein (apolipoprotein A-I,
apolipoprotein B, sphingomyelinase, phospholipase A2 familiy (Lp-PLA2;
sPLA2), Homocystein, Myeloperoxidase (MPO, F2-lsoprostane), faktor-faktor
inflamasi (high sensitivity C-reactive protein = hsCRP, serum
amyloid antigen = SAA), faktor koagulasi dan fibrinolisis (fibrinogen,
D-Dimer, Factor VII, faktor von Willebrand, plasminogen activator inhibitor-1
= PAI-1).
Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
|
Tiroid : Faal dan Kelainan
|
Pendahuluan
Penyakit dan kelainan tiroid merupakan kelainan
endokrin kedua yang tersering dijumpai setelah diabetes melitus. Kelainan
tiroid memberikan pengaruh ke hampir seluruh tubuh karena hormon tiroid
mempengaruhi banyak organ. Untuk mempelajari dan mendiagnosis kelainan tiroid
perlu memahami sumbu hipotalamus-hipofisis-tiroid, hormon-hormon yang bekerja
pada sumbu tersebut serta pengaruhnya kepada organ-organ lain serta
sebaliknya pengaruh luar kepada sumbu tersebut. Dengan kemajuan teknik
analisis hormon tiroid yang makin peka (sensitif) dan khas (spesifik) maka
dimungkinkan untuk melakukan deteksi dini dan keadaan subklinis kelainan
tiroid dengan lebih baik.
Pada makalah ini dibahas faal dan kelainan,
fisiologi dan patofisiologi, kelainan tiroid yang penting dan sering
dijumpai.
Faal
Tiroid
Kelenjar
tiroid terletak di daerah leher depan, di depan trakea, tepat di bawah
laring, berwarna merah coklat dengan 2 lobus yang dihubungkan oleh isthmus.
Bentuknya menyerupai kupu-kupu sehingga sering digambarkan demikian.
Secara
embrional semula tiroid terletak di belakang lidah yang kemudian sebelum
lahir bermigrasi ke leher depan. Oleh karena itu, meski jarang, adakalanya
kelenjar tiroid masih berada di belakang lidah atau sebaliknya sudah sampai
ke belakang tulang dada (substernum).1,2,3
![]()
Gambar 1. Letak kelenjar tiroid 2
Kelenjar
tiroid terdiri atas sel-sel epitel kubus rendah yang tersusun membentuk
kantung-kantung kecil, folikel-folikel, yang merupakan unit struktural,
fungsional, dan sekresi kelenjar tiroid.
Hormon-hormon
tiroid
Kelenjar
tiroid merupakan organ endokrin yang mengeluarkan (sekresi) hormon-hormon
tiroid. Ada 2 jenis hormon utama yaitu tiroksin (thyroxine = T4 =
L-3,5,30,50-tetraiodothyronine) dan triiodothyronine (T3 =
L-3,5,30-triiodothyronine). Keduanya tersusun oleh 2 residu tirosil (tyrosyl)
yang terikat melalui ikatan eter dan digantikan oleh 4 atau 3 residu yodium (iodine).
Kuantitatif terbanyak adalah T4 sebagai hormon utama dan sedikit T3. Tetapi
T3 merupakan hormon yang aktif biologis (potensi metabolik 3x daripada T4),
dan T4 dianggap sebagai precursor atau prohormon, yang bila diperlukan
dipecah di jaringan untuk membentuk T3.
Enzim
Tiroperoksidase (Thyroperoxidase =TPO) adalah salah satu enzim utama
yang disintesis di dalam retikulum endoplasmik tirosit dan mengoksidasi
yodium memfasilitasi pembentukan T3 dan T4. Yodium merupakan unsur penting
hormon tiroid, menyusun 65% dari berat T4 dan 58% dari berat T3. Di jaringan
perifer misalnya hati terjadi deyodinasi T4 yang menghasilkan T3 (2 yodium
pada cincin dalam dan 1 yodium di cincin luar molekulnya) dan reverse T3
(rT3) (1 yodium pada cincin dalam dan 2 yodium pada cincin luar molekulnya).
rT3 ini tidak mempunyai keaktifan biologis.1,2,3,4
![]()
Gambar 2. Hormon-hormon tiroid 1
Sekresi
hormon tiroid
Di dalam
kelenjar tiroid, hormon T3 dan T4 terikat kepada tiroglobulin (thyroglobulin).
