Home » , » KONSEP DASAR SECTIO CAESARIA

KONSEP DASAR SECTIO CAESARIA


KONSEP DASAR SECTIO CAESARIA

A. PENGERTIAN
„Ï Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim [Mansjoer , 2000].
„Ï Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram [Wiknjosastro, 1994].
„Ï Sectio caesarea adalah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga rahim dengan mengiris dinding perut dan dinding rahim [Bagian Obstetri dan Ginekologi, 1985].
„Ï Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau sectio saesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim [Mohtar, 1998].
„Ï Persalinan sectio caesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin >1000 gr atau umur kehamilan >28 minggu [Manuaba, 1995].
„Ï Persalinan caesarean adalah kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus [Hamilton , 1995].
„Ï Sectio caesaria adalah suatu tindakan melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh [Saefuddian , 2001].
„Ï Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Saefuddin, 2005)
2
B. ISTILAH
„X Seksio sesarea primer [efektif].
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit [CV kecil dari 8 cm].
„X Seksio sesarea sekunder.
Dalam hal ini kita bersikap menunggu kelahiran biasa [partus percobaan], bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan seksio sesarea
„X Seksio sesarea ulang [repeat caesarean section] .
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio sesarea [previous caesarean section] dan kehamilan selanjutnya dilakukan seksio sesarea ulang.
„X Seksio sesarea histerektomi [caesarean section hysterektomy]
Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan seksio sesarea, langsung dilakukan histerektomi oleh karena sesuatu indikasi.
„X Operasi Porro [Porro operation].
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri [tentunya janin sudah mati] dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan infeksi rahim yang berat. Seksio sesarea oleh ahli kebidanan disebut obstetric panacea, yaitu obat atau terapi ampuh dari semua masalah obstetri. Mohtar [1998). C. INDIKASI Menurut Wiknjosastro [1994];
„« Indikasi ibu.
„h Panggul sempit absolut
„h Tumor¡Vtumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3
„h Stenosis serviks/ vagina.
„h Plasenta previa.
„h Disporposi sefalopelvik.
„h Ruptura uteri membakat.
„« Indikasi janin.
„h Kelainan letak
„h Gawat janin
Pada umumnya sectio sesarea dilakukan pada :
„h Janin mati
„h Syok, anemia berat sebelum diatasi.
„h Kelainan congenital berat [monster].
Menurut Mansjoer [2000]
1. Disporposi sevalo pelvic.
2. Gawat janin.
3. Plasenta previa
4. Pernah seksio sesarea sebelumnya.
5. Kelainan letak.
6. Incoordinate uterine action.
7. Eklampsia.
8. Hipertensi.
Menurut Mochtar [1998]
1. Plasenta previa sentralis dan lateralis [posterior].
2. Panggul sempit.
Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan janin vias naturalis ialah CV = 8 cm, panggul dengan CV = 8 cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan janin yang normal, harus diselesaikan dengan seksio sesarea. CV adalah 8¡V10 cm boleh dicoba dengan partus percobaan baru setelah gagal dilakukan seksio sesarea sekunder.
4
3. Disporposi sefalo- pelvik yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan panggul.
4. Ruptura uteri mengancam
5. Partus lama [prolonged labor].
6. Partus tak maju [obstructed labor].
7. Distosia serviks.
8. Pre- eklampsi dan hipertensi.
9. Malpresentasi janin.
„X Letak lintang
Greenhill dan Eastman sama- sama sependapat:
„Ï Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesarea adalah cara yang terbaik dalam letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
„Ï Semua primigravida dengan letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
„Ï Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada perkiraan panggul sempit.
„Ï Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara¡Vcara lain.
„X Letak bokong .
Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :
„Ï Panggul sempit.
„Ï Primigravida.
„Ï Janin besar dan berharga.
„X Presentasi dahi dan muka [letak defleksi] bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.
„X Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil.
