Tampilkan postingan dengan label Laboratorium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laboratorium. Tampilkan semua postingan

Download Kamus Istilah Keperawatan gratis

Pada sore nan cerah di langit Purwokerto, saya akan sharing tentang Ebook Keperawatan yang pertama saya buat dari pada Stress mikirin UAP yang bikin Otak syok berat, akral dingin, sampai peningkatan Tekanan Darah. Ebook ini masih jauh dari kesempurnaan dan saya menyarankan hanya untuk tambahan materi atau pedoman kuliah teman-teman jangan samakan dengan Dorland.hehehe

Tapi bila teman-teman minat bisa sedot aja langsung ke TKP

Tunggu 5 detik klik Skip di pojok kanan atas

WOW!!! KAMUS KEDOKTERAN GRATIS KLIK DISINI


Transfusi Darah

Transfusi Darah 
Oleh :
Diana Kusumawati S.Kep.Ns
TERAPI DARAH DAN KOMPONEN DARAH
 A. Syarat-syarat pendonor darah :
Berat badan harus lebih dari 50 Kg untuk donor standart 450 ml. donor yg berat badannya kurang dari 50 kg hanya boleh mendonorkan sesuai dgn berat badannya
Suhu tidak boleh melebihi 37,5 C
Denyut nadi harus teratur antara 50 smp 100 x/I
Tekanan sistol harus diantara 90 -180 mmHg
Kadar Hb pd wanita paling tidak 12,5 gr/dl dan pria 13,5gr/dl
Usia minimal 18 thn Karena pertimbangan kebutuhan besi yg tinggi pada akil balik .
batas atas 65 thn karena meningkatnya insiden penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler

Pendonor harus dalam keadaan sehat dan harus bebas dari faktor dibawah ini :
Transfusi Darah 
Riwayat hepatitis sekarang atau terdahulu / riwayat kontak dekat dgn pasien hepatitis / dialisis dlm 6 bln terakhir
Riwayat sifilis dan malaria yg tidak diobati, karena penyakit ini dapat ditularkan melalui transfusi meskipun sdh setahun sebelumnya. orang yg sdh bebas gejala dan bebas terapi selama 3 thn setelah menderita malaria diperbolehkan menjadi donor
Riwayat atau terdapat bukti penyalah gunaan obat dgn cara menyuntik sendiri karena banyak pengguna obat intravena adalah karier hepatitis dan resiko terjadi AIDS tinggi pada kelompok ini
Riwayat kemungkinan pajanan HIV seperti : melakukan sex anal, kontak sex dgn bannyak pasangan dan pengguna obat intravena
Infeksi kulit karena kemungkinan mengkontaminasi jarum flebotomi
Riwayat asma, urtikaria, alergi obat karena hipersensitif dapat ditransmisi secara pasif ke resipien
Kehamilan dalam 6 bulan terakhir karena kebutuhan nutrisi yg tinggi pada ibu hamil
Riwayat terpajan penyakit menular dalam 3 minggu karena ada resiko penularan ke resipien
Riwayat donor darah dlm 56 hari terakhir

Transfusi Darah


B. Darah dan Komponen Darah
1unit darah yang telah diambil dari donor mengandung sekitar 450 ml darah dan 60-70ml anti koagulan. Pengawet yg berfungsi sbg anti koagulan dan menyediakan gula untuk metabolisme sel darah merah
Darah dapat disimpan pada 1- 6 Derajat Celsius di Bank darah selama 21-35 hari
Tergantung jenis pengawet atau anti koagulan yg dipakai
Setelah itu harus dibuang karena sdh banyak sel darah merah yg mati secara invivo
Darah yang sudah tersimpan lebih dari 24 jam tidak lagi mengandung trombosit
Macam-macam transfusi
Transfusi sel darah merah
Transfusi plasma
Transfusi albumin
Transfusi darah masih
Sebagai penggantian volume darah total penderita yang disimpan kurang dari 24 jam
Transfusi pada bagian kedaruratan medik misal: kecelakaan, ruang pembedahan / bagian kebidanan jika penderita mengalami perdarahan hebat, syok hipovolemik akut
Indikasi untuk transfusi sel darah merah
Kehilangan darah yg akut
Jika darah hilang karena trauma/pembedahan,maka penggantian sel darah merah maupun volume darah dibutuhkan
Jika lebih dari separuh volume darah hilang, maka darah lengkap yg harus diberikan
Jika < dari separuh maka konsentrasi sel darah merah dan plasma yg diberikan
Transfusi darah pra bedah
Kadar Hb 80 gr/l atau kurang maka penderita harus ditransfusi, bila kadar Hb antara 80 dan 100 gr/l setiap penderita harus dinilai secara perorangan sebelum keputusan untuk memberikan transfusi dilakukan
c. Anemia defisiensi besi
Penderita defisiensi besi tidaka dapat ditransfusikan kecuali memang dibutuhkan untuk pembedahan segera / yang telah gagal berespon terhadap pengobatan dengan dosis terapeutik penuh besi peroral
d. Anemia yg berkaitan dengan kelainan menahun
Pada penderita penyakit keganasan, artritis rematoid