Oleh bimbingan hormon pemicu tiroid (thyroid-stimulating hormone =
TSH) terjadi pengeluaran hormon T4 dengan sedikit T3 dan tiroglobulin. Pada
keadaan normal, ada variasi diurnal TSH dengan meningkat 2-3x dari nilai
dasar (baseline value) pada pk 10-11 malam dan menurun pada pk 10-11
pagi. Sekresi TSH diatur oleh kadar hormon tiroid yang beredar melalui
mekanisme umpan balik negatif (negative-feedback loop) dan hormon
pelepas tirotropin yang dikeluarkan oleh hipotalamus (hypothalamic
thyrotropin-releasing hormone = TRH). 2,3
T4
diproduksi lebih banyak dan didapatkan di plasma dengan kadar lebih tinggi
daripada T3. Masa paruh T4 4-6 hari, sedangkan T3 hanya 1 hari. Sebagian
besar (85%) T4 terikat pada protein globulin pengikat tiroid (thyroid-binding
globulin = TBG) dan 10-15% dengan pra albumin pengikat tiroksin (thyroxine-binding
prealbumin = TBPA) serta 5% dengan albumin. Sebagian kecil, kurang dari
1% dalam bentuk bebas tidak terikat, freeT3 (fT3 atau FT3) dan freeT4 (fT4
atau FT4), yang merupakan fraksi aktif biologis, umumnya tidak terpengaruh
oleh kelainan protein pengikat tiroid. Hormon T4 terikat kuat dengan TBG,
sedangkan T3 terikat kurang kuat kepada TBG tetapi lebih kuat kepada TBPA dan
albumin. Sebagian besar kadar T3 serum (> 75%) dihasilkan dari konversi T4
di perifer. Pada penyakit nontiroid (nonthyroidal illness = NTI),
konversi T4 menjadi T3 berkurang dan konversi menjadi reverse T3 (rT3)
meningkat. 4
![]()
Gambar 3. Mekanisme konversi T4 menjadi T3 di tingkat selular
dan mekanisme umpan balik 2
Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
|
Tiroid: Pemeriksaan Laboratorium
Pendahuluan
Penafsiran hasil pemeriksaan laboratorium fungsi
tiroid harus dilakukan dengan pemahaman patofisiologi, riwayat sakit dari
kelainan yang dicurigai. Uji laboratorium hanya mewakili keadaan sesaat
(snapshot) fungsi tiroid pada saat sampel darah diambil. Tidak semua kelainan
tiroid menunjukkan kelainan fungsi tiroid, juga ada yang tanpa gejala
(hipertiroidisme dan hipotiroidisme subklinis). Sebaliknya adanya kelainan
fungsi tiroid juga tidak selalu mencerminkan gangguan fungsi tiroid, yaitu
pada keadaan non thyroidal illnesses. Walaupun pola jelas menunjukkan
kelainan uji berkaitan dengan keadaan penyakit tertentu, banyak kelainan yang
tidak statis, misalnya tiroiditis pasca melahirkan (postpartum). Juga ada
pengaruh obat-obatan.
Hasil analisis hormon-hormon tiroid dapat membantu
menegakkan diagnosis, diagnosis banding dan memantau perjalanan penyakit
serta hasil pengobatan yang berkaitan dengan kelenjar tiroid. Kemajuan teknik
metodologi analisis hormon yang makin sensitif dan spesifik telah banyak
mempermudah diagnosis laboratorium. Penting untuk dapat memilih parameter-parameter
yang sesuai.
Pada makalah ini akan dibahas tentang perkembangan
analisis laboratorium hormon tiroid, pemilihan parameter pada keadaan tiroid
tertentu, beberapa bagan alir (flow chart) serta keterbatasannya.
PERKEMBANGAN
ANALISIS HORMON TIROID
Analisis
hormon-hormon tiroid mulai berkembang setelah diperkenalkan teknik
radioimmunoassay (RIA) pada awal tahun 1970-an, diikuti dengan
immunoradiometric assay (IRMA), enzyme-linked immunoassay (Elisa) dan enzyme
immunoassay (EIA) serta yang terbaru electrochemiluminescent assay (ECLIA).