„X Gemelli, menurut eastman seksio sesarea dianjurkan:
„Ï Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu [shoulder presentation].
„Ï Bila terjadi interlock [locking of the twins].
5
„Ï Distosia oleh karena tumor.
„Ï Gawat janin dan sebagainya.
D.KONTRAINDIKASI
1. Jika janin sudah mati atau berada dalam keadaan jelek sehingga kemungkinan hidup kecil. Dalam keadaan ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi.
2. Jika janin lahir, ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk sectio caesaria ekstraperitoneal tidak tersedia.
3. Jika dokter bedahnya tidak berpengalaman dan keadaan tidak menguntungkan bagi pembedahan serta tidak tersedianya tenaga yang memadai.
E. KLASIFIKASI
Menurut Mochtar [1998]
1. Abdomen [Seksio Sesarea Abdominalis]
„Ï Seksio sesara transperitonealis
„X Seksio sesarea klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
„X Seksio sesara ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim
„Ï Seksio sosarea ekstraperitonealis.
Yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal. Dulu dilakukan pada pasien dengan infeksi intra uterin yang berat. Sekarang jarang dilakukan.
2. Vagina [Seksio Sesarea Vaginalis]
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Sayatan memanjang [longitudinal] menurut Kronig.
6
b. Sayatan melintang [transversal] menurut Kerr
c. Sayatan huruf T [T- incision].
3. Sectio sesarea klasik atau korporal
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim [low cervical transversal] kira¡Vkira 10 cm.
„« Kelebihan
„X Mengeluarkan janin lebih cepat
„X Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
„X Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
„« Kekurangan
„X Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik.
„X Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan.
4. Seksio Sesarea Ismika [Profunda]
„« Kelebihan
„X Penjahitan luka kebih mudah
„X Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
„X Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus kerongga peritonium.
„X Perdarahan kurang
„X Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri spontan kurang/ lebih kecil.
„« Kekurangan
„X Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak.
„X Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi.
5. Seksio Sesarea Hysterectomy.
Setelah seksio sesarea dikerjakan hysterektomi dengan indikasi;
„X Atonia uteri
7
„X Placenta accreta
„X Myoma uteri
„X Infeksi intra uterin yang berat.
Menurut Manuaba [1999], macam¡Vmacam bentuk operasi seksio sesarea adalah;
1. Seksio sesarea klasik menurut Sanger
2. Seksio sesarea transperitoneal profunda menurut Kehrer
3. Seksio sesarea histerektomi menurut Porro
4. Seksio sesarea ekstraperitonial.
„h Menurut Water
„h Menurut Latzco
5. Seksio sesarea transvaginal
F. KOMPLIKASI
Terdapat beberapa bahaya yang telah dikenal bagi fetus bila persalinan dilakukan dengan seksio sesarea, terlepas dari yang ditunjukan oleh keadaan abnormal untuk mana diindikasikan seksio [ Rottgers ]. Resiko ini meliputiĻ
1. Hipoksia akibat sindroma hipotensi terlentang.
2. Depresi pernafasan karena anesthesia
3. Sindroma gawat pernafasan, jelas lebih lazim pada bayi yang dilahirkan dengan seksio
Komplikasi ibuĻ
1. Infeksi yang didapat dirumah sakit, terutama setelah dilakukan seksio pada persalinan.
2. Fenomena tromboemboli, terutama pada multipara dengan varikositas.
3. Ileus, terutama karena peritonitis dan kurang sering karena dasar obstruksi.
4. Kecelakaan anastesi.
[Martius, 1995].
8
Komplikasi menurut Mochtar [1998] yaitu Ļ
1. Infeksi puerperal [nifas].
„X Ringan; dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
„X Sedang; dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
„X Berat ; dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
2. Perdarahan ,disebabkan karenaĻ
„X Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka.
„X Atonia uteri.
„X Perdarahan pada placental bled.