Transfusi Darah


e. Gagal ginjal
Anemia berat yg berkaitan dgn gagal ginjal seharusnya diobati baik dgn transfusi sel darah merah maupun dgn eritropoitin
f. Gagal sumsum tulang
Penderita gagal sumsum tulang karena leukimia, pengobatan sitostatika atau infiltrasi keganasan akan membutuhkan bukan saja sel darah merah, namun juga komponen darah yg lain
g. Penderita yg tergantung transfusi
Penderita sindrom talasemia berat, anemia aplastik
h. Penyakit hemolitik neonatus
Jika neonatus mengalami hiperbilirubinemia berat atau anemia
i. Indikasi lain untuk transfusi
Malaria berat, septikemia meningokokus

Uji Agent padaTransfusi
HBSAg Untuk mengetahui Penyakit hepatitis
Anti body terhadap HIV
Uji Mikrobiologi mencakup penyaringan selektif titer tetanus
Uji Lain yaitu : uji serologis untuk memastikan golongan darah (A,B atau O)
Prosedur Pemberian Transfusi Darah
A. Pra prosedur
Periksa kembali apakah klien telah menandatangani inform consent
Teliti apakah golongan darah pasien telah sesuai
Lakukan konfirmasi bahwa transfusi darah memang telah diresepkan
Jelaskan prosedur pada pasien

5. Saat menerima darah atau komponen darah :
Periksa ulang label dgn perawat lain untuk meyakinkan bahwa golongan ABO nya sesuai dgn catatan
Periksa adanya gelembung darah dan warna abnormal serta pengkabutan
Periksa jumlah dan jenis darah donor sesuai dgn catatan resipien

Periksa identitas pasien dgn menanyakan nama dan memeriksa gelang identitas
Periksa ulang jumlah kebutuhan dan jenis darah resipien
Periksa TTV sbg dasar perbandingan tanda vital selanjutnya

B. Pelaksanaan
Pakai sarung tangan
Catatlah tanda vital sebelum memulai transfusi
Jangan sekali menambahkan obat ke dalam darah atau produk darah
Yakinkan bahwa darah sudah harus diberikan dlm 30 menit setelah dikeluarkan dari pendingin
Bila darah harus dihangatkan,maka hangatkan dlm penghangat darah in – line dgn sistem pemantauan
Gunakan jarum ukuran 19 atau lebih pd vena
Gunakan selang khusus yg memiliki filter darah untuk mennyaring bekuan fibrin dan partikel lainnya

Untuk 15 menit pertama berikan transfusi secara perlahan tidak lebih dari 5 ml/ menit
Lakukan observasi pasien dengan cermat akan adanya efek samping
Apabila tdk ada efek samping dlm 15 mnt pertama, naikkan kecepatan aliran kecuali pasien beresiko kelebihan sirkulasi
Observasi pasien sesering mungkin selama pemberian transfusi
Perhatikan bahwa waktu pemberian tdk melebihi 4 jam karena akan terjadi peningkatan resiko proliferasi bakteri
Siagalah thd adanya reaksi transfusi
Reaksi Transfusi
Suatu reaksi yg dpt terjadi setelah pemberian darah, komponen – komponen darah atau berbagai cairan secara intravena
Reaksi yg terjadi dapat berupa reaksi pirogen, reaksi alergi, reaksi hemolitik atau transmisi penyakit infeksi

1.Reaksi pirogen
Ditandai dengan : pasien kedinginan /menggigil diikuti demam biasanya 1jam setelah transfusi.biasanya menggigil akan menghilang setelah 15-30 menit, sedangkan demam akan menetap dlm sampai beberapa jam. Reaksi ini terjadi oleh karena sensitivitas thd sel darah putih, trombosit atau protein plasma donor
Penangananya : pasien diselimuti dan bila mungkin berikan air hangat atau obat anti piretik