Cara ECLIA menjadi metoda yang paling peka dibandingkan yang terdahulu. Cara
ini dikembangkan sejak akhir tahun 1980-an dan pada Kursus Laboratory
Endocrinology di Singapore di tahun 1989 sudah dinyatakan sebagai metoda yang
menjanjikan untuk analisis hormon. Kepekaan bergeser dari kadar microgram/dL
menjadi nanogram/dL bahkan pikogram/dL. Cara-cara ini juga sudah diterapkan
pada otomasi (automated analyzer). Dengan demikian selain makin peka juga
ketelitian dan ketepatan analisis hormon makin baik.
Selain
hormon juga dikembangkan beberapa jenis antibodi yang berperan pada penyakit
tiroid otoimun.
PEMILIHAN
PARAMETER HORMON TIROID
Dalam
Pedoman dari Persatuan Tiroid Amerika (American Thyroid Association),
dinyatakan bahwa pemilihan uji laboratorium yang tepat akan memungkinkan
klinisi mendiagnosis kelainan tiroid secara langsung pada kebanyakan pasien.
Pada saat kini penetapan tiroksin bebas, FT4 dan FT3, dan tirotropin yang
peka, sensitiveTSH (sTSH, dianjurkan sebagai uji utama untuk penyakit tiroid.
Kadar tiroksin bebas yang rendah dan peningkatan tirotropin memastikan
diagnosis hipotiroidisme oleh kegagalan kelenjar tiroid. Sebaliknya
peningkatan kadar tiroksin bebas dan penurunan tirotropin serum sampai kurang
dari 0.1 mU/L menegakkan diagnosis tirotoksikosis. Pada pasien sakit (sick
patients), tiroksin bebas yang normal atau meningkat disertai dengan
tirotropin yang normal mengesankan tiada hipotiroidisme ataupun
tirotoksikosis. Pada pasien sakit berat, umumnya di ruang perawatan intensif,
mendapatkan obat-obatan tertentu, juga pasien dengan kelainan tiroid yang
tidak lazim, mungkin menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium yang
membingungkan. Pada keadaan NTI tersebut diperlukan pemahaman pato-fisiologi
tiroid dan konsultasi dengan endokrinologist.1
Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
|
Diagnosis Laboratorium Hepatitis Virus dengan Penanda Virus Hepatitis
|
Pendahuluan
Infeksi virus hepatitis terutama jenis B
dan C telah merupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Saat
ini diperkirakan terdapat 400 juta orang di seluruh dunia mengidap virus
hepatitis B (VHB) dan C (VHC) dengan risiko penyulit menjadi hepatitis
kronis, sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler, dengan angka kematian
tinggi. Penatalaksanaannya memerlukan bantuan pemeriksaan laboratorium
terutama uji fungsi hati dan penanda serologis virus, baik untuk penapisan,
diagnosis, dan pemantauan pengobatan. Adanya berbagai bentuk klinis hepatitis
dari yang akut, kronis dan pembawa “sehat”, variasi respons terhadap
pengobatan disebabkan perbedaan status infeksi, ras/etnik, juga timbulnya
mutant mendorong para ilmuwan untuk terus meneliti dan menyusun konsensus
mengenai penatalaksanaannya.
Diawali oleh penemuan HBsAg oleh
Blumberg dkk pada tahun 1963, telah membuka cakrawala baru diagnostik virus
hepatitis dan virus-virus lain merintis era biomolekular. Kemudian dengan
mikroskop elektron Dane dkk telah menemukan virus hepatitis B (VHB). Untuk
itu keduanya mendapatkan hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran. Pada tahun 1973
ditemukan enzim polimerase DNA endogen di dalam inti partikel VHB tersebut
yang memungkinkan Robinson dkk mendeteksi dan menggambarkan genom VHB sebagai
molekul DNA untai ganda yang kecil. Penemuan demi penemuan telah melengkapi
diagnostik serologik virus. 1
Pada artikel ini dibahas perkembangan
terkini diagnosis laboratorium hepatitis virus khususnya yang disebabkan oleh
virus hepatitis dengan menggunakan penanda serologik virus hepatitis.
Pembahasan disusun dengan sistem tanya jawab.
1. Apakah
yang dimaksudkan dengan hepatitis?