3. Luka kandung kemih, emboli baru dan keluhan kandung kemih bila reperitonealisasi terlalu tinggi.
4. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang.
Komplikasi yang bisa timbul
„« Ibu
a. Infeksi puerperal
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, atau bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya. Infeksi post operatif terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala- gejala infeksi intra partum atau ada faktor-faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu [partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya]. Bahaya infeksi sangat diperkecil dengan pemberian antibiotic akan tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis porfunda.
9
b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri uterina ikut terbuka.
c. Komplikasi¡Vkomplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru¡Vparu dan sebagainya tapi sangat jarang terjadi.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah SC klasik.
„« Anak
Nasib anak yang dilahirkan dengan SC banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan SC.
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan ibu post partum sectio caesarea menurut Manuaba [1999], Saifuddin [2002], Hamilton [1998]. 1. Kesadaran penderita
a. Pada anastesi lumbal Ļ
Kesadaran penderita baik, oleh karenanya ibu dapat mengetahui hampir semua proses persalinan
b. Pada anestesi umum Ļ
Pulihnya kesadaran oleh ahli telah diatur, dengan memberikan oksigen, menjelang akhir operasi. 2.Mengukur dan memeriksa tanda¡Vtanda vital
a. Pengukuran Ļ
Kaji tanda¡Vtanda vital setiap 5 menit sampai stabil, kemudian setiap 15 menit selama satu jam, kemudian setiap 30 menit selama 8 jam.
ľ Tensi, nadi, temperature dan pernapasan.
10
ľ Keseimbangan cairan melalui produksi urin, dengan perhitungan Ļ
„h Produksi urine normal 500- 600 CC
„h Pernapasan 500- 600 CC
„h Penguapan badan 900- 1000 CC
ƒæ Pemberian cairan pengganti sekitar 2000¡V2500 CC dengan perhitungan 20 tetes per menit [= 1 CC/ menit].
ľ Infus setelah operasi selitar 2 x 24 jam.
b. Pemeriksaan Ļ
ľ Paru Ļ
„h Kebersihan jalan napas.
„h Ronki basah; untuk mengetahui adanya edema perut.
ľ Bising usus menandakan berfungsinya usus [dengan adanya flatus].
ľ Perdarahan lokal pada luka operasi.
ľ Konstraksi rahim; untuk menutup pembuluh darah.
„h Perdarahan per vaginam.
o Evaluasi pengeluaran lokhia.
o Atonia uteri meningkatkan perdarahan.
o Perdarahan berkepanjangan.
Profilaksis antibiotika Infeksi selalu diperhitungkan dari adanya alat yang kurang steil, infeksi asendens karena manipulasi vagina, sehingga pemberian antibiotika sangat penting untuk menghindari terjadinya sepsis sampai kematian. Pertimbangan pemberian antibiotika :
- Bersifat profilaksis
- Bersifat terapi karena sudah terjadi infeksi
- Berpedoman pada hasil tes sensitifitas
- Kualitas antibiotika yang akan diberikan
- Cara pemberian antibiotika
11
Yang paling tepat adalah berdasarkan hasil tes sentifitas, tetapi memerlukan waktu 5-7 hari, sehingga sebagian besar pemberian antibiotika dengan dasar ad juvantibus. Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam :
„h Ampisilin 2 gr IV setiap 6 jam
„h Ditambah gentamicin 5 mg/kg BB IV setiap 24 jam
„h Ditambah metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam
4. Perawatan luka insisi Luka insisi dibersihkan dengan larutan desinfektan lalu ditutup dengan kain penutup luka secara periodik luka dibersihkan dan diganti Jahitan diangkat pada hari ke 6-7 pst operasi diperhatikan apakah luka sembuh atau dibawah luka terdapat eksudat Jika luka dengan eksudat sedikit, ditutup dengan band aid operatif dressing Jika luka dengan eksudat sedang ditutup dengan regal filmatedswabs atau pembalut luka lainnya Jika luka dengan eksudat banyak, ditutup dengan surgipad atau dikompres dengan cairan suci hama lainnya, sedangkan untuk memberikan kenyamanan bergerak bagi penderitanya sebaiknya dipakai gurita 5. Mobilisasi penderita Konsep mobilisasi dini tetap merupakan konsepsi dasar, sehingga pulihnya alat vital dapat segera tercapai