2.Reaksi alergi
Reaksi hipersensitivitas dari pasien thd komponen yg tdk diketahui dari donor darah. Reaksi ini sering terjadi dan dihubungkan dgn kemungkinan transmisi antibodi dari donor. Klien mengalami urtikaria (biduran)/gatal-gatal menyeluruh yg ditransfusikan atau transfer pasiv antibodi dari donor yg bereaksi dgn berbagai antigen yg dipaparkan kpd resipien.
b. Penatalaksanaan :
Transfusi segera dihentikan
Reaksi ringan dan berespon thd antihistamin
Reaksi berat diberikan epinefrin parenteral
Reaksi ini dapat dicegah dgn pemberian anti histamin sebelum transfusi
3. Reaksi hemolitik
Reaksi ini disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah, inkompatibilitas plasma atau serum dan pemberian cairan non isotonik.
Transfusi Darah
 Reaksi yg paling berbahaya, terjadi bila darah donor tdk sesuai dgn golongan darah resipien, antibodi dlm plasma resipien akan segera bergabung dgn antigen pada eritrosit donor dan sel tsb sgr mengalami hemolisis baik dlm sirkulasi maupun dlm sistem retikuloendotelial Transfusi Darah. Fase akut ini terjadi dlm 1 jam pertama, kematian dpt terjadi pd hari ke 5 – 14
Ditandai dengan :
Rasa tidak enak dan gelisah
Kesukaran dlm bernafas
Muka menjadi merah (Flusing)
Sesak nafas, tekanan darh menurun
Mual dan muntah – muntah


b. Penatalaksanaan :
Hentikan transfusi
Berikan diuretik
Jika terdapat anuria kemungkinan besar terjadi gagal ginjal

4. Transmisi Penyakit menular
Seperti : hepatitis, malaria, sifilis dan AIDS. Setiap calon donor harus ditanyakan dahulu apakah pasien pernah menderita penyakit tsb dan apakah klien pernah atau baru saja datang dari daerah endemis malaria

Intervensi keperawatan pada reaksi transfusi
Transfusi set dilepaskan, namun jalur intra vena harus tetap diertahankan dgn larutan NS (0,9%)
Kantong darah dan selang disimpan
Gejala ditangani sesuai dengan resep dokter dan tanda vital dipantau terus
Ambil darah pasien untuk pemeriksaan kadar Hb, kultur dan penentuan ulang golongan darah
Sampel urin harus segera dikirim kelaboratorium
Bank darah diberitahu bahwa telah terjadi kecurigaan reaksi transfusi
Reaksi harus dicatat sesuai dgn kebijaksanaan institusi


Analisis Lipid Darah Sebagai Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah


Analisis Lipid Darah Sebagai Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Pendahuluan
Kelainan lipid darah (dislipidemia) telah diakui sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular (PKV) atau aterosklerosis pada umumnya. Analisis lipid darah merupakan salah satu panel pemeriksaan laboratorium yang paling sering diminta dan sudah merupakan bagian penting dari panel atau paket pemeriksaan kesehatan (medical check-up) Dalam perkembangannya telah terjadi pergeseran parameter dan juga cara analisis lipid darah untuk mencapai tingkat ketepatan yang terbaik.
Pada artikel ini akan dibahas perkembangan analisis lipid sebagai upaya deteksi dini penyakit jantung koroner
Perkembangan Lipid sebagai Faktor Risiko PJK
Pada awal sekitar tahun 1960 yang diperiksa adalah lipida total sebagai parameter faktor risiko PJK. Akan tetapi hubungannya (korelasi) dengan kejadian PJK amat lemah. Karena itu parameter yang diperiksa kemudian adalah kolesterol total dan trigliserida. Berdasarkan studi epidemiologis didapatkan bahwa penurunan kadar kolesterol total sebanyak 1% akan menurunkan angka kejadian PJK dengan 2-3 %. (NCEP-ATP III, 2001; Ginsberg HN & Goldberg IJ, 2001; Assmann G, 1982). Demikian pula kadar trigliserida 209-315 mg/dL meningkatkan angka kejadian PKV sebanyak lebih dari 5x dibandingkan dengan kadar 118-172 mg/dL setelah 40 tahun pada 100 orang laki-laki berusia rata-rata 22 tahun. (Klag MJ, et al., 1993). Rekomendasi NCEP – ATP III pada tahun 2001 untuk kolesterol total optimal bila < 200 mg/dL, dan trigliserida < 150 mg/dL.
Sejalan dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi pemeriksaan maka dengan dikenalnya lipoprotein, sejak tahun 1970-an, telah diperiksa beta-lipoprotein yang kemudian pada akhir 1970-an diikuti dengan low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL), dalam hal ini yang diperiksa adalah kandungan kolesterolnya yaitu kolesterol-LDL dan kolesterol-HDL (LDL-cholesterol dan HDL- cholesterol). Kolesterol-LDL dianggap sebagai kolesterol “jahat” (“bad / evil“) dan kolesterol-HDL dianggap sebagai kolesterol “baik / pelindung” (“good / protective“).
Telah diketahui bahwa LDL dapat masuk menembus endotel pembuluh darah nadi dan kemudian mengalami perubahan dan akhirnya menunjukkan ditangkap oleh sel makrofag dan membentuk sel busa. Sudah banyak studi epidemiologis yang menunjukkan bahwa LDL merupakan faktor utama aterogenik, dimana peningkatan kadar kolesterol-LDL memberikan angka kejadian PKV. Kadar kolesterol-LDL 170 mg/dL dibandingkan dengan kadar 100 mg/dL memberikan resiko PKV hampir 3x lipat. (Sharrett AR, et al. 2001). Penurunan kadar kolesterol-LDL sebanyak 1,0 mg/dL akan menurunkan kejadian PKV sebanyak 1 % juga. Menurut rekomendasi NCEP-ATP III, berdasarkan faktor risiko ganda (multiple risk factors) maka bila kadar sasaran kolesterol-LDL didasarkan pada kategori risiko PJK dan ekivalen PJK maka sasaran kolesterol-LDL adalah < 100 mg/dL, bila faktor risiko ganda (2+) maka sasaran < 130 mg/dL dan bila 0-1 faktor risiko ganda maka sasaran < 160 mg/dL.
HDL dianggap mempunyai daya pelindung, anti aterogenik. Mekanisme yang diajukan adalah bahwa HDL mengangkut kolesterol dari sel kembali ke hati (jalur angkutan baik kolesterol = reverse cholesterol transport), mencegah pembentukan sel busa (Miyazaki A et al. 1992), menghambat molekul adhesi yang memungkinkan monosit masuk ke bawah sel endotel dinding arteri, menghambat perubahan oksidatif oleh LDL (Mackness MI et al., 1993; Cockerill GW et al., 1995). Kadar kolesterol-HDL rendah dianggap kurang baik / risiko tinggi dan kenaikan kadar kolesterol-HDL sebanyak 1.0 mg/dL dianggap sesuai dengan penurunan kejadian PKV sebanyak 2% pada laki-laki dan 3% pada perempuan. (Framingham Study: Kannel WB. 1993; Gotto A & Pownall H, 1999; Gordon D et al., 1989 dikutip oleh Zhu JR, 2001). Walaupun kolesterol-LDL terendah, kolesterol-HDL rendah juga masih tetap merupakan prediktor bebas terhadap PKV. (Gordon T et al., 1977). Berdasarkan rekomendasi dari NCEP ATP III tahun 2010, ditetapkan nilai rujukan untuk kadar kolesterol-HDL adalah 40 mg/dL. (NCEP-ATP III, 2001)

Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini

 