Hepatitis atau radang hati dapat berupa kelainan proses akut dan kronis. Hepatitis akut bila peradangan hanya berlangsung singkat dan dianggap kronis bila sampai lebih dari 6 bulan proses masih terus berlangsung baik berupa peradangan, kelainan uji fungsi hati atau menetapnya HBsAg+ dan anti-HCV+. Hepatitis dapat berlanjut menjadi sirosis hati, hepatoma atau karsinoma hati primer sampai gagal hati. 2
2. Apa
saja penyebab hepatitis?
Penyebab hepatitis ada banyak ragamnya, tetapi yang utama terbanyak adalah kelompok virus hepatitis yaitu virus hepatitis A, B, C, D, E, F, G, H dan TT. Penyebab lain adalah virus-virus lain seperti Sitomegalovirus (CMV), Epstein-Barr (EB), Herpes-Varicella (HV), juga bakteri misalnya Salmonela pada demam tifoid, beberapa parasit, bahan toksik seperti obat-obatan, alkohol, toksin, serta kelainan imunitas otoantibodi. 1,2
3. Apa
saja jenis virus hepatitis terutama yang dikenal di Indonesia?
Dari sekian banyak jenis virus hepatitis yang telah diketahui maka yang pernah dilaporkan di Indonesia adalah jenis virus hepatitis A, B, C, E, dan TT. Virus Hepatitis A (VHA) termasuk virus RNA, keluarga Picornavirus genus Hepadnavirus, yang tidak berkapsul, berukuran 27 nm. Virus Hepatitis B (VHB) termasuk virus DNA, genus Hepadnavirus, berukuran 42 nm, terdiri atas bagian inti (core) dan kapsul (envelope). Virus hepatitis C (VHC) merupakan virus RNA, termasuk Flavivirus, berukuran 30-60 nm. Virus hepatitis E (VHE) merupakan virus RNA, berukuran 32-34 nm. Virus hepatitis TT (VHTT), merupakan virus DNA, termasuk Circoviridae, tidak berkapsul, terdiri atas DNA untai tunggal, berukuran 30-50 nm. 2
4.
Bagaimanakah virus-virus tersebut menyebabkan hepatitis?
Cara penularan virus-virus hepatitis tersebut dapat terjadi melalui beberapa cara yang tidak sama. Transmisi infeksi VHA dan VHE dapat terjadi melalui air yang tercemar (tinja penderita), secara enterik, sebagai “fecal-oral” atau “water-borne“. Transmisi VHB melalui produk darah dan cairan tubuh dengan cara suntikan, transfusi darah atau produk darah (parenteral), kontak seksual dan sewaktu lahir (perinatal); VHC melalui cara parenteral, dan mungkin perinatal; VHTT serupa dengan VHB.
Gambaran
klasik hepatitis virus terdiri dari masa inkubasi, gejala prodromal, masa
klinis kuning (ikterus, jaundice), lalu masa penyembuhan. Secara umum
dari gambaran klinis sukar untuk membedakan hepatitis virus yang satu dari
yang lain bahkan juga dari hepatitis yang disebabkan oleh penyebab lain.
Semua virus hepatitis bereplikasi di hepatosit.
Pada akhir masa inkubasi dan fase pra ikterus VHA ditemukan juga di saluran empedu, darah dan tinja. Umumnya bersifat sembuh sendiri (self-limited) dan jarang menjadi kronis. Pada infeksi VHB di dalam darah pasien mungkin dapat dijumpai adanya partikel VHB, partikel sferis dan tubular. VHB sendiri dianggap tidak sitopatik. Perjalanan penyakitnya bervariasi, dapat akut, fulminant, kronis, sampai tidak aktif, tergantung pada respons imunitas selular dari pejamu (host) dan dipengaruhi oleh usia. Hipotesisnya adalah limfosit T akan melisiskan hepatosit yang terinfeksi oleh VHB. Bila reaksi amat kuat terjadi bentuk klinis fulminant, bila reaksi cukup terjadi bentuk klinis akut, bila reaksi tidak cukup terjadi bentuk klinis kronis dan bila reaksi kurang atau tiada maka menjadi bentuk klinis tidak aktif (dahulu disebut pembawa virus asimtomatis atau pembawa “sehat”).
Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
|