a. Mobilisasi fisik
„h Miring kekanan dan kekiri dimulai ¡V1 jam pasca operasi (setelah sadar)
„h Hari kedua penderita dapat duduk selama 5 menit dan hari 3-5 mulai belajar berjalan
„h Infus dan kateter dibuka pada hari kedua atau ketiga
b. Mobilisasi usus
„h Setelah hari pertama dan keadaan baik, penderita boleh minum
12
„h Diikuti dengan makan bubur saring dan pada hari kedua-ketiga makan buur
„h Hari keempat-kelima nasi biasa dan boleh pulang
6. Nasehat Pasca Operasi Hal-hal yang dianjurkan pasca operasi antara lain:
a. Dianjurkan jangan hamil kurang lebih satu tahun dengan memakai alat kontrasepsi
b. Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antanatal yang baik
c. Bersalin di rs yang besar
d. Apakah persalinan berikutnya harus dengan sectio caesarea tergantung diindikasi sectio caesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya.
13
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SECTIO CAESARIA
A. PENGKAJIAN
Menurut Doengoes (2001) fokus pengkajian pasien dengan sectio caesarea, yaitu ;
1. Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml
2. Integritas ego
Dapat menunjukkan labilitas emosi dari kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri. Klien atau pasangan dapat memiliki pertanyaan atau peran dalam pengalaman kelahiran, mungkin mengekspresikan ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru
3. Eliminasi
Kateter mungkin terpasang, urine jernih pucat, bising usus tidak ada/jelas
4. Makanan atau cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal
5. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensori di bawah tingkat anastesi spinal epidural
6. Nyeri atau ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber , misalnya : trauma bedah atau insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih, atau efek-efek anestesi
7. Pernafasan
Bunyi paru jelas dan vaskuler
8. Seksualitas
Kontraksi kuat dan terletak umbilikus, aliran lokhea sedang dan berlebihan/banyak
9. Pemeriksaan diagnostik
14
Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit (hb/ht): mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. Sedangkan urinalisis : kultur, urine, darah vaginal dan lokhea. Pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan individu
B. FOKUS INTERVENSI
Menurut Doegoes (2001) Carpeniti (2000) dan Nanda (2001) :
1. Nyeri akut berhubungan dengan diskontiunitas jaringan sekunder terhadap insisi bedah.
Tujuan : nyeri berkurang Hasil yang diharapkan :
„h Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri dengan tepat
„h Melaporkan/mengungkapkan nyeri berkurang
„h Klien tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat
Intervensi :
a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya dan skala nyeri
Perhatikan isyarat verbal dan non verbal pasien Rasional : Pasien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung, menentukan tingkat nyeri, mengetahui berat ringannya penderitaan pasien dan memudahkan untuk menentukan tindakan
b. Kaji tanda-tanda vital
Rasional : nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi meningkat. Analgesia dapat menurunkan tekanan darah
c. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
Rasional : pengalihan perhatian ke hal-hal yang menyenangkan dapat meningkatkan rasa kenyamanan dan mengurangi nyeri
d. Ubah posisi klien senyaman mungkin
15
Rasional: merelaksasikan otot, meningkatkan kenyamanan, serta meningkatkan rasa sejahtera.