Lipoprint : Cara Untuk Analisis Pola Lipid Darah


Lipoprint : Cara Untuk Analisis Pola Lipid Darah
Pendahuluan
Pada beberapa tahun terakhir ini telah diperkenalkan cara untuk memisahkan subfraksi lipoprotein dengan metode elektroforesis menggunakan jel poliakrilamid (polyacrylamide gel). Salah satu cara adalah dari Quantimetrix yang dikenal sebagai Lipoprint. Dengan cara ini dapat dipisahkan 12 fraksi, dimana ada 7 subfraksi LDL. Dengan demikian dari pola subfraksi lipoprotein yang dihasilkan dapat ditafsirkan dan dilaporkan apakah risiko rendah atau tinggi.
Pada makalah ini akan dibahas secara singkat sistem Lipoprint, subfraksi lipoprotein, serta penafsirannya.
Sistem Elektroforesis Lipoprint
Sistem ini terdiri dari perlatan elektroforesis, media transport jel poliakrilamid (polyacrylamide gel electrophoresis = PAGE), sistem pencacah densinometer, perangkat lunak Lipoprint, pencetak gambar Subfraksi LipoPrint, dan formulir laporan.
Fraksi-fraksi dan subfraksi lipoprotein dipisahkan secara elektroforesis, suatu cara pemisahan protein, lipoprotein dan glikoprotein dipisahkan secara elektroforesis, suatu cara pemisahan muatan listrik dan ukuran partikel. Media transport PAGE memungkinkan pemisahan menjadi 12 fraksi. Setelah didapat hasil berupa elektrofrogram, dilakukan proses pewarnaan dan pencucian (destaining) sebagaimana prosedur pemeriksaan elektroforesis biasa. Didapatkan sejumlah hasil fraksionasi yang telah diwarnai. Setelah itu dilakukan pengukuran dengan alat pencacah densitometer. Hasil pencacahan dengan suatu perangkat lunak diubah menjadi gambar fraksi dan subfraksi berwarna-warni. Seluruh pengerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan lebih mudah daripada cara baku emas ultracentrifuge.
Penafsiran Subfraksi Lipoprotein Lipoprint
Pada carik (strip) elektroferogram seluruhnya dapat dilihat 12 pita yang mewakili lipoprotein densitas amat rendah (very-low density lipoprotein = VLDL) (1 pita), (Mid = LDL) (3 pita), lipoprotein densitas rendah (low density lipoprotein = LDL) (7 pita subfraksi), dan lipoprotein densitas tinggi (high density lipoprotein = HDL) (1 pita).
Yang menjadi perhatian utama adalah subfraksi LDL, yaitu subfraksi LDL-1 sampaidengan LDL-7. Subfraksi LDL-1 dan LDL-2 mewakili subfraksi LDL partikel besar, subfraksi LDL-3, LDL-4, LDL-5, LDL-6 dan LDL-7 mewakili subfraksi LDL kecil.
Secara terpisah dilakukan pula penetepan kadar kolesterol total.
Fitur yang didapat dari Lipoprint adalah persentasi (%), kandungan kolesterol dan ukuran besar partikel masing-masing fraksi dan subfraksi. Dapat ditentukan pula fenotrip lipoprotein. Selain itu penafsiran dipermudah dengan adanya garis yang menandakan batas nilai rujukan.
Bila dijumpai peningkatan LDL-7 sampai LDL-3 apalagi bila HDL kurang maka ditafsirkan risiko tinggi (high risk). Bila sebaliknya tiada LDL-3 sampai dengan LSDK-7, subfraksi LDL-1 dan LDL-2 meningkat serta fraksi HDL cukup tinggi maka ditafsirkan sebagai risiko rendah.
Kesimpulan
Pemeriksaan Lipoprint yang dapat memisahkan sampai 12 fraksi dan subfraksi lipoprotein darah dengan cara elektroforesis merupakan trobosan terhadap metoda baku emas ultracentrifuge yang tidak dapat dilakukan secara rutin. Dengan sistem pelaporan yang dilengkapi dengan fitur untuk membantu penafsiran maka penerima hasil subfraksionasi Lipoprint dapat lebih memahami dan menerima penafsiran (interpretasi).

Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini

 