e. Kolaborasi
Berikan analgetik sesuai indikasi Rasional : meningkatkan kenyamanan karena mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan mobilitas
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, prosedur invasif
Tujuan : tidak ada tanda-tanda infeksi Kriteria hasil/hasil yang diharapkan :
„h Bebas dari infeksi, tidak demam dan tidak ada tanda-tanda infeksi lainnya
„h Menunjukkan tanda awal penyembuhan (misalnya penyatuan tepi-tepi luka)
„h Karakter lokhea normal dan urine jernih kuning pucat
Intervensi :
a. Kaji/monitor tanda-tanda vital (ttv)
Rasional : perubahan ttv terutama suhu tubuh dapat disebabkan oleh terjadinya proses infeksi, sehingga merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh
b. Anjurkan dan gunakan teknik cuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas kotoran, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat
Rasional : membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi
c. Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan, lepaskan balutan, sesuai indikasi
Rasional : balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran caesarea melindungi luka dari cidera atau kontaminasi. Rembesan dapat menandakan hematoma, gangguan penyatuan jahitan. Pengankatan balutan memungkinkan insisi mengering dan meningkatkan penyembuhan
16
Inspeksi insisi terhadap penyembuhan, perhatikan kemerahan, edema, nyeri, eksudat, atau ganguan penyatuan Rasional : membantu menghilangkan media pertumbuhan bakteri, meningkatkan hygiene
d. Rawat luka dan teknik steril
Rasional : mencegah pertumbuhan bakteri
e. Kolaborasi
Rasional : perlu untuk mematikan mikroorganisme Berikan antibiotik khusus untuk infeksi yang teridentifikasi
3. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan pembekakan payudara, pembendungan ASI
Tujuan : menyusui dengan efektif Kriteria hasil/hasil yang diharapkan :
„h Asi keluar lancar
„h Payudara tidak bengkak
„h Tidak terjadi pembendungan asi
Intervensi
a. Tanyakan pada ibu tentang riwayat menyusui
Rasional : agar dapat memberikan intervensi selanjutnya
b. Jelaskan pada ibu pentingnya asi bagi bayi
Rasional : memotivasi ibu agar proses menyusui efektif dapat berlangsung baik
c. Jelaskan dna anjurkan pada ibu tentang pentingnya perawatan payudara. Lakukan perawatan payudara, anjurkan melakukan 2 x sehari.
Rasional : perawatan payudara dapat melancarkan asi dan mengurangi pembengkakan payudara
d. Kaji keadaan payudara
Rasional : identifikasi dini efektif untuk melakukan intervensi yang tepat
e. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara teratur
17
Rasional : rangsangan isapan bayi dapat merangsang keluarnya asi
f. Anjurkan ibu untuk makan makanan bergizi
Rasional :makanan yang bergizi dapat menghasilkan ASI yang baik
g. Berikan alternatif posisi yang aman saat menyusui
Rasional : posisi yang tepat memberikan kenyamanan kepada ibu dan bayi
4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan sekunder terhadap insisi bedah
Tujuan : tidak terjadi kkuarangan volume cairan Kriteria hasil/hasil yang diharapkan :
„h Volume cairan adekuat, hb/ht dalam batas normal
„h Perdarahan minimal kurang dari 500 cc
Intervensi :
a. Hitung dan catat balance cairan selama 24 jam
Rasional : mengidentifikasi dan mengontrol balance cairan
b. Monitor ttv
Rasional : hipotensi, takikardi, keadaan kulit dan mukosa mulut menandakan tanda-tanda syok hipovolemik
c. Tetap dampingi pasien aelama dalam keadaan kekurangan cairan (volum cairan)
Rasional : pengawasan yang ketat dapat memudahkan intervensi selanjutnya
d. Kolaborasi
„h Beri cairan parenteral sesuai indikasi
Rasional : mengganti cairan yang hilang untuk mempertahankan balance cairan
„h Pantau hasil laboratorium (hb/ht)
Rasional : membantu dalam menentukan jumlah kehilangan cairan
18
5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan dan ketidaknyamanan fisik
Tujuan : klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri Kriteria hasil/hasil yang diharapkan :
„h Pasien dapat mendemonstrasikan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
„h Mengidentifikasi/menggunakan sumber- sumber yang ada.