Proses Penuaan dan Program Anti Penuaan



Pendahuluan
Proses penuaan (aging menyebabkan perubahaan baik anatomis maupun fisiologis yang berakibat didapatkan kemunduran fungsi organ, yang kemudian diikuti oleh penyakit. Oleh karena itu lanjut usia dicirikan dengan kemunduran fungsi organ disertai dengan penyakit jamak (multi organ disease). Ilmu kedokteran anti penuaan (anti-aging medicine) bertujuan dan berperan untuk memajukan kesehatan dan mengurangi penyakit. Dikenal usia kronologis dan usia biologis. Diharapkan usia biologis dapat dipertahankan lebih muda daripada usia kronologis, bahkan berusaha mencapai dan mempertahankan fungsi secara optimum.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan bioteknologi ada banyak cara untuk melaksanakan program anti penuaan, yang meliputi program gaya hidup, intervensi nutrisi, penggunaan hormon, lingkungan, sampai pada pengobatan dengan stream cell, dan lain-lain.
Pada makalah ini dibahas teori tentang proses penuaan, perubahan yang terjadi dan upaya yang dilakukan untuk program anti penuaan dalam kedokteran anti penuaan
PROSES PENUAAN
Untuk dapat mempelajari mengenai bagaimana dapat mencegah proses penuaan maka terlebih dahulu perlu mengetahui dan memahami mengapa dan bagaimana proses penuaan tersebut terjadi. Penuaan biologis disifatkan oleh 2 langkah, yaitu pertama penurunan vitalitas, dan kedua pengingkatan penyakit terkait usia. Oleh karena itu seorang lansia (lanjut usia) dicirikan dengan kemunduran fungsi organ disertai dengan penyakit jamak (multi organ disease). Dikenal banyak penyakit yang terkait usia seperti resistensi insulin, penyakit jantung koroner, stroke, arthritis, penyakit Alzheimer, dementia, kanker dan lain-lain.
Untuk mengukur vitalitas ada parameter vitalitas sehingga penilaian dapat dilakukan secara subyektif dan juga obyektif. 1,2,3
Teori
Ada banyak teori menganai proses penuaan, yaitu antara lain teori degenerasi, metabolik, oksidan-antioksidan, inflamasi, dan gen serta kegagalan sistem.
Pada teori degenerasi dan metabolik penuaan dianggap merupakan proses wajar karena degenerasi dan juga disebabkan perubahan metabolisme. Teori oksidan-antioksidan mengemukakan keseimbangan antara zat prooksidan yang banyak terdapat dari lingkungan (polusi, makanan, dan lain-lain) dan antioksidan yang ada pada tubuh dan juga dari lingkungan (makanan, sayuran dan buah-buahan, makan organik, makrobiotik). Bila keseimbangan terganggu dimana prooksidan melebihi antioksidan maka terjadi perubahan yang merusak sel, apoptosis sampai mengubah kromosom dan menimbulkan kanker. Teori inflamasi menyatakan bahwa (hampir) semua proses penuaan terjadi karena proses inflamasi, sebagai the common soil hypothesis.
Pada teori gen, tepatnya teori keheningan gen (gene silencing theory) dikatakan bahwa penuaan berhubungan dengan keheningan gen-gen yang penting seperti gen penekan tumor (tumor suppressor genes) dan gen-gen pengendali siklus sel, detoksifikasi, dan metabolisme kolesterol. Gen-gen tersebut aktif pada saat janin, kemudian hening. Pada usia 25 tahun gen aktif mencapai kombinasi optimal dari setelah itu masuk ke keheningan kembali. Proses keheningan gen ini bertanggungjawab pada perubahan hormon pada penyakit dan kanker. Dengan mengembalikan dan mengaktifkan gen-gen tersebut maka proses penuaan dapat dicegah dan dipulihkan.
Teori baru adalah teori kegagalan sistem atau reliability theory of aging. Pada teori ini kegagalan sistem dan unsur-unsurnya dapat diprediksi, diperkirakan, dimengerti dan dioptimasikan. Terdapat data analisis dan model matematis, dan menghentikan proses penuaan tidaklah melawan alam, tetapi menjaga “old as good as new“. 2,3,4,5,6
Proses Menua
Menjadi tua sudah menjadi proses seumur hidup, yang bahkan sudah dimulai sejak awal kehidupan di masa janin, berkembang ke usia bayi, balita, anak, remaja, dewasa muda, dewasa tua dan sampai akhir kehidupan. Proses menua atau penuaan ditandai dengan kemunduran fungsi organ tubuh dalam mempertahankan homeostasis, walaupun masih di bawah kondisi stres fisiologis. Kegagalan mempertahankan homeostasis tersebut menyebabkan penurunan daya tahan tubuh dan memudahkan timbulnya kerusakan. Terjadi beberapa perubahan, yaitu perubahan komposisi tubuh (meliputi berkurangnya air dan sel padat serta bertambahnya lemak), penularan faal tubuh (penurunan vitalitas, kekuatan otot, kelenturan sensi, massa tulang, fungsi otak, kapasitas kardiovaskular, respiratorik, aktivitas hormon, perubahan kulit), penurunan kemampuan adaptasi terhadap stimulus, peningkatan risiko terkena penyakit, dan akhirnya peningkatan mortalitas. Terlihat perubahan fisik beruapa berkurangnya tinggi dan badan, dan menurunnya fungsi organ. 1,2,7,8
Perubahan dalam proses penuaan dapat dibagi dalam 2 tahap. Pertama pertumbuhan (tumbuh kembangan) sejak masa janin, lahir sampai usia 40 tahun. Kedua tahap penurunan mulai usia 40 tahun. Proses dapat terjadi secara lemabat tetapi dapat juga terjadi secara dipercepat. 9



Selengkapnya Download document lengkap Pdfnya di bawah ini
 




 
© 2010-2012 My Documentku