Intervensi:
a. Kaji keadaan fisik dan psikologis klien.
Rasional: Adanya perubahan dan kesejahteraan fisik atau emosional dapat memundurkan asumsi peran otonom pada perawatan diri.
b. Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari- hari.
Rasional: Membantu dalam mengantisipasi atau merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual.
c. Berikan bantuan seperlunya sesuai kebutuhan.
Rasional: Memperbaiki harga diri, meningkatkan kemandirian dan pemulihan, serta meningkatkan perasaan sejahtera.
d. Berikan umpan balik positif untuk setiap usaha yang dilakukan pasien.
asional: Meningkatkan kemandirian dan mendorong pasien untuk berusaha.
e. Berikan dukungan dan beri waktu cukup untuk melakukan aktifitas untuk pemenuhan kebutuhan.
Rasional:Pasien merasa lebih bersemangat dalam melakukan aktifitasnya dan merasa lebih leluasa.
6. Resiko konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus
Tujuan : tidak ada keluhan dalam bab Kriteria hasil/hasil yang diharapkan :
19
„h Mendapatkan kembali pola eliminasi dalam 4 hari postpartum, yaitu bab 1-2 kali per hari
„h Kembalinya fungsi usus normal (bising usus kurang lebih 5-30 kali per menit, flatus)
Intervensi :
a. Auskultasi terhadap adanya bising usus pada keempat kuadran
Rasional : menentukan kesiapan terhadap pemberian makanan per oral dan kemungkinan terjadinya komplikasi
b. Palpasi abdomen. Perhatikan adanya distensi abdomen
Rasional : menandakan pembentukan gas dan akumulasi atau kemungkinan ileus paralitik
c. Anjurkan masukkan cairan per oral dan diit makanan tinggi serat
Rasional : cairan yang adekuat dan diit tinggi serat merangsang eliminasi dan mencegah konstipasi
d. Anjurkan pasien untuk ambulasi dini
Rasional : ambulasi dini meningkatkan peristaltik dan pengeluaran gas sehingga menghilangkan/mengurangi nyeri
e. Kolaborasi
„h Berikan analgesik 30 menit sebelum ambulasi
Rasional : memudahkan kemampuan untuk ambulasi dapat menurunkan aktifitas usus
„h Berikan pelunak feses
Rasional : melunakkan feses, merangsang peristaltik dan mengembalikan fungsi usus
7. Inadekuat mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pembedahan
Tujuan : Mobilitas fisik adekuat Kriteria hasil/ hasil yang diharapkan : . Tidak ada kontraktur . . Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
20
Intervensi:
a. Kaji tanda-tanda vital dan kebutuhan aktivitas.
Rasional : Aktivitas dapat mempengaruhi perubahan respon autonomic meliputi perubahan pada tekanan darah, nadi dan pernafasan.
b. Anjurkan mobilisasi secara bertahap.
Rasional : Meningkatkan sirkulasi ke seluruh tubuh dan melatih kemandirian.
c. Bantu dalam melakukan mobilisasi sesuai dangan kebutuhan.
Rasional : Mobilisasi didi dan dan menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ.
d. Ajarkan rentang gerak aktif ¡V pasif.
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot, mempertahankan gerak sendi dan mencegah kontraktur.
e. Anjurkan klien banyak istirahat dan atur posisi pasien senyaman mungkin.
Rasional : Menjadikan pasien lebih rileks dan memaksimalkan istirahat.
f. Libatkan keluarga dalam mobilisasi pasien.
Rasional : Menciptakan hubungan kerja sama antara tim kesehatan dangan keluarga dalam proses penyembuhan.
g. Motivasi klien untuk ambulasi, minimal 3 kali
Rasional : Ambulasi secara teratur dapat meningkatkan penyembuhan.
8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, miss interpretasi informasi.
Tujuan : Tingkat pengetahuan pasien meningkat. Kriteria hasil/ hasil yang diharapkan : . Pasien mengungkapkan pemahaman, perubahan fisiologi. Intervensi : a. Kaji kesiapan klien dan motivasi untuk belajar.
21
Rasional : Periode pascanatal dapat merupakan pengalaman positif bila penyuluhan yang tepat diberikan untuk membantu mengembangkan pertumbuhan ibu, maturasi dan kompetensi. b. Bantu klien untuk mengidentifikasi kebutuhan. Rasional : Karena memerlukan waktu untuk bergerak dari fase taking in ke taking hold dimana penerimaan dari kesiapannya ditingkatkan dan ia secara emosional dan secara fisik siap untuk belajar informasi baru untuk memudahkan peleksanaan peran barunya. c. Diskusikan perubahan fisik dan psikologis yang normal. Rasional : Status emosional karena mungkin kadang¡Vkadang lebih pada saat ini dan sering di pengaruhi oleh kesejahteraan fisik. d. Identifikasi sumber¡Vsumber yang tersedia. Rasional : Meningkatkan kemandirian dan memberikan dukungan untuk adaptasi pada perubahan multipel.
C. EVALUASI
1. Diagnosa keperawatan I
o Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri dengan tepat.
o Mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.
o Klien tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat.
2. Diagnosa keperawatan II
o Klien mendemonstrasikan cara untuk meningkatkan penyembuhan
o Bebas dari infeksi, tidak demam dan tidak ada tanda-tanda infeksi lain
o Menunjukan tanda awal penyembuhan [penyatuan tepi- tepi luka].
o Karakter lokhea normal dan urine jernih kuning pucat.
3. Diagnosa keperawatan III
o ASI keluar dengan lancar
o Pasien merasakan payudara lebih lunak dan tidak terasa tegang, sehingga tidak terjadi pembendungan ASI
22
4. Diagnosa keperawatan IV
o Volume cairan adekuat.
o Hb/Ht dalam batas normal.
o Perdarahan minimal kurang dari 500 cc.
5. Diagnosa keperawatan V
o Pasien dapat mendemonstrasikan teknik¡Vteknik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
o Mengidentifikasi/menggunakan sumber- sumber yang ada.
6. Diagnosa keperawatan VI
o Mendapatkan kembali eliminasi dalam 4 hari postpartum yaitu 1- 2 kali per hari.
o Kembalinya fungsi usus normal.
7. Diagnosa Keperawatan VII
o Tidak adanya kontraktur
o Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi mungkin.
o Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
8. Diagnosa keperawatan VIII
o Pasien mengungkapkan pemahaman terhadap informasi yang telah diberikan.
23

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E, Moorhouse, Mary Frances, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Dokumentasi Perawatan Klien, ed. 3, EGC, Jakarta. Friedman, 1998, Seri Skema Diagnosis Dan Penatalaksanaan Obstetri, ed. 2, Binarupa Aksara Jakarta. Hamilton, Persis Mary, 1995, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, EGC , Jakarta Manuaba, Ida Bagus Gede, 1999, Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Dokter Umum, EGC, Jakarta. Martius, Gerhand, 1995, Bedah Kebidanan Martius, EGC, Jakarta. Mochtam, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri , ed.2,EGC Jakarta. Padjajaran, Universitas, 1995, Obstetri Operatif, Elstar Offset, Bandung. Saifuddin, A.B., 2002 Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Saifuddin, A.B., 2005, Ilmu Kandungan, Edisi Ketiga , Cetakan Ketujuh, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Wiknjosastro, Hanifa, 1994, Ilmu Bedah Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Download File PDFnya dibawah ini



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di My Documentku

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda Copy-paste di blog or web teman-teman semua, Jangan Lupa di Like or commentnya ya...
Terima kasih

 
© 2010-2012 My Documentku